Angin malam di kawasan Gunung Bromo berembus bukan sekadar membawa udara dingin pegunungan, melainkan tusukan es yang mampu membekukan aliran darah dalam tubuh manusia. Di tengah kegelapan malam yang pekat, kabut tebal bergulung-gulung turun menutupi lautan pasir, menyembunyikan ancaman mematikan yang tengah merayap mendekati perkemahan kecil Zahra dan rekan-rekannya.
Zahra terbangun seketika. Naluri bela dirinya yang tajam menangkap kejanggalan pada atmosfer sekitar. Suhu udara mendadak drop secara drastis, jauh di bawah titik normal pegunungan. Di luar tenda, desau angin terdengar berbisik aneh, menyerupai lolongan makhluk gaib dari dasar jurang.
"Chafia, bangun!" bisik Zahra tegas sambil mengguncang bahu sahabatnya.
Chafia membuka mata, kesadarannya pulih dalam sepersekian detik. Gadis itu langsung meraba kantong obat di sisi pinggangnya. "Aku merasakan hawa beracun, Zahra. Ini bukan racun biasa. Ini adalah Hawa Racun Beku milik Pendekar Lembah Tengger."
Sebelum mereka sempat keluar sepenuhnya dari tenda, suara tawa serak memecah kesunyian malam, bergema memantul di dinding-dinding kaldera.
"Kalian memiliki kepekaan yang lumayan, gadis bodoh!" suara itu menggelegar, dingin dan menusuk tulang. "Tetapi malam ini, Lembah Tengger akan menjadi kuburan kalian yang abadi!"
Dari balik kabut putih, belasan sosok berkelebat cepat dengan jubah abu-abu gelap menyatu dengan warna pasir vulkanik. Mereka bergerak tanpa suara, mengandalkan kegelapan untuk mengepung posisi kelompok Zahra. Di garda terdepan, sesepuh berwajah pucat pasi dengan sepasang mata putih menatap tajam ke arah tenda utama. Dialah Ki Ranu, tangan kanan Pendekar Lembah Tengger yang terkenal kejam.
"Bersiap!" seru Zahra lantang, su membangunkan seluruh anggota kelompok yang masih terlelap.
Tanpa aba-aba lagi, Ki Ranu mengangkat kedua tangannya. Dari telapak tangannya, mengepul asap biru kehijauan yang berbau amis bagaikan bangkai di tengah salju. Dengan satu dorongan kuat, ia melepaskan jurus andalannya: Badai Es Neraka.
Gelombang udara keparat itu melesat dahsyat, membawa partikel-partikel es mikroskopis yang dilapisi racun mematikan. Tanpa buang waktu, Zahra dan Chafia bergerak cepat menaburkan bubuk penghangat jalan darah kepada kawan-kawannya, sehingga pengaruh racun dingin musuh tidak mampu melumpuhkan pergerakan mereka.
Bubuk merah menyala itu berhamburan di udara, bereaksi cepat begitu bersentuhan dengan kulit para pendekar yang dilindungi Zahra. Seketika, uap hangat mengepul dari tubuh mereka, menangkal gelombang es Ki Ranu yang menghantam perkemahan.
❖ ❖ ❖
Benturan tenaga dalam menciptakan ledakan kecil di atas pasir vulkanik. Es dan hawa panas beradu, melahirkan desis panjang yang memekakkan telinga. Ki Ranu terpekik tertahan saat melihat serangan pertamanya gagal total.
"Keparat! Kalian masih sempat bertahan?" geram Ki Ranu, wajahnya semakin pucat menahan amarah. "Majulah! Habisi mereka semua tanpa sisa!"
Pasukan Lembah Tengger menyerbu bagai badai salju kelaparan. Pedang-pedang berhawa dingin berkelebat, memantulkan cahaya rembulan yang samar-samar. Chafia tidak tinggal diam. Ia mencabut belati peraknya, melompat anggun menghindari tebasan pertama sambil melemparkan jarum-jarum penawar racun ke arah titik-titik vital musuh.
"Jangan biarkan mereka mendekat!" seru Chafia kepada anggota kelompok yang lain, yang kini sudah sepenuhnya pulih berkat bubuk penghangat jalan darah.
Pertempuran jarak dekat tidak terhindarkan. Logam beradu dengan logam, memercikan bunga api di tengah kegelapan malam Bromo. Zahra sendiri harus menghadapi tiga orang pendekar sekaligus yang mengeroyoknya menggunakan rantai berduri berlapis es. Setiap ayunan rantai itu mendatangkan desiran angin dingin yang membuat kulit terasa melepuh karena beku.
"Ilmu kalian memang hebat, Nona Zahra," ejek salah seorang penyerang bertubuh tegap sambil menyabetkan rantainya secara menyilang. "Tetapi darah kalian akan segera membeku dalam waktu setengah jam ke depan!"