SERI 3: TERATAI MEKAR DI PUNCAK BROMO

Amrullah Ibrahim
Chapter #17

Panah Pengusir Bayangan

Udara di sekitar Kawah Rinjani terasa sangat tipis, menusuk tulang hingga ke sumsum, tetapi Chafia tidak memedulikan dingin yang membekukan kulit wajahnya. Di hadapannya, tumbuh sebuah keajaiban alam yang hanya bisa disaksikan sekali dalam kurun waktu satu windu: Bunga Candra Kirana. Mahkotanya berkilau lembut memantulkan cahaya matahari pagi yang perlahan naik di balik punggung gunung, memancarkan aura keperakan yang menenangkan namun sangat sakral.

Chafia menarik napas dalam-dalam, menenangkan detak jantungnya yang bergemuruh bukan karena kelelahan mendaki, melainkan karena besarnya tanggung jawab yang sedang dipikul di pundaknya. Keberhasilan ekspedisi pencarian obat penawar racun leluhur ini bergantung sepenuhnya pada keberhasilannya memetik bunga tersebut tanpa merusak kelopak utamanya.

"Lakukan dengan perlahan, Chafia," bisik Risha pelan dari balik bongkahan batu besar yang terletak sekitar lima puluh langkah di sebelah barat daya. Posisi Risha berfungsi sebagai pengawas utama, memastikan tidak ada gangguan dari makhluk liar maupun musuh yang sejak kemarin membuntuti pergerakan mereka. "Getaran sekecil apapun pada akarnya bisa membuat racun alami di dalam bunga itu menguap dan kehilangan khasiatnya."

"Aku tahu, Risha," jawab Chafia dengan suara bergetar halus. Tangannya yang terbalut sarung tangan kulit khusus mulai mendekati tangkai bunga yang rapuh itu.

Namun, di balik keheningan pagi yang tampak damai, alam seolah menolak memberikan kemudahan. Dari balik dinding tebing terjal yang tertutup kabut tipis, bayangan-bayangan hitam bergerak cepat tanpa suara. Mereka adalah anak buah Hantu Kawah, kelompok pembunuh bayaran yang terkenal kejam dan tidak mengenal belas kasihan, yang telah lama mengincar pusaka dan tanaman langka di dataran tinggi tersebut.

Salah seorang pembunuh bayaran berambut panjang dengan parang berkarat di tangan kanannya merayap maju secara diam-diam. Matanya menatap tajam ke punggung Chafia yang sedang fokus membungkuk. Seringai keji terukir jelas di balik kain penutup wajahnya. Bagi sang pembunuh, ini adalah kesempatan emas untuk melumpuhkan kelompok pendekar tersebut dengan cara menculik atau membunuh peracik utama mereka secara pengecut dari arah belakang.

"Mati kau, gadis bodoh!" geram si pembunuh dalam hati. Ia mengangkat tinggi-tinggi parangnya, bersiap menebas leher Chafia yang tidak menyadari adanya ancaman maut, tepat saat jari-jari Chafia bersiap menyentuh tangkai Bunga Candra Kirana.

❖ ❖ ❖

Jarak antara pembunuh bayaran itu dengan Chafia kini hanya tinggal beberapa langkah saja. Angin kencang yang bertiup tiba-tiba meredam suara derap langkah kaki musuh, membuat situasi menjadi sangat genting dan berbahaya. Chafia yang tengah berkonsentrasi penuh pada kelopak bunga sama sekali tidak menyadari kilau bilah parang yang mulai memantulkan cahaya matahari tepat di belakang kepalanya.

"Chafia, awas di belakangmu!" teriak Risha dari posisinya yang agak jauh.

Meskipun jarak mereka terbilang cukup jauh untuk ukuran pertempuran jarak dekat, Risha tidak pernah lengah. Sepasang matanya yang tajam bagai elang gunung telah menangkap gerakan mencurigakan itu sejak detik pertama musuh keluar dari balik bayangan tebing. Tanpa membuang waktu sepersekian detik pun, Risha mencabut sebuah anak panah khusus berujung perak murni dari tabung di punggungnya.

Anak panah itu bukan senjata biasa; bagian ujungnya dilapisi serbuk logam mulia yang mampu menembus pertahanan tenaga dalam tingkat rendah sekalipun.

Dengan kecepatan yang menakjubkan dan perhitungan lintasan angin yang sangat akurat, Risha melepaskan panah berujung perak dari jarak lima puluh langkah. Busur kayunya melenting kuat, menghasilkan suara dengungan nyaring yang membelah keheningan udara pegunungan. Anak panah itu melesat membelah kabut tipis bagai kilatan cahaya perak yang mematikan.

Syuuung! Jleb!

Tepat sebelum bilah parang berkarat itu menyentuh leher Chafia, panah buatan Risha menembus lengan kanan musuh dengan telak. Tenaga dorong yang luar biasa besar dari panah tersebut membuat lengan sang pembunuh bayaran terpental ke samping, membatalkan tebasan maut yang mengarah pada Chafia.

Parang berkarat itu terlepas dari genggaman, jatuh berdenting di atas bebatuan vulkanik. Sang pembunuh bayaran menjerit kesakitan, memegangi lengannya yang kini bersimbah darah segar dan mati rasa akibat racun penawar yang melapisi batang panah perak tersebut. Ia jatuh tersungkur di atas tanah berpasir, tidak berdaya melanjutkan serangan kejutannya.

Chafia terkesiap kaget, membalikkan tubuhnya dengan napas tersengat. Matanya melebar saat melihat sosok musuh yang mengerang kesakitan di tanah, serta serpihan anak panah milik Risha yang menancap kuat di dekatnya.

"Terima kasih, Risha!" seru Chafia dengan suara penuh rasa lega yang mendalam.

"Jangan lengah, Chafia! Mereka datang dalam jumlah banyak!" balas Risha memperingatkan sambil kembali menarik dua anak panah sekaligus ke atas busurnya, memindai kegelapan di balik batu-batu besar.

❖ ❖ ❖

Peringatan Risha ternyata bukan omong kosong belaka. Jeritan kesakitan rekan mereka justru memicu kemarahan kelompok utama Hantu Kawah yang bersembunyi lebih dalam di balik celah kaldera. Dalam hitungan detik, belasan orang bertubuh tegap dengan pakaian serba hitam bermotif lidah api bermunculan dari berbagai arah, mengepung posisi Chafia dan Risha secara sempurna.

"Kalian telah berani mengusik sarang Hantu Kawah!" suara serak dan berat menggelegar dari seorang pria bertubuh gempal yang memimpin kelompok tersebut. Ia memegang sebuah gada berduri besar di tangan kirinya, sementara tangan kanannya menunjuk ke arah Risha dengan penuh kebencian. "Gadis pemanah sialan, habisi mereka semua! Jangan biarkan satupun bernyawa meninggalkan tempat ini!"

Suasana di lereng kawah mendadak berubah menjadi arena pembantaian yang menegangkan. Para anak buah Hantu Kawah langsung menyerbu maju secara beringas, mengandalkan kekuatan fisik dan jurang keputusasaan untuk menembus pertahanan kedua wanita perkasa itu.

Chafia, meskipun lebih dikenal sebagai ahli ramuan dan pengobatan, tidak tinggal diam. Ia dengan cepat mencabut belati pendek bergagang gading dari pinggangnya, memasang kuda-kuda kokoh di dekat Bunga Candra Kirana guna melindungi tumbuhan suci tersebut dari amukan musuh yang bisa menginjaknya kapan saja.

Lihat selengkapnya