Malam di kawasan puncak Bromo tidak pernah ramah bagi para pelancong biasa. Angin gunung berhembus kencang, membawa partikel debu vulkanik yang bergesekan dengan batu-batu karang purba, menciptakan suara siulan panjang yang mirip lolongan ribuan serigala lapar. Di antara kabut tebal yang menyelimuti lautan pasir, sebuah bayangan hitam bergerak gesit, melompati celah-celah curam tanpa meninggalkan jejak suara sedikit pun.
Bayangan itu adalah Arya, seorang pendekar muda dari lembah selatan yang mengemban tugas berat untuk mencegah jatuhnya pusaka legendaris, Teratai Salju, ke tangan yang salah. Di balik punggungnya terselip sebuah pedang pusaka yang bilahnya memancarkan pendar keperakan tipis. Langkahnya terhenti di sebuah dataran tinggi berpasir hitam, tidak jauh dari bibir kawah utama yang terus-menerus memuntahkan asap belerang beracun.
Bau belerang yang menyengat langsung menusuk hidungnya. Arya menyipitkan mata, menembus kabut kelam yang kian pekat. Di hadapannya, sesosok figur besar berdiri tegak bagaikan patung batu karang yang tidak tergoyahkan oleh amukan badai. Sosok itu mengenakan jubah hitam legam yang ujungnya berkibar liar ditiup angin malam. Namun, yang paling mencolok dan mengerikan dari sosok tersebut adalah topeng yang menutup seluruh wajahnya—sebuah topeng besi tua berkarat yang ditempa menyerupai rajah iblis bermata juling dan seringai lebar yang mengerikan.
Itulah Hantu Kawah Berwajah Besi, pimpinan kelompok hitam paling ditakuti di tanah Jawa bagian timur.
"Kau datang tepat waktu, bocah bodoh dari lembah selatan," suara Hantu Kawah Berwajah Besi terdengar berat, berderak bagaikan dua lempeng besi yang saling bergesekan, memecah kesunyian malam di atas puncak Bromo.
Arya menegakkan tubuhnya, menatap tajam ke arah sang penguasa kawah. Tangannya perlahan menggenggam hulu pedang di punggungnya. "Aku tahu niat busukmu, Hantu Kawah. Kau tidak akan pernah bisa memiliki Teratai Salju itu. Ilmu iblis yang ingin kau sempurnakan hanya akan membawa malapetaka bagi ribuan orang tak berdosa."
Hantu Kawah Berwajah Besi mendengus dingin. Suara dengusan itu terdengar seperti letupan kecil dari kawah di bawah mereka.
"Malapetaka? Dunia ini memang sudah busuk, Arya. Hanya mereka yang memiliki kekuatan mutlak yang berhak mengatur jalannya hukum di bumi ini," jawab Hantu Kawah, nada suaranya penuh dengan kesombongan yang dingin. "Ilmu Tangan Es Samudra yang kumiliki sudah hampir mencapai tingkat kesempurnaan tertinggi. Dengan tambahan energi murni dari Teratai Salju, tubuhku akan menjadi kebal terhadap segala jenis senjata di kolong langit ini. Tiada satu pun pendekar yang mampu menandingiku."
"Kau lupa bahwa kejahatan selalu memiliki batasnya," balas Arya tegas. "Aku di sini bukan untuk berunding dengan iblis berwajah besi sepertimu. Serahkan dirimu, atau terimalah ujung pedangku!"
❖ ❖ ❖
Tanpa menunggu aba-aba lagi, Hantu Kawah Berwajah Besi mengangkat tangan kanannya ke udara. Seketika itu juga, suhu udara di sekitar bibir kawah merosot tajam secara drastis. Embun malam yang tadinya hangat berubah menjadi kristal-kristal es kecil yang berjatuhan ke atas pasir hitam. Uap air di udara membeku seketika, membentuk kabut putih tebal yang berputar-putar di sekeliling telapak tangan sang penguasa hitam.
"Kau terlalu naif jika mengira keberanian saja cukup untuk mengalahkanku, Arya!" teriak Hantu Kawah.
Whush!
Sebuah hantaman angin es yang luar biasa dingin meluncur deras ke arah dada Arya. Serangan itu bergerak secepat kilat, membawa hawa kematian yang mampu membekukan darah dalam pembuluh hanya dalam hitungan detik.
Arya tidak tinggal diam. Dengan mengerahkan seluruh tenaga dalam dari jurus Bayangan Angin Selatan, tubuhnya melompat mundur sejauh tiga tombak, menghindari terjangan angin es yang langsung menghantam bongkahan batu besar di belakangnya.
K Desss!
Batu besar setinggi dua orang dewasa itu seketika hancur berkeping-keping, berubah menjadi serpihan es putih yang membeku sempurna. Arya merasakanhembusan hawa dingin yang luar biasa tajam meskipun serangannya luput. Alisnya berkerut. Ilmu Tangan Es Samudra milik lawannya ternyata jauh lebih mengerikan daripada apa yang selama ini ia dengar dari cerita para pelancong di kedai-kedai kaki gunung.
"Hebat juga refleksmu, bocah. Tapi bagaimana dengan yang satu ini?"
Hantu Kawah Berwajah Besi kembali melangkah maju. Tapak kakinya yang menapak di atas tanah berpasir meninggalkan jejak es biru yang berpendar dalam kegelapan. Ia melancarkan pukulan beruntun. Puluhan jarum es tercipta dari kelembapan udara malam dan meluncur bagaikan hujan badai menuju ke segala arah, mengurung ruang gerak Arya sepenuhnya.
Arya mencabut pedangnya dari sarung. Logam pedang itu berdesing nyaring menyambut udara dingin. Dengan gerakan memutar yang cepat, ia menciptakan perisai angin pedang yang berputar kencang, menangkis setiap jarum es yang datang bertubi-tubi.
Trang! Trang! Trang!