SERI 3: TERATAI MEKAR DI PUNCAK BROMO

Amrullah Ibrahim
Chapter #15

Penawar Suci Zahra dan Chafia

Udara di lereng Gunung Bromo mendadak berubah drastis menjadi begitu dingin, seolah menusuk langsung hingga ke sumsum tulang. Di hadapan rombongan Arya Wirawangsa, terpampang sebuah ceruk tersembunyi yang tertutup oleh lapisan es abadi. Tempat itu dijaga oleh embun beku yang berkilauan diterpa cahaya matahari sore, menciptakan pemandangan yang begitu indah sekaligus mematikan. Di tengah kolam kecil yang airnya membeku separuh, tumbuhlah sebuah puspa legendaris yang selama ini hanya diceritakan dalam legenda para leluhur: Teratai Salju. Bunga tersebut memancarkan pendar cahaya keperakan yang lembut, namun hawa dingin di sekitarnya begitu ekstrem hingga mampu membekukan darah dalam sekejap jika disentuh tanpa perlindungan yang tepat.

Tera, yang berdiri tidak jauh dari tepi kolam es, tampak memandangi jari-jemari tangannya sendiri dengan perasaan cemas. Jari-jemari pemuda itu sudah mulai kaku, dilapisi oleh kristal es tipis akibat paparan suhu ekstrem yang merambat naik dari dasar kawah. Jika ia tidak segera menyentuh tangkai Teratai Salju untuk memetiknya demi menyembuhkan racun mematikan di dalam tubuhnya, maka seluruh anggota tubuhnya akan membeku permanen sebelum malam berganti.

"Kita tidak punya banyak waktu lagi, Tera," ucap Zahra dengan suara lembut namun tegas. Gadis berbusana putih bersih itu melangkah mendekati Tera sambil membawa sebuah wadah kecil terbuat dari batu giok putih yang memancarkan kehangatan alami. Di sampingnya, Chafia berjalan sigap dengan membawa beberapa kantong ramuan rempah langka yang dipetik dari hutan dataran tinggi.

Zahra adalah pewaris tunggal ilmu pengobatan kuno dari perguruan tabib terpencil di kaki gunung. Bertahun-tahun ia mempelajari naskah-naskah pengobatan leluhur, termasuk cara-cara aman untuk menjinakkan puspa ajaib yang dilindungi oleh kutukan hawa es abadi. Sementara itu, Chafia—sahabat setianya yang memiliki ketangkasan luar biasa dalam meracik bahan-bahan obat—langsung membuka kantong kainnya dan mengeluarkan sebongkah batu arang khusus yang masih membara merah di dalamnya.

"Suhu di sini turun lebih cepat dari perkiraan kita," kata Chafia sambil meniup pelan arang tersebut hingga pijarnya semakin terang. "Jika cairan penawar ini terlambat dioleskan, tangan Tera akan hancur begitu bersentuhan langsung dengan batang Teratai Salju."

"Aku mengerti, Chafia," balas Zahra tenang. Ia menoleh ke arah Tera yang kini duduk bersila di atas batu datar, mencoba mengatur pernapasan agar tenaga dalam di tubuhnya tidak habis terkuras untuk melawan hawa dingin. "Tera, julurkan tanganmu. Jangan lepaskan konsentrasi dan pusatkan seluruh sisa tenaga dalammu ke bagian telapak tangan."

Tera mengangguk lemah. Bibirnya tampak membiru, dan butiran keringat dingin bercampur kristal es menggantung di pelipisnya. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, pemuda itu perlahan menjulurkan kedua tangannya ke hadapan Zahra. Kulit jarinya sudah kehilangan warna normal, berubah pucat pasi bagaikan porselen yang rapuh.

Zahra tidak membuang waktu. Ia membuka wadah giok putih yang dibawanya, mengeluarkan cairan kental berwarna keemasan yang memancarkan aroma harum rempah-rempah hangat. Aroma itu seketika meredakan hawa dingin yang mencengkeram dada Tera, membuat napas pemuda itu sedikit lebih teratur meskipun tubuhnya masih bergetar hebat.

❖ ❖ ❖

"Chafia, pegang wadah giok ini erat-erat," perintah Zahra sambil mulai merentangkan jari-jarinya di atas telapak tangan Tera.

"Baik, Zahra. Pastikan racikan dasarnya merata, karena udara di sekitar kolam es ini terus mencoba membekukan cairan penawar sebelum sempat meresap ke kulit," jawab Chafia sigap, mendekatkan arang yang membara untuk menjaga suhu sekitar tetap stabil.

Zahra memejamkan matanya sejenak, merapalkan doa keselamatan sambil menyalurkan tenaga dalam murni melalui ujung jemarinya ke telapak tangan Tera. Cairan keemasan di dalam wadah giok itu mulai mendesis pelan, mengeluarkan uap tipis berwarna putih keperakan begitu bersentuhan dengan kulit Tera. Proses itu tampak menyakitkan; Tera mengerang tertahan, giginya bergemeretuk keras menahan rasa panas luar biasa yang tiba-tiba menjalar dari telapak tangannya hingga ke pergelangan lengan.

"Tahan, Tera! Ini adalah proses penyesuaian agar pori-porimu tidak tertutup oleh es abadi saat memetik bunga itu," seru Zahra memberikan semangat, sementara butiran peluh mulai membasahi dahi gadis itu akibat konsentrasi tinggi yang harus dikerahkannya.

Chafia mengawasi keadaan sekitar dengan mata awas. Telinganya menangkap suara desau angin malam yang mulai turun dari puncak gunung, membawa serpihan-serpihan salju tipis yang berterbangan di udara. Di kejauhan, bayangan Arya dan Ki Ranu tampak berjaga-jaga di balik batu besar, memastikan tidak ada gangguan dari para pendekar musuh yang mungkin masih menguntit perjalanan mereka.

"Zahra, waktu kita semakin tipis. Lapisan es di permukaan kolam Teratai Salju mulai menebal," ujar Chafia memperingatkan, matanya melirik tajam ke arah kolam yang airnya kini hampir sepenuhnya membeku menjadi kristal padat.

"Aku tahu," jawab Zahra dengan napas sedikit memburu. Ia menyelesaikan tahapan terakhir dari peracikan cairan penawar sementara tersebut. Kini, seluruh jari-jemari Tera dilapisi oleh lapisan tipis cairan keemasan yang berkilau lembut, memancarkan kehangatan yang sanggup menahan suhu dingin ekstrem di tempat itu.

"Nah, Tera. Rasakan perbedaannya sekarang," ujar Zahra sambil membuka matanya dan menatap langsung ke dalam mata Tera yang sayu. "Jari-jarimu kini terlindungi oleh penawar suci. Kamu hanya memiliki satu kesempatan untuk memetik tangkai Teratai Salju itu dengan mantap. Jangan ragu."

Tera menarik napas dalam-dalam. Ia merasakan sensasi hangat mengalir lancar di sekujur jemarinya, mengusir mati rasa yang sedari tadi melumpuhkan gerakannya. Kekuatannya perlahan-lahan kembali, dan cengkeraman rasa sakit di tangannya berangsur-angsur mereda.

"Terima kasih, Zahra, Chafia," bisik Tera dengan suara serak. "Aku akan melakukannya sekarang."

Tera bangkit berdiri perlahan, melangkah mendekati tepi kolam es tempat Teratai Salju tumbuh memancarkan cahaya keperakan yang semakin terang di tengah remang senja pegunungan.

❖ ❖ ❖

Suasana di sekitar kolam es mendadak menjadi sangat sunyi. Hanya terdengar deru angin pegunungan yang bergesekan dengan dinding tebing batu. Tera berdiri tepat di bibir kolam es yang licin, memusatkan pandangannya pada satu titik di mana bunga Teratai Salju mekar sempurna dengan kelopak putih bersih dan benang sari berwarna keemasan.

"Hati-hati, Tera! Jangan sampai kakimu terpeleset ke dalam air es itu," seru Chafia memperingatkan dari tempatnya berdiri bersama Zahra yang sedang merapikan sisa-sisa wadah obat.

Tera menganggukkan kepalanya tanpa mengalihkan pandangan. Ia membungkuk perlahan, merentangkan tangan kanannya yang kini telah dilapisi oleh cairan penawar suci buatan Zahra. Begitu ujung jarinya mendekati kelopak bunga ajaib tersebut, hawa dingin yang luar biasa dahsyat mendadak menghantam udara di sekitarnya, menciptakan suara mendesis nyaring seolah air bertemu dengan besi panas.

Ssssshhh!

Lihat selengkapnya