Angin dingin pegunungan Bromo berhembus semakin menusuk tulang menjelang detik-detik pergantian malam menuju fajar. Di sebuah ceruk tersembunyi yang dikelilingi oleh dinding batu karang purba dan uap belerang yang mengepul tipis, udara terasa jauh lebih hening dan sakral. Di tempat inilah, tersembunyi dari pandangan mata awam, tumbuh sebuah keajaiban alam yang selama puluhan tahun hanya menjadi mitos di kalangan dunia persilatan Nusantara: Bunga Teratai Salju.
Tera berdiri terpaku di depan ceruk batu tersebut. Jubah putihnya berkibar pelan ditiup angin pagi yang membawa kristal-kritis es kecil. Di tangannya, sebuah tabung giok putih bersih yang memancarkan pendar lembut digenggam erat-erat dengan penuh kehati-hati. Matanya menatap lurus ke arah kuncup bunga yang berada di tengah kolam air hangat alami bercampur belerang. Kuncup itu perlahan-lahan mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Lembaran-lembaran kelopaknya yang berwarna putih transparan seperti kristal es mulai bergerak merekah, mengeluarkan wangi harum semerbak yang mampu mengusir bau belerang yang pekat di sekitarnya.
"Waktunya sudah tiba," bisik Tera pelan kepada dirinya sendiri, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin pagi.
Di belakangnya, beberapa langkah darinya, Arya berdiri berjaga dengan pedang keperakannya yang siap siaga. Napas Arya terdengar sedikit tersengal akibat pertempuran sengit yang baru saja mereka lewati semalam melawan sisa-sisa anak buah Hantu Kawah Berwajah Besi. Meskipun musuh utama telah jatuh ke jurang kawah, sisa-sisa pengikut kelompok hitam itu dikabarkan masih berkeliaran di sekitar lautan pasir, berniat merampas pusaka suci tersebut demi kepentingan kelompok mereka yang haus kekuasaan.
"Tera, jaga konsentrasi dan keselamatanmu. Aku merasakan hawa kehadiran orang-orang bermata-mata dari arah timur laut," seru Arya tanpa mengalihkan pandangannya dari kabut pasir yang membentang di kejauhan.
Tera tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk kecil, menghela napas panjang untuk menenangkan degup jantungnya yang bergemuruh hebat. Gadis dari perguruan lembah utara itu tahu betul bahwa memetik Bunga Teratai Salju bukanlah perkara mudah. Pusaka itu memiliki energi panas dan dingin yang saling bertolak belakang; sedikit saja kesalahan dalam teknik genggaman tangan, bunga itu akan hancur lebur menjadi debu dalam sekejap, menghilangkan satu-satunya harapan untuk menyembuhkan guru mereka yang sedang sekarat di padepokan.
Sinar matahari pagi pertama mulai mengintip dari balik garis horison timur, membiaskan warna keemasan yang sangat indah di atas lautan pasir Bromo. Cahaya keemasan itu menyentuh permukaan kelopak Teratai Salju yang tengah merekah, menciptakan pantulan cahaya pelangi yang memesona di dalam gua batu karang tersebut.
❖ ❖ ❖
Keindahan pemandangan itu seketika buyar ketika suara gemerisik langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar memecah kesunyian dari arah jalan setapak tebing utara.
"Tahan mereka, Arya! Jangan biarkan mereka mendekat ke ceruk ini sebelum proses pemetikan selesai!" teriak Tera dengan suara yang sedikit bergetar namun tegas.
Dari balik tirai kabut pagi yang mulai menipis, muncul tiga orang pendekar berbadan tegap mengenakan jubah abu-abu berornamen kepala serigala—tanda khas dari kelompok sisa-sisa pengikut Hantu Kawah Berwajah Besi yang dipimpin oleh seorang algojo bernama Ki Rante. Wajah Ki Rante tampak bengis dengan bekas luka parut memanjang dari pelipis hingga ke ujung dagunya.
"Bocah keparat! Ternyata kalian berdua bersembunyi di tempat ini!" bentak Ki Rante dengan suara menggelegar, sementara tangannya langsung meraba hulu golok bermata lebar yang terselip di pinggangnya. "Serahkan Teratai Salju itu sekarang juga, atau kubuat kalian mati tercincang di lembah pasir ini!"
Arya melangkah maju, menempatkan tubuhnya tepat di antara posisi Tera dan kelompok Ki Rante. Pedang pusakanya diangkat setinggi dada, bilahnya memancarkan pendar cahaya keperakan yang tajam menyambut sinar matahari pagi.
"Kalian sudah terlambat, Ki Rante. Pimpinan kalian sudah binasa di dasar kawah, dan hari ini riwayat kelompok hitam kalian juga akan segera berakhir di tangan kami," jawab Arya dengan nada dingin dan penuh wibawa.
Ki Rante tertawa terbahak-bahak, suara tawanya memantul di dinding-dinding batu karang, terdengar sangat memuakkan. "Bocah bodoh! Hantu Kawah memang ceroboh, tapi ilmu Golok Pembelah Mega milikku tidak akan semudah itu dikalahkan. Maju kalian semua, habisi pendekar lembah selatan itu!"
Syuut! Syuut!
Dua anak buah Ki Rante langsung melompat menerjang ke depan secara bersamaan, mengayunkan pedang pendek bermata ganda dengan kecepatan tinggi. Arya menyipitkan mata. Tanpa membuang waktu, ia menyambut terjangan tersebut dengan jurus Bayangan Angin Selatan. Tubuhnya berkelebat laksana bayangan angin, menghindari tebasan pertama lalu melancarkan tusukan kilat ke arah lambung lawan.
Trang! Whush!
Pertempuran jarak dekat yang sengit langsung pecah di area mulut ceruk batu. Suara benturan logam berderik nyaring, beradu dengan desau angin pedang yang membelah udara pagi Bromo yang dingin. Arya harus membagi konsentrasinya; di satu sisi ia harus menghadapi serangan membabi buta dari dua anak buah Ki Rante, sementara di sisi lain ia harus terus memantau pergerakan Ki Rante yang mulai mengincar celah untuk menyelinap ke arah Tera yang sedang bersiap memetik bunga suci tersebut.