Udara dingin pegunungan merayap menembus jubah kain tebal, membawa aroma belerang pekat yang berpadu dengan kelembapan embun pagi. Di bawah naungan Gunung Bromo, lanskap purba itu tampak terlelap dalam selimut kabut putih yang tebalnya menyerupai lautan awan. Namun, ketenangan semu tersebut seketika pecah ketika angin pagi berembus kencang, menyingkap bayangan-bayangan gelap yang bergerak di antara tebing-tebing terjal.
Azalia menghentikan langkahnya secara mendadak. Tangannya terangkat, memberi isyarat agar Risha di belakangnya turut menahan diri. Indra keenam mereka sebagai pendekar tingkat tinggi telah mendeteksi perubahan sekecil apa pun di alam sekitar. Tidak ada suara burung berkicau. Yang terdengar hanya desau angin berbisik di antara bebatuan vulkanik yang curam.
"Kita sedang diawasi, Risha," bisik Azalia pelan, suaranya hampir tak terdengar di antara deru angin. Matanya menyapu setiap jengkal kabut yang menggantung rendah di hadapan mereka.
Risha merapatkan genggaman pada busur pendek berukir kayu nangka tua di punggungnya. Tatapannya tajam, memindai kegelapan di balik dinding kaldera. "Aku bisa merasakan getaran tanah yang tidak wajar. Langkah kaki mereka diredam dengan teknik pernapasan tingkat tinggi. Mereka bukan prajurit biasa."
Tanpa diduga, sebuah desingan tajam memecah keheningan.
"Lindungi diri!" teriak Azalia.
Dari balik gumpalan kabut tebal yang menyelimuti lereng, para pemanah musuh melepaskan hujan anak panah beracun secara serentak. Langit pagi yang remang-remang mendadak gelap oleh puluhan bayangan kayu runcing yang meluncur deras, membawa kematian di ujung mata panahnya yang berkilat kebiruan karena cairan beracun mematikan.
Namun, Azalia dan Risha bukanlah pendekar kemarin sore yang mudah dijatuhkan oleh serangan kejutan. Dalam sepersekian detik, tubuh keduanya melesat ke udara dengan gerakan ringan tanpa bobot. Dengan mengerahkan ilmu ginkang tingkat tinggi bagai burung camar yang melayang di atas ombak, mereka menembus dinding kabut. Jubah mereka berkibaran ditiup angin pegunungan, menciptakan siluet anggun sekaligus mematikan di tengah badai anak panah.
Di udara, alih-alih panik, Risha menarik dua anak panah sekaligus dari wadahnya. "Rasakan ini!" serunya.
Dengan koordinasi mata dan tangan yang luar biasa sempurna, mereka membalas tembakan musuh menggunakan panah ganda berantai. Busur mereka melengkung sempurna, melepaskan anak panah yang terikat tali tipis namun sangat kuat. Senjata itu melesat berputar, menembus kabut, dan tepat sasaran menumbangkan para pemanah tersembunyi yang mengira posisi mereka aman di balik bebatuan vulkanik.
Suara jeritan tertahan terdengar dari balik semak-semak tebal. Satu per satu, musuh jatuh tersungkur sebelum sempat menarik busur mereka untuk ronde kedua.
❖ ❖ ❖
Pertempuran singkat itu mereda, meninggalkan keheningan yang jauh lebih mencekam. Azalia dan Risha mendarat dengan ringan di atas bongkahan batu besar, napas mereka teratur meski baru saja melakukan gerakan akrobatik yang menguras tenaga. Di hadapan mereka, sisa-sisa pasukan penyergap tergeletak tidak bernyawa, namun kewaspadaan kedua pendekar itu justru semakin meningkat.
"Ini baru kelompok pengintai," ujar Azalia sambil melangkah mendekati salah satu mayat musuh. Ia mengamati lambang pada kain penutup wajah prajurit tersebut. "Lambang bayangan bermata tiga. Pasukan khusus dari Lembah Hitam."
Risha mengerutkan keningnya, ikut berjongkok di samping Azalia. "Lembah Hitam? Untuk apa mereka jauh-jauh datang ke dataran tinggi Bromo? Bukankah wilayah operasional mereka berada di ujung barat Semenanjung?"
"Itulah yang harus kita cari tahu," jawab Azalia serius. Ia berdiri tegak, memandang ke arah jalan setapak sempit yang mendaki punggung bukit. "Kehadiran mereka di sini menandakan bahwa rahasia Kitab Pusaka Bromo telah bocor. Musuh kita tidak tinggal diam."
Tiba-tiba, suara gemuruh kecil terdengar dari arah puncak. Bukan longsoran batu biasa, melainkan suara ribuan kaki yang berlari serempak mendekati posisi mereka. Kabut di kejauhan mulai bergolak, membentuk gelombang kelabu yang bergerak cepat ke arah mereka.
"Mereka mengirim bala bantuan," kata Risha cepat, tangannya kembali bersiap di atas busurnya. "Dan jumlahnya tidak sedikit, Azalia."
"Kita terjepit," sahut Azalia tanpa nada panik sedikit pun. Di sebelah kiri mereka terdapat jurang curam menganga yang dipenuhi kabut pekat, sementara di sebelah kanan adalah dinding tebing batu cadas yang licin. Jalur satu-satunya adalah maju menerobos barisan musuh atau bertahan di celah sempit ini.
"Kita tidak punya banyak waktu untuk berpikir," ucap Risha, menoleh sekilas ke arah sahabatnya. "Apakah kau siap mengambil risiko menembus jantung formasi mereka?"
"Sejak kita meninggalkan perguruan, hidup kita memang adalah sebuah risiko," balas Azalia dengan senyum tipis penuh percaya diri.
❖ ❖ ❖
Gelombang pasukan Lembah Hitam akhirnya menampakkan diri dari balik kabut. Mereka muncul dengan formasi rapat, mengenakan baju zirah hitam legam yang menyatu dengan kegelapan pagi pegunungan. Di barisan depan, para pendekar pedang bermata merah memegang senjata bilah panjang yang memancarkan aura dingin.