SERI 3: TERATAI MEKAR DI PUNCAK BROMO

Amrullah Ibrahim
Chapter #18

Kehangatan Matahari Melawan Hawa

Angin dingin dari celah-celah tebing es menderu liar, membawa kristal-kristal salju tajam yang menyayat kulit siapa saja yang berani berdiri di hadapannya. Suasana di Kawah Salju Abadi terasa sangat membekukan, seolah setiap tetes darah di dalam tubuh dipaksa membeku seketika. Di hadapan Arka dan kawan-kawan, Hantu Kawah berdiri tegak di atas pilar es dengan jubah putih compang-camping yang berkibar diterpa badai. Makhluk atau lebih tepatnya seorang pendekar aliran sesat yang telah kehilangan kemanusiaannya itu menyeringai lebar, menampakkan gigi-gigi yang dilapisi es tipis. Tanpa peringatan, Hantu Kawah menghentakkan kedua telapak tangannya ke tanah es, melepaskan gelombang hawa es pembunuh yang merayap cepat membelah permukaan tanah, mengincar nyawa setiap orang di sana.

"Hati-hati! Hawa esnya mengandung racun pembeku darah!" seru Fathan memperingatkan sambil melompat mundur untuk menghindari jalur retakan es yang memancarkan cahaya kebiruan pekat.

"Dia semakin brutal! Jika kita terus menghindar, kita akan kehabisan tenaga sebelum sempat menyentuhnya!" balas Galin dengan napas yang mulai mengepulkan uap putih tebal akibat suhu yang teramat ekstrim.

Maya, yang berdiri di barisan belakang sambil memegang kantong obat dan jarum akupunktur peraknya, menggertakkan gigi menahan dingin yang mulai menusuk hingga ke tulang sumsumnya. "Tanganku mulai kaku! Jika ini terus berlanjut, aku tidak akan bisa meracik penawar racun esnya!" teriak Maya, berusaha mengeraskan suara di tengah deru angin badai.

Melihat kawan-kawan mulai terdesak dan lawan semakin brutal menebar maut, Arka tahu ia tidak boleh tinggal diam lebih lama lagi. Keputusannya sudah bulat. Arka melangkah tegap ke garda terdepan, memisahkan diri dari barisan pertahanan dan berdiri tepat di jalur utama gelombang hawa es yang meluncur deras ke arah mereka.

"Arka, jangan bodoh! Kau tidak bisa menahan kekuatan penuh Hantu Kawah seorang diri!" cegah Fathan dengan nada panik, berniat menyusul ke depan.

"Tahan, Fathan! Percaya padanya!" seru Galin sambil menahan bahu Fathan agar tidak membuyarkan konsentrasi Arka yang mulai memejamkan mata di tengah badai.

Arka menarik napas dalam-dalam, menyerap sisa-sisa kehangatan terakhir yang mengalir dari alam, lalu memusatkan seluruh tenaga dalam Matahari Teratai Agung ke dalam pusarannya. Seketika itu juga, getaran dahsyat bergemuruh dari dalam dada Arka. Kulitnya mulai memancarkan pendar cahaya keemasan yang sangat terang, mengalahkan silau cahaya pantulan es di sekitarnya. Hawa hangat yang luar biasa kuat terpancar keluar dari pori-pori tubuhnya, menciptakan perisai tak kasat mata yang langsung melelehkan kristal salju di sekitar radius sepuluh tombak.

"Matahari Teratai Agung: Kebangkitan Sang Surya!" teriak Arka lantang, membuka matanya yang kini menyala bagaikan bara api murni.

❖ ❖ ❖

Benturan antara hawa keemasan milik Arka dan gelombang es pembunuh dari Hantu Kawah menciptakan ledakan energi yang dahsyat di atas permukaan kawah. Suara desis air yang menguap seketika mendominasi udara, menciptakan kabut tebal putih yang mengepul pekat dan menutupi pandangan mata. Hantu Kawah terperanjat hebat, matanya melebar tak percaya melihat aliran es andalannya mendadak meleleh dan kehilangan daya cengkeramnya begitu bersentuhan dengan pendar cahaya keemasan Arka.

"Ilmu apa itu?! Bagaimana bisa tenaga dalam murahanmu menahan Hawa Es Neraka milikku?!" bentak Hantu Kawah dengan suara serak yang melengking tinggi, menunjukkan kepanikan pertamanya sejak pertarungan dimulai.

"Ilmu yang tidak akan pernah kau pahami, karena hatimu terlalu dingin oleh kebencian!" jawab Arka tegas, suaranya menggelegar menembus kepulan uap air dan deru angin badai.

Meskipun gelombang es pertama berhasil dibendung, Arka harus mengerahkan separuh dari total tenaga dalamnya untuk menahan tekanan balik yang luar biasa besar. Kaki Arka perlahan-lahan amblas sedalam tiga inci ke dalam lapisan es yang mencair akibat panas tubuhnya sendiri. Keringat deras bercucuran di pelipisnya, namun langsung menguap menjadi asap tipis sebelum sempat jatuh ke tanah.

"Arka mulai tertekan!" seru Maya dengan cemas, melihat postur tubuh Arka yang sedikit membungkuk menahan beban energi lawan.

"Kita harus membantunya mendobrak pertahanan Hantu Kawah!" ajak Galin, mengangkat tongkat baja beratnya tinggi-tinggi. "Fathan, gunakan jurus langkah bayangan untuk mengalihkan perhatian dari sisi kiri!"

"Baik! Ikuti aku!" seru Fathan, tubuhnya melesat cepat bagaikan bayangan angin puyuh di atas permukaan es, mengitari posisi Hantu Kawah dari arah samping untuk mencari celah lemparan pisau es milik musuh.

Hantu Kawah yang melihat pergerakan Fathan dan Galin mendengus sinis. Meskipun konsentrasinya terpecah oleh tekanan cahaya keemasan Arka, ia masih memiliki ribuan jarum es beracun yang tersimpan di balik jubah compang-campingnya. Tanpa menoleh, tangan kurusnya merogoh kantong jubah lalu menyebarkan jarum-jarum tersebut ke segala arah secara membabi buta.

"Kalian kira bisa meremehkanku di wilayahku sendiri?!" geram Hantu Kawah, memuntahkan setetes darah hitam ke udara untuk memperkuat kembali daya beku jarum-jarum tersebut.

Lihat selengkapnya