Kepulan Asap di Lembah Parahyangan
Suara derap kuku kuda memecah keheningan pagi di lereng bukit Parahyangan. Kabut tipis masih merayap di antara pepohonan pinus, menyembunyikan jalan setapak berbatu yang licin oleh embun. Empat ekor kuda melesat bagai bayangan hitam, membawa penunggang berbusana serba putih dengan lambang bunga teratus perak tersulam di dada kiri mereka. Mereka adalah para pendekar pilihan dari Perguruan Teratai Agung, sebuah nama yang disegani sekaligus ditakuti di tanah Pasundan.
"Tahan laju kuda kalian!" seru Arya, pendekar muda bermata tajam yang memimpin barisan depan. Ia menarik tali kekang kudanya hingga binatang kekar itu meringkik dan mengangkat dua kaki depannya ke udara.
Tiga pendekar di belakangnya seketika menghentikan kuda mereka dengan mulus. Sasmita, pendekar wanita dengan pedang panjang tersampir di punggung, maju mendekati Arya. Wajahnya menyiratkan keletihan yang amat sangat setelah menempuh perjalanan tanpa henti selama tiga hari tiga malam.
"Ada apa, Arya? Kenapa kita berhenti?" tanya Sasmita dengan napas memburu.
Arya tidak langsung menjawab. Ia memicingkan mata, menatap ke arah lembah di bawah sana yang seharusnya menjadi tempat berdirinya gerbang utama perguruan mereka. Alih-alih pemandangan atap genting berukir naga dan patung-patung batu yang megah, yang tampak kini hanyalah gumpalan asap hitam pekat mengepul angkuh menembus langit pagi. Bau hangus kayu terbakar dan anyir darah terbawa angin lembah, menyengat hidung mereka dengan kejam.
"Lembah kita... telah diserang," desis Arya, suaranya bergetar antara kemarahan dan ketakutan yang mendalam.
Bagas, pendekar bertubuh paling besar yang membawa sebuah bungkusan kain tebal di dekapannya, menggeram tertahan. "Bangsat mana yang berani menginjakkan kaki di tanah suci Teratai Agung? Padahal Sang Guru Agung sedang berada dalam masa pemulihan akibat racun Kala Hitam!"
"Jangan gegabah, Bagas," potong Ki Wirya, pendekar paling senior di antara mereka yang berambut separuh memutih. Wajah tua Ki Wirya mengeras, kerutan di keningnya semakin dalam. "Bau asap ini masih hangat. Penyerangan ini pasti belum lama terjadi. Kita harus tetap waspada dan tidak boleh bertindak bodoh."
Arya mengangguk menyetujui perkataan Ki Wirya. Tangannya perlahan meraba hulu pedang pusaka di pinggangnya. "Ki Wirya benar. Tugas utama kita saat ini adalah membawa Bunga Teratai Salju sampai ke tangan Sang Guru Agung. Tanpa bunga itu, racun Kala Hitam akan merenggut nyawanya sebelum matahari terbenam."
Bagas mempererat dekapannya pada bungkusan kain tebal di dadanya. Di dalam bungkusan itu, tersimpan sekuntum bunga langka yang bersinar lembut dengan pendar kebiruan, memancarkan hawa sejuk yang mampu meredam panasnya racun paling mematikan sekalipun. Bunga itu didapatkan setelah mereka bertaruh nyawa mendaki Puncak Himalaya selama berbulan-bulan.
"Mari kita lanjutkan perjalanan dengan menyusup lewat jalur rahasia di balik air terjun," usul Sasmita sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Jalur itu tidak akan dilewati oleh musuh karena tertutup lebatnya semak belukar dan jebakan kuno."
"Keputusan yang bijak, Sasmita. Bergeraklah dalam diam. Jangan tinggalkan jejak," perintah Arya.
Keempat pendekar itu turun dari kuda mereka dan membiarkan hewan-hewan penurut itu bersembunyi di balik semak tebal. Mereka bergerak cepat tanpa suara, menyusup di antara bebatuan besar dan rimbunnya pakis liar. Setiap langkah dihitung cermat, menyatu dengan alam sekitar yang kini terasa jauh lebih kelam dari biasanya.
Setibanya di dekat air terjun tersembunyi, pemandangan yang tersaji di balik tirai air membuat darah Arya mendidih. Gerbang batu besar yang menjadi simbol kejayaan Perguruan Teratai Agung telah hancur berkeping-keping. Puing-puing bangunan berserakan di atas tanah yang basah oleh darah segar. Mayat para murid tingkat rendah bergelimpangan dalam posisi yang mengenaskan, membuktikan bahwa pertempuran yang terjadi sebelumnya tidak mengenal ampun.
❖ ❖ ❖
Arya melangkah masuk lebih jauh melewati reruntuhan gerbang, matanya menyapu setiap sudut halaman utama yang kini tampak sunyi mencekam. Hening yang tercipta bukanlah keheningan yang damai, melainkan ketenangan sebelum badai besar melanda.
"Periksa keadaan sekitar, tapi jangan terpancing keluar," bisik Arya kepada rekan-rekannya.
Belum sempat Sasmita melangkah ke arah balai utama, sebuah suara tawa renyah yang terdengar janggal memecah keheningan. Suara itu menggema dari balik pilar batu yang separuh runtuh, bernada meremehkan dan penuh tipu muslihat.
"Selamat datang kembali di rumah, para tikus kecil yang kelelahan," ujar sebuah suara berat yang disusul oleh kemunculan sesosok pria bertubuh tegap mengenakan jubah merah darah. Di punggungnya tersandang sebilah golok besar berpola lidah api.
Arya langsung mengenali pria itu. Jantungnya berdegup kencang. "Ki Ranu! Jadi kau pengkhianat di balik kehancuran perguruan ini!"
Ki Ranu menyeringai lebar, menampakkan deretan giginya yang kekuningan. Ia melangkah maju perlahan, kedua tangannya bersidekap di dada. Matanya menatap keempat pendekar muda itu dengan pandangan lapar, seolah sedang melihat mangsa empuk yang berjalan sendiri ke dalam perangkap.
"Pengkhianat adalah kata yang terlalu kasar, Arya," jawab Ki Ranu dengan nada santai yang dibuat-buat. "Aku hanya memilih pihak yang lebih kuat. Perguruan Teratai Agung sudah berada di ambang kehancuran sejak Sang Guru Agung membiarkan aliran ilmu kita melemah demi kedamaian palsu."
"Keparat kau, Ki Ranu!" bentak Bagas, urat-urat di lehernya menonjol keluar menahan amarah. Ia hendak melompat menerjang, namun Ki Wirya dengan sigap menahan bahu pemuda itu.
"Tahan amarahmu, Bagas. Itu yang dia inginkan," cegah Ki Wirya dengan suara tenang namun tegas. Orang tua itu menatap tajam ke arah Ki Ranu. "Berapa banyak murid yang kau bantai demi ambisimu yang busuk itu, Ranu?"
Ki Ranu tertawa terbahak-bahak, tawanya memantul di dinding-dinding lembah yang hangus. "Semua yang menentangku telah pergi menemui leluhur mereka. Dan sekarang, giliran kalian berempat menyerahkan Bunga Teratai Salju itu kepadaku. Tuan Besar di atas sana sangat menginginkan bunga tersebut."
Sasmita merapatkan genggamannya pada hulu pedang. "Tuan Besar? Jadi kau hanya menjadi anjing peliharaan dari seseorang yang bahkan tidak berani menampakkan wajahnya?"
Senyum di wajah Ki Ranu seketika memudar, digantikan oleh sorot mata dingin penuh ancaman. "Jaga mulutmu, perempuan jalang! Kalian tidak punya pilihan lain. Menyerah dan berikan bunga itu, atau kubuat kalian mati dalam siksaan yang lebih kejam daripada murid-murid yang tergeletak di sana."
Arya melangkah maju satu langkah, menempatkan dirinya di depan rekan-rekannya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam gejolak emosi di dalam dadanya. Ia tahu persis kekuatan Ki Ranu; pendekar aliran darah merah itu menguasai jurus Pukulan Tapak Neraka yang mampu meremukkan tulang dari jarak jauh.
"Kami tidak akan pernah menyerahkan Bunga Teratai Salju kepada pengkhianat sepertimu," ucap Arya lantang, suaranya menggetarkan udara sekitar. "Lebih baik kami mati mempertahankan kehormatan perguruan daripada hidup bersimbah nista!"
"Bagus! Keputusan yang sangat berani, tapi bodoh," maki Ki Ranu. Ia mengangkat tangan kanannya ke udara.
Seketika itu juga, dari balik reruntuhan bangunan dan semak-semak di sekeliling halaman, puluhan orang berbusana hitam bermasker kain merah bermunculan. Mereka membawa senjata tajam berupa tombak dan pedang pendek, mengepung Arya dan kawan-kawannya dari segala penjuru. Lingkaran pengepungan itu menutup rapat, tidak menyisakan sedikit pun ruang untuk melarikan diri.
❖ ❖ ❖
Suasana di halaman utama Perguruan Teratai Agung mendadak berubah menjadi medan pembantaian yang siap meledak. Puluhan prajurit bayaran berbusana hitam berdiri kaku membentuk pagar betis, mengunci setiap jengkal ruang gerak Arya dan rekan-rekannya.
"Habisi mereka! Ambil bunga itu utuh-utuh, dan bawa kepala Arya kepadaku!" perintah Ki Ranu dengan suara menggelegar penuh kebencian. Ia melangkah mundur ke belakang barisan pasukannya, membiarkan anak buahnya maju terlebih dahulu.
"Lindungi Bagas dan Bunga Teratai Salju!" seru Ki Wirya memberikan komando terakhir sebelum huru-hara pecah.