Desir angin Lautan Pasir membawa debu-debu vulkanik yang menyesakkan dada, bergesekan dengan bilah-bilah pedang yang berkelebat di bawah terik matahari senja. Suasana di tepian jurang itu sangat tegang, seolah udara pun membeku di antara kepulan debu. Arka mencengkeram hulu pedangnya erat-erat, buku-buku jarinya memutih menahan amarah sekaligus kewaspadaan yang luar biasa. Di hadapan mereka, ratusan prajurit bayaran dari Pasukan Hitam berderap maju bagaikan gelombang pasang yang siap melumat apa saja. Tujuan musuh sangat jelas: mereka ingin menggiring Arka dan kawan-kawan semakin dekat ke bibir jurang terjal Lautan Pasir, tempat di mana tidak ada lagi ruang untuk melarikan diri.
"Jangan biarkan mereka mendesak kita lebih jauh ke belakang!" teriak Arka, suaranya menggelegar memecah bisingnya derap kaki musuh.
"Mereka mencoba menjebak kita di atas batu karang rapuh ini!" balas Fathan, napasnya mulai memburu setelah bertarung tanpa henti sejak siang tadi. Punggungnya basah oleh keringat dan darah segar yang merembes dari luka di bahunya.
Di sebelah Fathan, Galin berdiri dengan kuda-kuda yang sangat kokoh. Pandangan mata Galin tajam menatap barisan depan musuh yang membawa tombak-tombak panjang beracun. Tanpa menunggu aba-aba lebih lanjut, Fathan dan Galin segera menghentakkan kaki mereka secara serentak ke bumi. Dentum suara bagaikan guntur kecil bergemuruh dari bawah tanah, memicu energi dalam yang dahsyat dan langsung merambati permukaan pasir hingga membentuk lapisan pelindung transparan.
"Dinding Karang Teratai!" seru Fathan dan Galin bersamaan.
Seketika itu juga, pilar-pilar tanah dan batu karang yang berpola menyerupai kelopak teratai raksasa mencuat ke atas, melengkung dan saling mengunci untuk melindungi Arka serta kawan-kawan dari desakan ratusan anak buah lawan. Hantaman gelombang serangan pertama dari pasukan musuh menabrak dinding pertahanan itu dengan suara dentuman yang memekakkan telinga. Debu beterbangan, menciptakan kabut tebal berwarna kecokelatan di sekeliling mereka.
"Pertahanan ini tidak akan bertahan selamanya jika mereka terus menghujani kita dengan tenaga dalam tingkat tinggi!" seru Maya dari belakang, tangannya sibuk merapal mantra penyembuh untuk meredakan luka bakar di tangan seorang anggota kelompok mereka.
"Kita harus mencari celah untuk membalikkan keadaan, bukan cuma bertahan!" jawab Arka sambil menepis serpihan batu yang hampir mengenai wajahnya. Matanya mengawasi celah-celah kecil di antara kelopak batu karang teratai yang mulai menunjukkan retakan halus akibat tekanan bertubi-tubi dari luar.
❖ ❖ ❖
Retakan di dinding karang semakin melebar, mengeluarkan suara derak mengerikan yang menandakan bahwa kekuatan Fathan dan Galin hampir mencapai batas maksimalnya. Tekanan dari ratusan musuh di luar seolah menjelma menjadi monster tak kasat mata yang terus mendorong dinding itu menuju tepi jurang yang curam. Di bawah jurang tersebut, kegelapan abadi menanti, siap menelan siapa saja yang terpeleset jatuh.
"Fathan, Galin! Tahan sebentar lagi!" seru Arka, mencoba menyalurkan sebagian tenaga dalamnya ke tanah untuk memperkuat fondasi pertahanan mereka.
"Tenaga kami... hampir habis, Arka!" geram Galin, giginya bergemeretuk menahan beban fisik dan mental yang luar biasa besar. Darah segar perlahan menetes dari sudut bibir Galin akibat tekanan balik dari energi musuh yang terlalu kuat.
Di luar dinding, pemimpin pasukan musuh yang mengenakan topeng besi hitam tertawa nyaring. Suaranya melengking tinggi, mengejek keputusasaan yang mulai merayap di antara kelompok Arka. "Menyerahlah kalian! Lautan Pasir ini adalah kuburan bagi siapapun yang menentang kekuasaan Lembah Hitam!" teriak pemimpin musuh itu, diiringi oleh sorak-sorai anak buahnya yang semakin beringas.
"Jangan dengarkan provokasi mereka!" Fathan memperingatkan, wajahnya memerah padam karena pengerahan tenaga yang terlampau batas. "Fokus pada aliran Chi kalian masing-masing!"
Maya merangkak mendekati Fathan, lalu menempelkan kedua telapak tangannya ke punggung pemuda itu. "Terimalah ini, Fathan! Biar aku bantu memulihkan tenaga dalammu!" bisik Maya penuh konsentrasi.
Seketika, cahaya kebiruan berpendar lembut dari tangan Maya, mengalir masuk ke dalam tubuh Fathan bagaikan air sejuk yang menyiram bara api. Fathan mendengus tertahan, merasakan aliran tenaga barunya bergolak kembali. Dengan sisa-sisa tekad yang membaja, Fathan kembali mengerahkan jurus Dinding Karang Teratai, mempertebal lapisan batu yang hampir runtuh itu dengan kristal-kristal pasir yang mengeras.
Namun, situasi tidak kunjung membaik. Dari arah atas tebing, beberapa pemanah bayaran mulai membidikkan panah berapi ke arah celah-celah pertahanan mereka. Hujan anak panah menyala meluncur deras bagaikan meteor, menghujani kubah karang tempat mereka berlindung. Ledakan-ledakan kecil terjadi di setiap titik benturan, membuat udara di dalam kubah terasa semakin panas dan menyesakkan.
"Kita terjepit di antara dua kekuatan!" teriak Galin dengan napas tersengal-sengal. "Di depan ratusan prajurit, di atas jurang maut, dan sekarang hujan panah dari atas!"
"Kalau begitu, kita hancurkan jalan buntu ini dari dalam!" ujar Arka mantap. Pedangnya ditarik keluar dari sarung, memancarkan kilau keperakan yang tajam dan mematikan.
❖ ❖ ❖
Kondisi di dalam kubah perlahan menjadi semakin kritis ketika lantai batu tempat mereka berdiri mulai bergetar hebat akibat erosi di tepi jurang. Beban ratusan musuh yang mendesak dari satu sisi membuat fondasi tanah tempat mereka berpijak kehilangan keseimbangan. Sebagian batu kerikil mulai runtuh ke dalam jurang yang gelap, menyisakan suara gemuruh batu jatuh yang menggema menakutkan.