SERI 3: TERATAI MEKAR DI PUNCAK BROMO

Amrullah Ibrahim
Chapter #13

Keanggunan Selendang di Atas Kawah

Angin malam di puncak Gunung Bromo menderu bagai lolongan ribuan hantu penasaran, membawa partikel debu vulkanik dan bau belerang yang begitu pekat hingga membuat setiap tarikan napas terasa membakar dada. Di bawah temaram cahaya rembulan yang tertutup kabut tipis, hamparan lautan pasir tampak terbentang sunyi bagaikan lautan kematian yang luas. Namun, suasana di bibir kawah aktif sama sekali jauh dari kata tenang. Puluhan pasang mata dari berbagai perguruan persilatan membelalak tajam, menatap ke arah sebuah tebing curam di seberang jurang maut yang mengeluarkan uap panas mengepul.

Di tempat inilah, di dinding batu yang hampir vertikal dan nyaris mustahil dijamah oleh manusia biasa, puspa sakral yang selama ini menjadi buah bibir dunia persilatan akhirnya menampakkan diri. Bunga Teratai Salju, dengan kelopak putih bersih berkilauan memantulkan cahaya keperakan, perlahan-lahan mulai merekah di tengah cengkeraman angin gunung yang ganas. Konon, selain mampu menjadi obat pemungkas segala racun mematikan, bunga langka itu menyimpan kekuatan magis luar biasa yang sanggup melipatgandakan tenaga dalam seseorang dalam sekejap mata.

"Lihat itu! Puspa sakralnya sudah mulai membuka kelopaknya!" seru seorang pendekar berwajah kurus dari kelompok Aliran Hitam dengan suara serak yang bergetar karena diliputi ketamakan.

"Jangan ada yang berani mendahului!" bentak Ki Rangga, seorang ketua cabang dari Perguruan Macan Bara, sambil mencengkeram hulu golok bermata dua di pinggangnya. Urat-urat di lehernya menonjol keluar, menunjukkan betapa besar nafsunya untuk memiliki pusaka tersebut.

Ketegangan di bibir kawah langsung mencapai puncaknya. Aliran putih dan aliran hitam yang sedari tadi saling melempar pandangan penuh curiga kini mulai menggeser posisi kaki masing-masing. Suasana terasa begitu rapuh, bagaikan selembar kertas kering yang siap terbakar oleh sepercik api kecil saja. Di antara kerumunan para pendekar sakti yang bernafsu besar itu, berdiri sesosok wanita muda berbusana salju dengan sehelai selendang putih tersampir di bahunya. Tera menatap tajam ke arah tebing seberang, sementara napasnya diatur perlahan untuk menjaga kestabilan tenaga dalam di dalam tubuhnya.

"Tera, jangan gegabah," bisik Arya, pemuda berpedang yang berdiri tepat di samping kanannya dengan sikap siaga penuh. "Hantu Kawah dan anak buahnya mengintai dari balik batu besar di sebelah kiri kita. Mereka menunggu waktu yang tepat untuk menyergap."

Tera menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengalihkan pandangan dari kelopak Teratai Salju yang kian merekah indah. "Aku tahu, Arya. Orang tua itu tidak akan tinggal diam melihat pusaka langka berada di depan matanya. Kita harus bergerak lebih cepat sebelum pertumpahan darah yang lebih besar terjadi di tempat ini."

"Bagus kalau kalian tahu!" sebuah suara melengking bagai burung hantu memecah keheningan malam, disusul oleh kemunculan sesosok tubuh bungkuk yang melesat keluar dari balik bayangan tebing batu.

Hantu Kawah—tokoh sesat yang terkenal kejam dan licik—tertawa terbahak-bahak hingga suaranya memantul di dinding kawah yang curam. Matanya yang juling menyipit tajam, menatap penuh kemenangan ke arah bunga yang bersinar terang di seberang jurang. Tanpa membuang waktu sedetik pun, tokoh tua itu menghentakkan kedua kakinya ke tanah, memicu ledakan kecil debu vulkanik, lalu melompat dengan kecepatan luar biasa untuk merebut Teratai Salju.

❖ ❖ ❖

Lompatan Hantu Kawah sungguh di luar dugaan kebanyakan pendekar yang hadir. Tubuhnya melayang ringan membelah udara tebal beracun, mengandalkan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi yang telah ditekuninya selama puluhan tahun. Angin kencang yang bertiup dari dalam kawah seolah tidak mampu menghambat laju gerakannya yang bagaikan anak panah lepas dari busur.

"Tangkap dia! Jangan biarkan Hantu Kawah mencuri bunga itu!" teriak Ki Rangga murka, merasa tertipu oleh kecepatan gerakan sang tokoh sesat.

Beberapa pendekar dari Aliran Putih mencoba bangkit dan melepaskan jurus jarak jauh berupa gelombang tenaga dalam, namun serangan itu terlambat sepersekian detik. Hantu Kawah sudah berada di paruh jalan menyeberangi jurang maut, tangannya yang kurus kering dan bercakar hitam legam sudah terulur lebar, siap mencabut Teratai Salju dari tempat tumbuhnya.

"Ha-ha-ha! Puspa sakral ini akhirnya menjadi milikku!" pekik Hantu Kawah kegirangan, suaranya melengking tinggi menembus deru angin gunung.

Namun, di tengah detik-detik yang sangat menentukan itu, sebuah bayangan putih melesat bagai kilat dari barisan belakang para pendekar. Gerakannya begitu halus, tanpa suara, seolah-olah tubuhnya menyatu sepenuhnya dengan hembusan angin malam Bromo.

Dengan gerakan amat bagai bidadari turun ke bumi, Tera mengibaskan selendang putihnya yang panjang ke udara. Kain halus itu mendadak menegang kaku bagaikan sebilah pedang panjang yang ditempa dari baja murni ketika dialiri oleh tenaga dalam tingkat tinggi milik sang gadis.

Syuuussst!

Selendang putih tersebut membelah kegelapan malam, memotong jalur lompatan Hantu Kawah dengan presisi yang sangat mengerikan. Ujung selendang itu mendesis tajam di udara, mengancam untuk merobek dada sang tokoh sesat jika ia tetap nekat meneruskan niatnya.

Hantu Kawah terkejut bukan main. Matanya yang juling mendelik lebar ketika melihat bayangan putih tiba-tiba melintas tepat di hadapannya. Ia terpaksa menghentikan momentum lompatannya secara mendadak di udara, memutar tubuhnya dengan gerakan canggung untuk menghindari hantaman selendang maut tersebut.

"Keparat kau, gadis lancang!" maki Hantu Kawah dengan suara penuh amarah yang meluap-luap.

Karena kehilangan keseimbangan akibat terjangan angin selendang Tera, Hantu Kawah terpaksa mendarat darurat di atas sebuah batu tumpuan yang sempit di sisi tebing yang lain. Kakinya tergesek keras hingga memercikkan bunga api kecil dari bebatuan vulkanik. Tokoh sesat itu mendengus tertahan, memegang dadanya yang terasa sesak akibat pengerahan tenaga dalam secara mendadak untuk mengerem jatuhnya tubuh.

"Langkahmu terlalu pendek untuk mencapai pusaka itu, Hantu Kawah," suara Tera terdengar dingin namun sangat jelas terdengar di tengah deru angin kawah. Gadis itu kini berdiri tegak di atas sebuah batu besar, selendang putihnya berkibar megah diterpa angin malam, membingkai wajahnya yang tenang namun memancarkan ketegasan luar biasa.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya