SERI 3: TERATAI MEKAR DI PUNCAK BROMO

Amrullah Ibrahim
Chapter #16

Pertarungan Sengit di Tepi Kawah

Angin malam di kawasan Gunung Bromo berembus kencang, membawa serta bau belerang yang menyengat dari dalam perut bumi. Di bibir kawah yang menganga lebar, pijaran api samar terlihat menyala dari dasar kawah, berpadu dengan kepulan uap panas yang membubung tinggi ke langit gelap gulita. Tempat itu terkenal angker, sebuah garis batas antara dunia manusia dan kekuatan alam yang liar.

Di sinilah pertarungan sengit pecah di bibir kawah Bromo yang beruap panas.

Arya berdiri tegak dengan kuda-kuda kokoh, napasnya memburu melawan udara tipis pegunungan yang dingin. Di hadapannya, sesosok bayangan berjubah hitam melayang rendah di atas tanah berpasir vulkanik. Orang itu adalah Hantu Kawah, pendekar sesat yang ditakuti karena penguasaannya atas ilmu hitam tingkat tinggi dari pegunungan Tengger.

"Kau tidak akan bisa lolos malam ini, Arya!" suara Hantu Kawah menggelegar, serak dan bergema memantul di dinding-dinding kaldera. "Nyawamu harus dibayar dengan darah di tempat ini!"

Arya tidak gentar. Ia menggenggam erat hulu pedangnya, menyalurkan tenaga dalam ke seluruh persendian tubuhnya. "Aku datang bukan untuk mencari kematian, melainkan untuk menghentikan kejahatanmu yang sudah meresahkan warga lereng gunung!"

Tanpa banyak bicara lagi, Hantu Kawah mengamuk dengan memuntahkan pukulan Tangan Es Samudra, menciptakan gelombang hawa dingin luar biasa yang beradu langsung dengan uap belerang kawah. Suhu di sekitar bibir kawah mendadak drop secara drastis. Uap panas yang semula mengepul pekat seketika membeku menjadi serpihan kristal es yang berhamburan di udara.

"Rasakan ini!" teriak Hantu Kawah sambil mendorong kedua telapak tangannya ke depan.

Angin es yang menderu dahsyat meluncur bagai naga putih, langsung mengarah ke dada Arya. Serangan itu membawa hawa menusuk tulang yang mampu membekukan darah dalam seketika. Arya melompat mundur sejauh tiga meter, menjejakkan kakinya di atas batu karang yang rapuh untuk menghindari terjangan gelombang es tersebut.

Bum!

Benturan tenaga dalam itu menghantam batu tempat Arya berdiri sebelumnya hingga hancur berkeping-keping menjadi serpihan pasir halus. Pertarungan hidup dan mati baru saja dimulai di tepi kawah yang membara itu.

❖ ❖ ❖

"Ilmu Tangan Es Samudra milikmu memang hebat, Hantu Kawah!" seru Arya lantang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang memompa darah lebih cepat akibat hantaman hawa dingin. "Tetapi kecuranganmu tidak akan pernah menang melawan kebenaran!"

Hantu Kawah tertawa dingin, suaranya terdengar mengerikan di tengah deru angin malam. "Kebenaran? Di tempat terpencil ini, hukum yang berlaku adalah hukum yang kuat! Dan aku adalah penguasa mutlak di kawah ini!"

Kembali Hantu Kawah melesat cepat, gerakannya bagai bayangan hitam yang menembus kabut belerang. Sepasang tangannya berkelebat memukul bertubi-tubi, melepaskan gelombang demi gelombang hawa es yang membuat pandangan mata menjadi kabur. Arya mengibas-ngibaskan pedangnya, menciptakan perisai angin puyuh untuk menangkis setiap serangan yang datang dari berbagai arah.

"Arya! Awas di sebelah kananmu!" teriak Kirana dari jarak beberapa meter, gadis itu juga sibuk menghadapi dua orang pengikut setia Hantu Kawah yang mencoba menyerang dari belakang.

Arya mengalihkan pandangannya sepersekian detik, namun kelengahan kecil itu dimanfaatkan dengan baik oleh Hantu Kawah. Tokoh sesat tersebut menyarangkan sebuah tendangan keras yang dilapisi tenaga es tepat ke arah rusuk kiri Arya.

Plak!

Arya terdorong mundur hingga hampir terjatuh ke dalam jurang kawah yang menganga di belakangnya. Rasa sakit yang luar biasa menjalar di bagian rusuknya, membuat napasnya terasa sesak. Sebagian pakaian di sisi kiri tubuhnya langsung membeku dan kaku.

Lihat selengkapnya