Hembusan angin malam di puncak Gunung Bromo terasa begitu dingin, membawa serta bau belerang yang pekat dan sisa-sisa abu vulkanik yang bertebaran di atas tanah hitam. Di balik sebuah batu karang besar yang terlindung dari terpaan angin kencang, Arka dengan hati-hati membuka kotak giok kecil yang sejak tadi ia dekap erat di dalam jubahnya. Cahaya keperakan yang lembut langsung memancar keluar, menerangi wajah lelah para pendekar yang duduk melingkar di sekitarnya.
Di dalam kotak giok itu, Bunga Teratai Salju masih tampak segar, seolah baru saja dipetik langsung dari embun pagi pegunungan es. Kelopaknya yang menyerupai kristal es memantulkan binar cahaya bintang yang mulai nampak di sela-sela kepulan asap kawah yang berangsur-angsur mereda.
Tera, sang tabib muda dari Perguruan Teratai Agung, menghela napas panjang penuh rasa syukur. Air mata kelegaan tampak menggenang di pelupuk matanya. "Syukurlah... Bunga ini masih utuh dan tidak kurang suatu apa pun. Dengan inti sari bunga ini, racun jahat di dalam tubuh Sang Guru Agung pasti bisa dinetralkan sepenuhnya."
"Perjuangan panjang kita tidak sia-sia," ucap Kamil dengan nada suara yang terdengar lega, menyandarkan punggungnya pada dinding batu sambil memijat pelipisnya yang berdenyut karena kelelahan luar biasa. "Kita berhasil melewati jebakan berlapis dan mengalahkan para pengawal gerbang neraka."
Namun, di tengah suasana kelegaan yang menyelimuti kelompok tersebut, perhatian mereka mendadak teralih ke arah Hantu Kawah—musuh tangguh yang sebelumnya berhasil mereka lumpuhkan di dekat dinding kawah—yang kini terkapar bersandar lemah pada gundukan batu. Napas pendekar sesat itu terdengar satu-satu, sangat berat dan tersengal-sengal, menandakan bahwa sisa usianya di dunia fana ini tinggal menghitung detik akibat hantaman tenaga dalam yang merusak organ dalamnya sendiri.
Azalia melangkah mendekat dengan waspada, tangan kanannya tetap bersiaga di dekat gagang pedang di pinggangnya. "Jangan bergerak terlalu banyak, atau lukamu akan semakin parah."
Hantu Kawah justru tersenyum lemah, menyemburkan sedikit darah segar dari sudut bibirnya. Senyuman itu tampak mengerikan di wajahnya yang penuh luka bakar. "Kalian... kalian memang hebat. Anak-anak muda dari berbagai perguruan yang berhasil meruntuhkan pertahanan kami di Bromo..." bisiknya dengan suara serak yang hampir tertelan oleh desau angin malam.
Risha menatap tajam ke arah lelaki tua itu. "Kenapa kalian tega meracuni Sang Guru Agung? Apa salah perguruan kami pada Aliansi Bayangan Hitam?"
Hantu Kawah menggelengkan kepalanya perlahan, tawanya berubah menjadi batuk kecil yang menyakitkan. "Kalian mengira... kami adalah dalang utama dari semua kekacauan ini? Kalian terlalu naif..."
Arka mengerutkan kening, merasakan ada rahasia besar yang tersembunyi di balik ucapan pendekar sesat tersebut. Ia berlutut di sebelah Hantu Kawah, mendekatkan telinganya agar bisa menangkap setiap kata terakhir yang keluar dari bibir pria sekarat itu. "Apa maksudmu? Siapa sebenarnya yang memerintahkan penyerangan ini?"
Sebelum maut merenggut nyawanya, Hantu Kawah membisikkan sebuah pengakuan yang membuat seluruh darah para pendekar yang mendengarnya mendadak berdesir hebat. Petunjuk itu membuka tabir kegelapan yang jauh lebih luas dan mengerikan dari sekadar konflik antar perguruan di tanah Jawa.
❖ ❖ ❖
Bisikan terakhir Hantu Kawah menggantung di udara dingin malam Bromo, meninggalkan keheningan yang mencekam di antara kesepuluh sahabat tersebut. Fathan mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, sementara Galin menatap kosong ke arah tanah berdebu di hadapannya.
"Organisasi rahasia bergambar Teratai Merah..." gumam Kamil pelan, mengulangi kata-kata terakhir Hantu Kawah dengan kening berkerut dalam. "Selama ini kita mengira Aliansi Bayangan Hitam bergerak atas keinginan mereka sendiri untuk menguasai dunia persilatan. Ternyata mereka hanyalah pion dari kekuatan yang jauh lebih besar."
"Di mana pusat kendali mereka?" tanya Arka kepada Hantu Kawah yang kini telah menutup matanya untuk selama-lamanya. Namun, pertanyaan itu tidak akan pernah mendapatkan jawaban lagi, karena sang pendekar sesat telah menghembuskan napas terakhirnya beberapa detik sebelumnya.
Tera menunduk, merapikan jubah Hantu Kawah sebagai bentuk penghormatan terakhir meskipun pria itu adalah musuh mereka. "Ia sempat menyebutkan satu wilayah sebelum kesadarannya benar-benar hilang... Tanah Sunda. Organisasi Teratai Merah berpusat di wilayah pegunungan priangan di tanah Sunda."
"Tanah Sunda..." Risha mendesis pelan, melipat tangan di dadanya. "Wilayah barat yang penuh dengan lembah tersembunyi dan kabut abadi. Tempat itu terkenal memiliki sejarah perguruan silat kuno yang misterius dan tertutup dari dunia luar."
Azalia bangkit berdiri, menatap rekan-rekannya dengan sorot mata yang menyala oleh tekad baru. "Jika benar organisasi ini yang meracuni Sang Guru Agung dan mengendalikan kaum hitam, maka keselamatan dunia persilatan tidak akan pernah aman selama Teratai Merah masih berdiri. Kita tidak boleh membiarkan mereka leluasa merencanakan kehancuran lebih lanjut."
"Tetapi kita harus kembali dulu ke Perguruan Teratai Agung," sela Fathan mengingatkan prioritas utama mereka. "Ingat, tujuan utama kita datang ke Bromo adalah menyelamatkan Sang Guru Agung. Bunga Teratai Salju sudah ada di tangan Tera. Kita harus segera membawanya pulang sebelum terlambat."
Kamil mengangguk menyetujui pendapat Fathan. "Fathan benar. Keselamatan Sang Guru Agung adalah yang utama. Kita akan kembali ke perguruan, menyerahkan penawar racun ini kepada para tabib senior, dan memastikan beliau pulih sepenuhnya."
Perjalanan kembali dari puncak Gunung Bromo menuju Perguruan Teratai Agung dilakukan dengan kecepatan penuh namun dalam suasana yang lebih tenang. Meskipun kelelahan fisik masih mendera sekujur tubuh mereka, keberhasilan mendapatkan Bunga Teratai Salju memberikan suntikan semangat tersendiri. Setibanya di paviliun utama perguruan, Tera langsung menyerahkan kotak giok berisi bunga tersebut kepada dewan tabib agung.
Proses penetralan racun berlangsung selama tiga hari tiga malam penuh di dalam ruang khusus yang dijaga ketat oleh para tetua. Selama waktu itu, Arka, Kamil, dan kedelapan sahabat lainnya bergantian menjaga di luar ruangan, menunggu dengan cemas perkembangan kondisi Sang Guru Agung.
Pada pagi hari keempat, pintu ruang pengobatan perlahan terbuka. Seorang tabib senior keluar dengan senyuman terukir di wajahnya, mengabarkan berita yang telah mereka nantikan dengan penuh debar: Sang Guru Agung telah sadar, dan racun jahat di dalam tubuhnya berhasil dibersihkan sepenuhnya.
❖ ❖ ❖