Angin malam di puncak Gunung Bromo menderu bagai lolongan serigala kelaparan, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Di tengah hamparan pasir berbisik dan kabut tebal yang menyelimuti bibir kawah aktif, berdirilah sesosok bayangan hitam legam. Jubahnya berkibar liar diterpa badai, menampakkan wajah yang tertutup topeng besi berkarat dengan ukiran lambang tengkorak yang menyeringai mengerikan.
Dialah Hantu Kawah, pendekar legendaris yang namanya telah lama hilang dari dunia persilatan, kini bangkit kembali membawa bara dendam yang tidak pernah padam.
Di hadapannya, berdiri tegap Ki Raga, ketua Perguruan Teratai, bersama belasan murid pilihan yang mengenakan jubah putih bersulam benang perak. Wajah Ki Raga tampak tegang, matanya awas menatap setiap gerak-gerik musuh bebuyutannya itu. Di tebing batu karang yang menjulang tinggi di atas kawah, bunga Teratai Salju yang mereka cari-cari memancarkan pendar cahaya kebiruan yang sangat magis, dikelilingi oleh pusaran angin es tipis.
"Hentikan langkahmu, Hantu Kawah!" suara Ki Raga menggelegar, memecah deru angin malam. "Jangan biarkan dendam masa lalu mengaburkan akal sehatmu. Perbuatanmu di masa lalu sudah diadili oleh para leluhur rimba persilatan!"
Mendengar ucapan itu, Hantu Kawah justru mendengakkan kepalanya ke langit malam. Tawa membahana meledak dari balik topeng besinya, menggetarkan bebatuan vulkanik di sekitar mereka. Suaranya menggelegar, menyaingi suara gemuruh kawah di bawah sana.
"Adili? Leluhur persilatan omong kosong!" seru Hantu Kawah dengan nada penuh kebencian yang mendalam. "Kalianlah kelompok pengecut yang merampas kehormatanku dua puluh tahun lalu! Dan sekarang, kalian berani-aninya datang ke tempat suci ini untuk merebut Teratai Salju demi kepentingan perguruan kalian yang munafik!"
Seorang murid senior Perguruan Teratai maju setengah langkah, menghunus pedang panjangnya yang berkilat terkena pantulan cahaya bulan. "Kurang ajar! Jangan lancang berbicara di hadapan Guru Besar! Jika kau ingin merebut bunga itu, lewati dulu mayat kami!"
Hantu Kawah menolehkan kepalanya yang bertopeng besi tajam ke arah murid muda tersebut. Tangannya yang bersarung tangan baja mengepal erat, memunculkan suara berderak dari buku-buku jarinya. "Anak muda yang sombong. Kalian bahkan tidak tahu apa yang sedang kalian hadapi di tempat ini."
❖ ❖ ❖
"Dengarkan baik-baik, anak-anak bodoh dari Perguruan Teratai!" Hantu Kawah melangkah perlahan mendekati jurang kawah, sementara aura hitam pekat mulai mengepul dari kedua telapak kakinya, membuat pasir di sekitarnya membeku seketika. "Siapapun yang mencoba memetik Teratai Salju tanpa menguasai teknik pernapasan es purba akan terkena getaran hawa es mematikan yang bersumber langsung dari inti bumi!"
Ki Raga mengangkat tangannya, memberi isyarat kepada para muridnya agar tidak ada yang terpancing emosi untuk menyerang lebih dulu. "Kami tahu risiko dari bunga pusaka itu, Hantu Kawah. Kami telah mempersiapkan diri selama bertahun-tahun untuk mengendalikannya demi menyelamatkan dunia persilatan dari malapetaka."
"Menyelamatkan dunia persilatan? Hah!" Hantu Kawah mendengus sinis. "Kalian hanya ingin menyerap kekuatan mutlaknya untuk memperluas pengaruh perguruan kalian ke seluruh penjuru negeri! Jangan bersembunyi di balik kata-kata mulia yang memuakkan!"
Suasana di bibir kawah semakin mencekam. Suhu udara drop drastis hingga titik beku, membuat embun napas mereka berubah menjadi kristal-kristal es kecil di udara. Para murid Perguruan Teratai mulai merapatkan barisan, mengalirkan tenaga dalam ke seluruh tubuh untuk menahan hawa dingin luar biasa yang dipancarkan oleh musuh mereka.
"Guru, biarkan aku menguji ilmu hitamnya!" bisik murid senior tadi dengan geram, urat-urat di pelipisnya menonjol akibat menahan amarah dan hawa dingin.
"Jangan gegabah, Darma," jawab Ki Raga tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Hantu Kawah. "Manusia bertopeng itu jauh lebih kuat dari yang kita duga sebelumnya. Tenaga dalam esnya telah menyatu dengan energi vulkanik kawah ini."
Hantu Kawah menyadari bisikan dan ketegangan di kubu lawannya. Ia tersenyum miring di balik topeng besinya. "Kalian pikir kalian bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup setelah mengetahui rahasia kebangkitanku? Tidak! Tempat ini akan menjadi kuburan massal bagi seluruh anggota Perguruan Teratai!"
❖ ❖ ❖