SERI 3: TERATAI MEKAR DI PUNCAK BROMO

Amrullah Ibrahim
Chapter #11

Jebakan di Lautan Pasir

Matahari pagi belum sepenuhnya menampakkan diri di ufuk timur ketika kabut tipis mulai menyelimuti dataran tinggi Gunung Bromo. Udara terasa begitu dingin, menusuk hingga ke tulang sumsum, memaksa setiap orang yang melangkah memperketat jubah mereka. Di sepanjang jalur pendakian yang semakin menyempit, debu vulkanik bertebaran setiap kali hembusan angin gunung bertiup kencang. Rombongan Rafar dan Yafid berjalan beriringan dengan penuh kewaspadaan, menyusuri jalan setapak yang dikelilingi oleh hamparan pasir luas membentang bagaikan lautan mati.

Hantu Kawah telah memasang perangkap rumit berupa parit pasir hisap di jalur menuju puncak. Namun, Rafar dan Yafid berhasil menemukan tanda-tanda kejanggalan pada permukaan pasir dan mengarahkan rombongan memilih jalur berbatu yang aman.

Rafar menghentikan langkahnya sejenak. Ia membungkuk, mengambil segenggam pasir halus berwarna hitam legam yang tampak berbeda dari struktur pasir di sekitarnya. Jemarinya meraba tekstur butiran tersebut dengan teliti sebelum menatap Yafid yang berdiri tepat di sampingnya.

"Yafid, perhatikan baik-baik susunan pasir di depan kita," bisik Rafar dengan nada rendah namun penuh penekanan. "Permukaan di cekungan itu terlihat rata, tetapi jika kau perhatikan lebih jeli, tidak ada satupun jejak kaki binatang atau burung yang melintas di atasnya. Padahal, semalam kita mendengar suara burung hantu gunung berterbangan di sekitar sini."

Yafid mengangguk perlahan. Ia menyipitkan matanya, mengarahkan pandangan ke arah jalur utama yang tampak begitu bersih dan menggoda untuk dilewati. "Kau benar, Rafar. Itu bukan formasi alami. Itu adalah jebakan pasir hisap beracun yang sengaja diciptakan untuk menelan siapapun yang berjalan terburu-buru. Hantu Kawah benar-benar licik; dia tahu para pendekar yang lelah pasti akan memilih jalan pintas yang tampak mulus."

Di belakang mereka, delapan orang anggota rombongan lainnya—termasuk para pendekar muda dari berbagai penjuru perguruan yang ikut bergabung—berhenti dan saling berpandangan. Salah seorang pendekar bermata tajam bernama Jaka melangkah maju dengan kerutan di keningnya.

"Rafar, Yafid, apakah kita tidak salah jalan?" tanya Jaka dengan nada cemas sambil menunjuk jalur utama yang membentang luas. "Bukankah jalur pasir itu adalah jalur tercepat menuju kaki kawah utama? Kalau kita harus memutar lewat punggung bukit berbatu yang terjal ini, waktu kita akan banyak terbuang."

"Jika kau memilih jalur tercepat itu, Jaka, maka kuburanmu akan tercipta dalam waktu kurang dari sepuluh detik," jawab Yafid tanpa ragu. Ia menoleh ke arah Jaka dengan tatapan serius. "Hantu Kawah tidak hanya memasang pasir hisap biasa. Di bawah permukaan pasir itu terdapat aliran energi panas bumi bercampur racun belerang cair. Sekali kaki kalian amblas, tubuh kalian akan tersedot ke dalam perut bumi sebelum sempat mengeluarkan teriakan."

Saras, seorang pendekar wanita berpedang kembar yang berada di barisan tengah, mendengus pelan mendengar penjelasan itu. Ia merapatkan kain penutup wajahnya. "Setan alas! Orang tua keparat itu benar-benar berniat memusnahkan seluruh orang yang naik ke gunung ini demi menguasai Puspa Teratai Salju sendirian. Kalau begitu, pimpin jalan, Rafar. Kami mempercayakan keselamatan kami pada pengamatan kalian berdua."

❖ ❖ ❖

Keputusan untuk menghindari jalur utama dan beralih ke punggung bukit berbatu ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Jalur baru yang mereka pilih dipenuhi oleh batu-batu cadas yang tajam dan rapuh. Setiap kali melangkah, serpihan batu kecil berjatuhan ke jurang di sisi kiri, mengeluarkan suara gemerincing yang memecah keheningan pagi.

Angin lembah bertiup semakin kencang, menciptakan suara siulan menyerupai jeritan manusia yang kesakitan. Para anggota rombongan harus merayap perlahan, berpegangan pada tonjolan batu karang dengan sisa-sisa tenaga dalam mereka.

"Awas di sebelah kiri!" seru Yafid tiba-tiba saat melihat sebongkah batu besar seukuran roda pedati mendadak terlepas dari atas tebing dan menggelinding ke arah kelompok mereka.

Rafar bergerak secepat kilat. Tanpa membuang waktu, ia melompat ke atas sebuah batu karang yang menonjol, menghunus pedang pendek di pinggangnya, lalu menebas tepat ke arah pusat batu besar tersebut.

Bum!

Batu besar itu hancur berkeping-keping menjadi serpihan kerikil yang berhamburan ke udara, melindungi rombongan di bawahnya dari hantaman maut. Namun, benturan tersebut memicu getaran hebat di sepanjang dinding tebing, membuat debu tebal mengepul dan menghalangi jarak pandang mereka.

"Apakah kalian semua baik-baik saja?" teriak Rafar di tengah kepulan debu, berusaha memastikan tidak ada satupun sahabatnya yang terluka.

"Kami tidak apa-apa, Rafar!" jawab Jaka dari balik batu besar tempat ia berlindung bersama Saras. Napas mereka terengah-engah, peluh dingin bercampur debu vulkanik membasahi kening mereka. "Tapi lihat ke atas! Sepertinya Hantu Kawah mengetahui bahwa jebakan pasir hisapnya gagal total."

Dari balik kabut tebal di puncak bukit berbatu, sesosok bayangan hitam berkelebat dengan kecepatan luar biasa. Sosok itu mengenakan jubah compang-camping berwarna abu-abu kusam, dengan rambut putih panjang yang terurai berantakan menutupi separuh wajahnya. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah tongkat panjang berujung tengkorak besi yang memancarkan kilau kehijauan beracun.

"Bocah-bocah tengik!" suara Hantu Kawah melengking tinggi, memantul di dinding tebing batu dan menggetarkan gendang telinga. "Kalian kira bisa lolos dari lautan pasir mautku begitu saja? Kalian telah menghina karya agungku!"

Hantu Kawah berdiri di atas sebuah tebing batu yang menjorok ke jurang, menatap rombongan Rafar dengan mata merah menyala penuh amarah. Kehadirannya memancarkan tekanan tenaga dalam yang begitu pekat, membuat udara di sekitar punggung bukit terasa berat dan sulit dihirup.

"Hantu Kawah!" seru Yafid sambil melangkah maju ke depan barisan, menatap tajam ke arah sang penguasa jalur gunung tersebut. "Kelicikanmu tidak akan mampu menghentikan langkah kami. Berhentilah membuat korban, atau kami sendiri yang akan mengakhiri riwayatmu di tempat ini!"

Lihat selengkapnya