SERI 3: TERATAI MEKAR DI PUNCAK BROMO

Amrullah Ibrahim
Chapter #19

Pengorbanan di Puncak Sakral

Desir angin di Puncak Sakral Lembah Tengger menderu ganas, membawa serpihan es dan kristal salju yang berkilauan di bawah temaram cahaya bulan purnama. Di tengah dataran batu yang membeku, pertempuran mencapai puncaknya. Darah segar menetes dari sudut bibir Fathan, mewarnai putihnya salju menjadi merah pekat. Napasnya memburu, sementara otot-otot di kedua lengannya bergetar hebat akibat menahan gelombang tenaga dalam yang menghantam tanpa henti dari puluhan murid senior Lembah Tengger. Di sisi kanannya, Galin berdiri dengan postur setengah membungkuk, menopang tubuhnya yang nyaris roboh dengan belati pusaka yang tertancap di tanah es.

"Fathan, pertahanan kita tidak akan bertahan lebih lama lagi!" teriak Galin di tengah gemuruh angin, suaranya serak dan nyaris tenggelam oleh benturan energi.

"Tahan sebentar lagi, Galin!" balas Fathan dengan suara parau, mengerahkan sisa-sisa tenaga dalamnya untuk membentuk perisai energi transparan yang memantulkan serangan bertubi-tubi dari para pengeroyok. "Kita harus melindungi Arka dan memberi waktu bagi Tera!"

Di belakang mereka, Arka terduduk bersila dengan wajah sepucat pualam. Pemuda itu sedang berada dalam tahap kritis meditasi pemulihan setelah menerima luka dalam yang mematikan akibat hantaman tetua Lembah Tengger sebelumnya. Jika formasi perlindungan yang dibuat oleh Fathan dan Galin runtuh barang sedetik saja, gelombang kejut tenaga dalam musuh akan langsung menghancurkan meridian Arka yang rapuh dan merenggut nyawanya seketika.

Di hadapan mereka, barisan murid senior Lembah Tengger mendesak maju dengan tatapan dingin dan penuh amarah. Pemimpin mereka, seorang pendekar berambut perak dengan jubah beludru hitam bernama Kunto, melangkah maju sambil tersenyum sinis. Matanya melirik ke arah Tera yang kini sedang berlari mendaki lereng curam menuju tempat Bunga Teratai Salju tumbuh.

"Kalian bodoh karena mencoba menentang takdir Lembah Tengger!" seru Kunto dengan suara mengguntur, suaranya memecah keheningan malam pegunungan. "Gadis itu tidak akan pernah bisa menggapai Bunga Sakral. Dan kalian berdua, serta si keparat Arka di belakang kalian, akan mati di tempat ini!"

"Bacot!" geram Fathan, meludah ke tanah es. Matanya menyalang tajam menatap Kunto. "Kami tidak akan membiarkan kalian menyentuh mereka selama kami masih bernapas!"

"Bagus kalau begitu," jawab Kunto dingin. Ia mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat kepada seluruh pasukannya untuk melancarkan serangan pemungkas yang mematikan. "Hancurkan mereka tanpa sisa!"

Puluhan murid senior itu berteriak serentak, menghimpun tenaga dalam tingkat tinggi ke dalam telapak tangan mereka. Suhu udara di sekitar puncak mendadak anjlok drastis, menciptakan pusaran angin es yang siap melumat apa pun di jalur mereka. Fathan dan Galin saling bertukar pandang untuk terakhir kalinya, mengangguk mantap dalam keheningan tekad yang terpatri di dada mereka sebagai saudara seperguruan.

❖ ❖ ❖

Ledakan energi yang masif mengguncang seluruh permukaan Puncak Sakral saat puluhan murid senior Lembah Tengger melepaskan pukulan tenaga dalam secara bersamaan. Gelombang kejut berwarna kebiruan melesat bagai belati raksasa, menghantam perisai pertahanan Fathan dan Galin dengan kekuatan yang mampu meremukkan batu karang.

Bum!

Suara benturan itu memekakkan telinga. Perisai energi yang dibangun Fathan berderit nyaring, retakan demi retakan muncul di permukaannya sebelum akhirnya hancur berkeping-keping menjadi serpihan cahaya. Hantaman sisa tenaga dalam langsung menghantam tubuh Fathan dan Galin secara telak, membuat keduanya terpental jauh ke belakang dan menghantam dinding es dengan keras.

"Argh!" Fathan mengerang kesakitan, memuntahkan darah segar dalam jumlah banyak. Tulang rusuknya terasa patah, dan pandangannya mulai kabur diselimuti kegelapan.

Galin jatuh tersungkur di samping Fathan, napasnya tersengal-sengal melemah. Belati pusaka di tangannya terlepas dan meluncur jatuh ke jurang salju. "Fathan... apa... apa kita gagal?" bisik Galin terbata-bata, darah segar terus mengalir dari hidung dan telinganya.

"Belum..." jawab Fathan dengan sisa-sisa kesadaran yang ia miliki. Ia memaksakan kedua tangannya untuk mencengkeram tanah es, mengangkat tubuhnya yang babak belur meski rasanya sekujur tulangnya remuk redam. "Selama Tera belum sampai di puncak... kita tidak boleh menyerah."

Melihat kedua bersaudara itu masih berusaha bangkit, Kunto mengerutkan keningnya dengan ekspresi tidak percaya. "Kalian benar-benar keras kepala yang menyedihkan. Apakah nyawa murahan begitu berharga untuk kalian pertaruhkan?"

"Kau tidak akan pernah mengerti... arti sebuah pengorbanan..." ucap Fathan tersengal, menyeka darah di bibirnya dengan punggung tangan yang bergetar hebat.

Kunto mendengus dingin, melambaikan tangan untuk memerintahkan bawahannya maju kembali. "Kalau begitu, sambutlah kematian kalian!"

Di saat yang bersamaan, beberapa puluh meter di atas mereka, Tera merasakan getaran hebat pertempuran itu merambat lewat bebatuan tempat ia menapak. Gadis itu menoleh ke bawah sekilas, melihat Fathan dan Galin yang kini dikepung rapat oleh para musuh setelah perisai mereka jebol. Hati Tera bergetar hebat, air mata hangat menetes di pipinya, mencairkan butiran salju yang menempel di wajahnya.

"Fathan... Galin..." bisik Tera penuh kepedihan.

"Fokus pada tujuanmu, Tera!" teriak Arka dari bawah, suaranya bergetar namun penuh penekanan. "Jangan sia-siakan pengorbanan mereka! Ambil bunga itu sekarang!"

Tera menarik napas dalam-dalam, menepis rasa takut dan sedih yang bergemuruh di dadanya. Ia memalingkan wajahnya kembali ke depan, menatap lereng es terjal di hadapannya yang hanya tinggal beberapa langkah lagi menuju tempat Bunga Teratai Salju mekar dengan cahaya keemasan yang suci.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya