Desir angin malam membawa aroma amis darah dan debu pekat yang mengepul di pelataran kuil tua. Di sela-sela denting pedang yang beradu nyaring dan lolongan angin pegunungan, suasana terasa begitu mencekam. Chafia berdiri dengan napas tersengal, ujung jubahnya robek dan ternoda noda gelap yang perlahan mengering. Di hadapannya, Guru Agung—sosok yang selama ini menjadi pilar kekuatan perguruan—terkulai lemah bersandar pada pilar batu utama. Wajah pria tua itu sepucat pualam, dengan urat-urat kebiruan yang merambat jelas di pelipisnya, berdenyut selaras dengan napasnya yang semakin memburu dan berat.
Chafia menoleh sekilas, memastikan tidak ada lagi musuh yang mendekat sebelum ia berlutut di samping sang guru. Tangannya yang gemetar meraih pergelangan tangan pria tua itu, menyalurkan sedikit tenaga dalam untuk membaca denyut nadi yang kian melemah.
"Guru, bertahanlah," bisik Chafia dengan suara bergetar, sarat akan kecemasan yang mendalam.
Guru Agung membuka matanya perlahan. Tatapannya yang dulu tajam dan mampu membuat musuh bertekuk lutut kini tampak sayu, tertutup selaput kelelahan yang luar biasa. "Chafia... anakku... jangan sia-siakan tenagamu untukku. Kondisiku... sudah melampaui batas yang bisa disembuhkan dengan obat biasa."
"Tidak, Guru. Pasti ada cara," balas Chafia cepat, menepis keputusasaan yang hampir merayap ke dalam dadanya. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, lalu kembali menatap sang guru dengan tekad bulat. "Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhmu? Racun apa yang telah merusak pertahanan dalammu sedemikian rupa?"
Guru Agung menarik napas panjang, sebuah batuk kecil yang diiringi percikan darah segar keluar dari sela bibirnya. Ia menggeleng pelan, seolah menimbang apakah rahasia ini harus diungkapkan di tengah situasi yang begitu genting.
"Racun itu..." Guru Agung berhenti sejenak, menelan ludah dengan susah payah. "...bukan racun biasa yang bisa dibeli di pasar gelap atau diracik oleh tabib sembarangan. Racun ini adalah kutukan kuno."
"Kutukan?" Chafia mengerutkan kening, keterkejutan jelas tergambar di wajahnya. "Jelaskan padaku, Guru."
"Itu adalah Racun Tujuh Bintang," lanjut Guru Agung dengan suara berbisik namun penuh tekanan. "Racun yang merusak tujuh titik meridian utama di dalam tubuh secara perlahan, menggerogoti organ vital dari dalam tanpa membiarkan korbannya merasakan kematian yang cepat, melainkan penderitaan yang panjang."
Nama racun itu menggantung di udara dingin malam itu, membawa efek mengerikan bagi siapa saja yang mendengarnya. Chafia tertegun, matanya membelalak lebar. Sebagai seorang murid yang telah mempelajari berbagai naskah pengobatan dan racun mematikan, ia tahu persis apa arti dari Racun Tujuh Bintang. Racun itu melegenda sebagai salah satu zat paling mematikan di daratan ini, yang konon hanya dimiliki oleh sekte bayangan di ujung utara.
"Racun Tujuh Bintang..." Chafia mengulangi nama itu dengan suara tercekat di tenggorokan. "Bagaimana mungkin... Racun itu telah lenyap bersama hancurnya sekte bayangan puluhan tahun lalu. Siapa yang tega dan memiliki kemampuan untuk meracunimu dengan zat terkutuk ini, Guru?"
"Musuh kita jauh lebih dekat dari yang kita duga, Chafia," jawab Guru Agung lirih, matanya menerawang menembus kegelapan malam. "Mereka telah menyusup jauh ke dalam struktur internal kita."
Chafia mengepalkan kedua tangannya hingga kukunya menancap ke telapak tangan, menciptakan rasa nyeri yang justru membuatnya tetap sadar di tengah badai emosi. "Aku tidak akan membiarkan mereka lolos. Tapi yang lebih penting sekarang adalah keselamatanmu, Guru. Apa penawarnya? Pasti ada obat untuk menghentikan racun ini."
Guru Agung menatap Chafia lama, seolah ingin merekam wajah murid kesayangannya itu untuk terakhir kalinya. "Inti sari Teratai Salju Bromo."
"Teratai Salju Bromo?" Chafia mengernyit, mencoba mengingat kembali pengetahuan tentang tumbuhan langka tersebut. "Tumbuhan suci yang tumbuh di puncak gunung es abadi?"
"Benar," angguk Guru Agung lemah. "Hanya inti sari dari bunga yang mekar sekali dalam satu dekade itulah yang mampu menetralkan hawa dingin mematikan dari Racun Tujuh Bintang. Tanpa benda itu..."
Guru Agung kembali terbatuk, kali ini lebih keras, membuat darah segar mengalir lebih deras dari sudut bibirnya.
"...nyawaku tidak akan bertahan lebih dari tujuh hari lagi."
Angin malam berhembus semakin kencang, seolah membawa vonis kematian yang begitu nyata. Tujuh hari. Waktu yang sangat singkat untuk sebuah misi yang hampir mustahil. Puncak Bromo terletak ribuan mil jauhnya, melintasi teritori musuh, jurang terjal, dan badai salju yang mematikan. Namun, di hadapan kenyataan bahwa gurunya tercinta sedang sekarat, Chafia tahu ia tidak memiliki pilihan lain.
"Tujuh hari," ucap Chafia pelan, meneguhkan hatinya di atas altar ketakutan. Ia bangkit perlahan dari posisinya berlutut, menarik pedangnya dari tanah dan menyarungkannya dengan bunyi schling yang tegas. "Aku akan pergi sekarang juga, Guru. Aku akan membawa pulang Teratai Salju Bromo itu, apapun taruhannya."
Guru Agung merentangkan tangan kanannya yang gemetar, meraih ujung jubah Chafia dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. "Hati-hatilah, Chafia. Perjalanan ini bukan sekadar pertarungan melawan waktu, tetapi juga melawan takdir itu sendiri."
Chafia menunduk, menatap tangan tuamu yang penuh bekas luka pertempuran itu, lalu mengangguk mantap. "Tunggu aku, Guru. Aku pasti akan kembali sebelum batas waktu itu habis."
❖ ❖ ❖
Perjalanan keluar dari gerbang perguruan bukanlah hal yang mudah. Di bawah selimut malam yang kelam, Chafia harus bergerak secara diam-diam. Pasalnya, kabar mengenai kondisi kritis Guru Agung rupanya telah mulai mencuat, dan para pengkhianat di dalam perguruan tampaknya telah mengendus situasi tersebut. Mereka tidak ingin Guru Agung selamat, karena keselamatan sang guru berarti kehancuran bagi rencana busuk yang telah mereka susun secara matang selama bertahun-tahun.
Langkah kaki Chafia terhenti di balik rimbunnya pohon pinus raksasa di tepi jurang perbatasan. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat pos penjagaan utama yang biasanya diisi oleh dua orang pengawas, kini telah digantikan oleh empat orang asing berseragam hitam dengan lencana ular melingkar di kerah baju mereka—tanda khas dari Pasukan Bayangan Hitam, antek-antek dari faksi pemberontak.
"Sial," umpat Chafia dalam hati. "Mereka bergerak lebih cepat dari perkiraanku. Seluruh jalur utama pasti sudah ditutup dan diawasi ketat."
Chafia merendahkan tubuhnya, memanfaatkan semak belukar yang lebat sebagai tempat bersembunyi. Otaknya berputar cepat, menimbang-nimbang berbagai opsi yang ada di hadapannya. Waktu terus berjalan, dan setiap detik yang terbuang berarti memangkas jatah hidup Guru Agung yang kini tinggal menghitung hari. Jika ia harus menerobos pos penjagaan secara langsung, ia pasti akan memicu alarm besar, membuat seluruh sisa perjalanan daratnya dikejar-kejar oleh pasukan pembunuh bayaran. Namun, jika ia mengambil jalur alternatif melalui Lembah Kabut Beracun, risiko kematian akibat gas beracun alami juga tidak kalah tinggi.
"Tidak ada waktu untuk ragu," gumam Chafia seraya menarik kain penutup wajahnya hingga menutupi sebagian besar fitur wajahnya, menyisakan sepasang mata tajam yang memancarkan tekad baja.
Ia memutuskan untuk mengambil risiko terbesar: melompati jurang sempit di sisi barat pos penjagaan yang dikenal sangat curam dan jarang dilalui karena sering kali menjadi sarang makhluk buas pegunungan. Dengan mengambil ancang-ancang yang cermat, Chafia berlari kencang menerobos gelapnya malam, menghentakkan kakinya ke atas batu terakhir di tepi jurang, dan meluncur bebas di udara malam yang dingin membeku.
Angin berdesing kencang di kedua telinganya. Di bawahnya, jurang gelap gulita menganga lebar seperti mulut monster yang siap menelan siapa saja yang terjatuh. Chafia mengayunkan tangannya, melemparkan kait besi berantai ke arah dahan kokoh di seberang jurang. Clank! Kait itu mencengkeram kuat pada kayu keras, menghentikan laju jatuhnya secara mendadak. Tubuhnya berayun hebat di udara sebelum akhirnya ia berhasil mendarat dengan mulus di tebing seberang, meski napasnya terengah-engah dan bahunya terasa nyaris copot akibat hentakan beban yang luar biasa.
Ia tidak berhenti untuk menarik napas. Begitu kakinya menjejak tanah yang stabil, Chafia kembali melesat menembus hutan lebat di luar teritori perguruan.
Namun, baru beberapa mil ia berlari, sebuah suara desingan tajam memecah kesunyian malam.