SERI 3: TERATAI MEKAR DI PUNCAK BROMO

Amrullah Ibrahim
Chapter #21

Tumbangnya Hantu Kawah Berwajah Besi

Angin malam di puncak Gunung Bromo menderu kencang, membawa partikel debu vulkanik dan bau belerang yang pekat. Di hadapan kawah yang menyemburkan pijaran api merah keemasan, Arka berdiri dengan jubah abu-abunya yang berkibar tenang. Di depannya, Hantu Kawah Berwajah Besi tegak dengan topeng logam legam yang memantulkan cahaya api kawah. Topeng itu menyembunyikan ekspresi sang iblis, namun aura membunuh yang terpancar dari tubuhnya terasa begitu mencekam, membuat udara di sekitar mereka seolah membeku.

Melihat buruannya terlepas, Hantu Kawah nekat menerjang Arka dengan sisa seluruh tenaga dalamnya. Arka menyambutnya dengan jurus puncak Matahari Menerangi Bumi. Benturan dua tenaga dalam raksasa meledak hebat di atas puncak Bromo! Hantu Kawah terlempar jatuh dan topeng besinya hancur, memusnahkan kesaktian iblisnya untuk selamanya.

"Arka! Hati-hati, orang tua itu sudah kehilangan akal sehatnya!" teriak Tera dari kejauhan, suaranya hampir tenggelam di tengah deru angin gunung yang semakin beringas.

Tera dan sahabat-sahabat lainnya terpaksa menjaga jarak karena tekanan tenaga dalam yang dilepaskan Hantu Kawah begitu dahsyat, mampu meremukkan batu karang dalam radius belasan meter.

Hantu Kawah tidak memedulikan teriakan itu. Ia menggeram rendah, suara dengusannya bagaikan monster yang keluar dari dasar neraka. Topeng besinya bergetar hebat seiring dengan aliran tenaga dalam hitam pekat yang mendidih di sekujur tubuhnya.

"Bocah keparat!" teriak Hantu Kawah dengan suara serak yang memecah keheningan malam. "Kau mengacaukan rencana yang telah ku bangun selama puluhan tahun! Puspa Teratai Salju itu adalah hakku! Hari ini, aku akan meremukkan tulang-tulangmu dan menyerahkan jiwamu pada api kawah!"

Arka menatap musuhnya dengan ketenangan yang luar biasa. Tidak ada secercah pun rasa gentar di wajahnya. Ia mengangkat tangan kanannya perlahan, jemarinya membentuk gestur lembut namun memancarkan kehangatan yang kontras dengan dinginnya malam di puncak gunung.

"Keserakahan telah membutakan mata hatimu, Paman," ucap Arka dengan nada tenang namun tegas. "Ilmu tinggi yang kau miliki seharusnya digunakan untuk melindungi sesama, bukan untuk menindas dan merampas hak orang lain. Kesesatanmu berakhir di sini."

"Omong kosong!" bentak Hantu Kawah.

❖ ❖ ❖

Tanpa peringatan lagi, Hantu Kawah melesat ke depan bagaikan bayangan hitam yang membelah kegelapan malam. Topan tenaga dalam hitam membungkus tubuhnya, menciptakan pusaran angin beracun yang menghancurkan setiap batu karang yang dilaluinya. Ia mengayunkan kedua belah tangannya, melepaskan ribuan jarum es beracun yang meluncur deras langsung ke arah Arka dari berbagai penjuru mata angin.

"Hati-hati dengan jarum itu!" seru Bima yang menonton dari balik batu besar, mengepalkan tinjunya erat-erat karena cemas.

Namun, Arka tetap tidak bergeming dari tempatnya berdiri. Sesaat sebelum jarum-jarum beracun itu menyentuh tubuhnya, Arka menarik napas dalam-dalam. Semburat cahaya keemasan terpancar dari telapak tangannya, membentuk perisai transparan yang berputar halus mengelilingi dirinya.

Kring! Kring! Kring!

Suara benturan logam terdengar nyaring ketika ribuan jarum es beracun itu menghantam perisai cahaya milik Arka dan terpental jatuh ke tanah, mencair seketika menjadi uap putih yang berbau menyengat.

Hantu Kawah terperanjat ketiadaan hasil dari serangan telak tersebut. Namun, alih-alih mundur, ia justru meningkatkan aliran tenaga dalamnya hingga batas maksimal. Urat-urat di lehernya menonjol keluar, dan topeng besi di wajahnya mulai memancarkan cahaya merah darah yang menyilaukan.

"Jika jarum-jarum itu tidak bisa membunuhmu, terimalah hancuran Tapak Tengkorak Neraka!" murka Hantu Kawah.

Ia melompat tinggi ke udara, lalu meluncur turun dengan kecepatan kilat, menghantamkan kedua telapak tangannya langsung ke arah kepala Arka. Tekanan angin dari serangan tersebut begitu kuat hingga permukaan tanah di sekitar Arka amblas sedalam setengah kaki, menciptakan kawah kecil akibat hantaman tenaga dalam yang luar biasa pekat.

Lihat selengkapnya