Matahari baru saja bergeser sepenggalahan ke barat ketika rombongan kecil yang dipimpin oleh Arya Wirawangsa tiba di perbatasan kaldera. Di hadapan mereka, Lautan Pasir Bromo membentang luas bagaikan permadani raksasa berwarna abu-abu kecokelatan. Debu-debu halus berterbangan tipis diterpa angin dataran tinggi, menciptakan ilusi gelombang laut yang tenang namun menyimpan misteri yang mendalam. Udara di tempat itu terasa kering, menusuk kulit, dan berbau belerang yang samar-samar terbawa angin dari arah kawah yang mengepulkan asap putih tipis di kejauhan.
"Kita harus bergerak cepat sebelum cuaca berubah," seru Arya kepada tiga orang pengawalnya. Suaranya sedikit teredam oleh deru angin yang mulai menderu pelan di antara celah-celah bukit pasir.
Arya menunggangi kuda hitam legam yang tampak tegap, sementara di belakangnya, Ki Ranu—seorang sesepuh berilmu tinggi yang wajahnya dipenuhi keriput pengalaman—duduk tenang di atas pedati kecil yang membawa perbekalan serta gulungan naskah kuno. Di sisi kanan dan kiri pedati, dua orang prajurit pengawal pilihan, Darma dan Suta, berjalan mengawal dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Mata mereka tidak pernah lepas memindai sekeliling, menyadari bahwa perjalanan melintasi Lautan Pasir ini terkenal berbahaya bukan hanya karena medan alamnya, melainkan juga karena reputasinya sebagai sarang para penyamun dan sisa-sisa pendekar aliran sesat.
"Anginnya mulai terasa berbeda, Ki," kata Suta berbisik kepada Ki Ranu sambil memegang hulu golok di pinggangnya. "Biasanya angin di sini tidak membawa debu pekat sepagi ini."
Ki Ranu menganggukkan kepalanya perlahan, matanya menerawang menatap ufuk timur laut tempat awan hitam mendadak bergumpal-gumpal dengan cepat. "Alam sedang tidak bersahabat, Suta. Waspadalah. Di tempat di mana pasir bertemu dengan langit, bahaya sering kali datang tanpa diundang."
Baru saja ucapan Ki Ranu berlalu, hembusan angin yang semula bersahabat seketika berubah menjadi amukan badai yang mengerikan. Langit yang tadinya terang benderang dalam hitungan detik berubah menjadi gelap gulita tertutup oleh dinding debu dan pasir yang terbang membumbung tinggi ke angkasa. Badai pasir Laut Pasir Bromo menerjang tanpa ampun, menyapu bersih jarak pandang hingga tidak lebih dari satu langkah kaki. Suara deru angin menderu bagaikan ribuan harimau yang mengaum secara bersamaan, menulikan telinga dan membuat kuda-kuda rombongan meringkik ketakutan, meronta-ronta menolak untuk melangkah maju.
"Tahan kuda kalian! Jangan sampai terlepas!" teriak Arya lantang, berusaha mengatasi suara badai yang memekakkan telinga.
Dia melompat turun dari kudanya dengan sigap, lalu meraba tali kekang untuk menenangkan hewan tersebut agar tidak berlari serampangan di tengah badai yang membutakan mata. Debu-debu tajam menghujam wajah mereka bagaikan ribuan jarum kecil, memaksa setiap orang memicingkan mata rapat-rapat dan menutup separuh wajah mereka dengan kain lilitan kepala.
Di tengah kekacauan itu, indra penciuman Arya menangkap sesuatu yang ganjil. Di antara bau belerang dan debu tanah kering, tercium aroma besi yang berkarat dan hawa pembunuhan yang sangat pekat. Bulu kuduknya meremang. Sinyal bahaya berteriak di dalam kepalanya.
❖ ❖ ❖
"Lindungi pedati!" perintah Arya dengan suara menggelegar, mencabut pedang pusaka dari sarungnya hingga memancarkan kilau tajam yang langsung tersapu oleh kelamnya debu badai.
Belum sempat perintah itu sepenuhnya dilaksanakan oleh Suta dan Darma, bayangan-bayangan hitam melesat cepat di balik tirai badai pasir. Gerakan mereka begitu ringan, seolah-olah berat tubuh mereka tidak berpengaruh di atas hamparan pasir yang gembur. Mereka adalah sekelompok pendekar misterius yang mengenakan topeng kayu berukir wajah raksasa marah—ciri khas para algojo dari Lembah Tengger yang terkenal kejam dan tidak mengenal belas kasihan.
"Keparat! Siapa kalian?!" bentak Darma sambil menghunuskan trisulanya ke depan ketika sesosok bayangan bertopeng menerjang ke arahnya dengan kecepatan kilat.
Trang!
Benturan senjata yang keras berderik nyaring di tengah suara amukan angin. Darma terdorong mundur dua langkah, pasir di bawah pijakannya amblas karena kuatnya tekanan serangan tersebut. Lawannya tidak bersuara, hanya melayangkan tatapan dingin dari balik topeng kayu menyeramkan itu. Tanpa buang waktu, penyerang tersebut melompat mundur dan mengibaskan tangan kanannya.
Sessst!
Sebuah rantai besi berduri meluncur deras menembus badai pasir, mengarah tepat ke leher Darma. Dengan refleks yang luar biasa, Darma menjatuhkan diri ke tanah, membiarkan rantai berduri itu mendesis lewat di atas rambutnya dan mencabik-cabik udara kosong.
"Darma, awasi sisi kiri!" seru Suta memperingatkan rekannya yang lain, sementara dirinya sendiri harus menghadapi dua orang pendekar bertopeng sekaligus yang datang menyerang secara bersamaan dari arah depan pedati.
Suta memutar goloknya dengan jurus Bambu Runcing Membelah Angin, menciptakan lingkaran pertahanan yang rapat untuk menangkis terjangan rantai berduri yang datang silih berganti dari berbagai arah. Senjata rantai milik orang-orang Lembah Tengger itu sangat mematikan; rantai tersebut bisa meliuk-liuk bagaikan ular berbisa, mampu membelit senjata lawan atau merobek daging dalam sekejap mata.
"Fokus! Jangan terpancing pergerakan mereka di dalam badai!" suara Ki Ranu terdengar tenang namun berwibawa dari dalam pedati. Meskipun usianya sudah senja, Ki Ranu tetap duduk tegak dengan tangan memegang tongkat kayu tua yang diukir dengan aksara kuno.
Arya bergerak bagaikan kilat di garda terdepan. Pedangnya berkelebat membelah kabut debu, menciptakan desau angin tajam yang berhasil memukul mundur tiga pendekar bertopeng yang mengeroyoknya. Gerakan Arya sangat padu, memadukan tenaga dalam tingkat tinggi dengan kelincahan gerak kaki yang membuat setiap sabetan pedangnya mematikan.
"Kalian mengincar naskah itu, bukan?" tanya Arya dengan nada dingin, menatap tajam pemimpin kelompok bertopeng yang berdiri di atas gundukan pasir tidak jauh dari posisinya.
Pemimpin bertopeng itu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya tertawa kecil, suara tawanya terdengar serak dan mengerikan di tengah deru badai. Tangannya perlahan merentang, memegang rantai berduri yang jauh lebih tebal dan panjang dibandingkan milik anak buahnya. Ujung rantai itu berlumuran cairan hitam yang beracun, mendesis pelan setiap kali terkena terpaan angin berpasir.
❖ ❖ ❖
Pertempuran di tengah Lautan Pasir semakin menjadi-jadi. Badai pasir yang mengamuk seolah menjadi sekutu bagi para pendekar Lembah Tengger, karena mereka sangat terbiasa bertarung dalam kondisi tanpa jarak pandang. Sebaliknya, rombongan Arya harus berjuang ekstra keras untuk mengenali kawan dan lawan di balik tirai debu yang tebal.