Udara di dalam gua pertapaan terasa begitu pekat, seolah ikut menanggung beban berat yang menggelayuti fisik Guru Agung. Di hadapan altar batu yang beralaskan lumut hijau lembut, Zahra dan Chafia bekerja dalam kesunyian yang khusyuk. Tidak ada suara selain desau angin malam yang menembus celah-celah tebing dan detak jantung mereka yang berkejaran dengan waktu. Di atas nampan kayu jati tua, kelopak Bunga Teratai Salju—harta karun legendaris yang mereka pertaruhkan nyawa untuk mendapatkannya—berkilau memantulkan cahaya temaram dari obor dinding.
"Kita harus memastikan takaran ekstrak akarnya pas, Chafia," bisik Zahra, suaranya bergetar tipis menahan lelah yang teramat sangat. Tangannya yang memegang alu batu tampak begituhati-hati menumbuk bagian mahkota bunga suci tersebut agar sari-sarinya keluar dengan sempurna tanpa merusak kandungan enzim alaminya.
Chafia mengangguk mantap, keringat dingin masih bercucuran di pelipisnya meski suhu di dalam gua pertapaan itu terbilang sangat dingin. Matanya menatap lekat mangkuk porselen tempat cairan bening mulai berkumpul. "Aku sudah menyiapkan air embun pegunungan yang disaring dengan kain sutra putih. Jangan khawatir, Zahra. Keyakinan kita tidak boleh goyah di detik-detik penentuan ini."
Dengan ketelitian luar biasa yang lahir dari latihan bertahun-tahun di bawah bimbingan sang guru, mereka meracik Bunga Teratai Salju menjadi ramuan penawar berwarna keperakan. Aroma harum yang menenangkan langsung menguar memenuhi ruangan, mengusir bau lembap dan anyir darah yang sebelumnya mendominasi.
Zahra mendekati pembaringan tempat Guru Agung terbaring lemah. Wajah sepuh itu tampak sangat pucat, tertutup selaput kehitaman yang menjalar dari leher hingga ke pelipis—tanda racun mematikan dari aliran sesat sedang menggerogoti organ vitalnya. Tanpa ragu, Zahra mengangkat kepala sang guru secara perlahan, menopangnya di atas pangkuannya, sementara Chafia meneteskan ramuan penawar itu sedikit demi sedikit ke bibir sang guru yang kering dan pecah-pecah.
"Minumlah, Guru," gumam Zahra penuh harap. "Kami berhasil membawanya untuk Anda."
Beberapa saat lamanya tidak ada reaksi apa pun. Gua terasa begitu senyap, seolah alam semesta pun menahan napas menyaksikan detik-detik kritis tersebut. Namun, keajaiban yang mereka nantikan akhirnya tiba. Hanya dalam beberapa jam setelah ramuan itu diminumkan secara berkala, desau napas Guru Agung yang tadinya terdengar berat dan tersengal-sengal mulai berangsur teratur.
Perlahan tapi pasti, hawa hitam pekat yang merayap di wajah sang guru mulai memudar, mencair bagaikan tinta yang larut dalam air bersih. Aliran energi hangat berwarna keemasan tampak terpancar kembali dari dalam dada sang guru, melawan sisa-sisa racun jahat yang masih mencoba bertahan.
Chafia mengepalkan kedua tangannya di depan dada, napasnya lega luar biasa. "Lihat, Zahra! Racun itu mulai menyerah!"
❖ ❖ ❖
Kelopak mata Guru Agung yang telah tertutup rapat selama berhari-hari akhirnya bergerak. Bulu matanya yang memutih bergetar, lalu terbuka perlahan. Sorot mata yang dulu begitu tajam dan berwibawa kini tampak sayu, namun kilatan kebijaksanaan khas seorang pemimpin besar tetap terpancar jelas dari sana. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya obor yang bergoyang di dinding gua.
"Zahra... Chafia..." Suara sang guru parau, hampir tak terdengar, namun berhasil membuat kedua murid setianya itu langsung bersimpuh sujud dengan air mata berlinang bahagia.
"Kami di sini, Guru," jawab Zahra dengan suara tercekat di tenggorokan. Ia menggenggam jemari sang guru yang terasa begitu dingin. "Anda sudah selamat. Ramuan Teratai Salju berhasil membersihkan racun di tubuh Anda."
Guru Agung mencoba untuk bangkit, namun tubuhnya masih terlalu lemah akibat energi dalam yang terkuras habis. Chafia sigap membantu menyandarkan punggung sang guru pada dinding batu yang telah dilapisi kain tebal.
"Kalian bodoh..." ucap Guru Agung pelan, meski ada kehangatan tersendiri di dalam nada suaranya. "Teratai Salju bukanlah bunga biasa yang bisa dipetik dengan mudah. Penjaga lembah es itu terkenal kejam. Mengapa kalian mempertaruhkan nyawa demi orang tua yang hampir mati ini?"
"Kami tidak mungkin tinggal diam melihat Anda meregang nyawa karena racun pengecut itu, Guru," sahut Chafia tegas, menatap lurus ke mata sang guru. "Tanpa bimbingan Anda, perguruan kita akan kehilangan arah, dan dunia persilatan akan jatuh ke dalam kegelapan."
Mendengar perkataan muridnya, Guru Agung menggelengkan kepalanya perlahan. Raut wajahnya yang tadinya tenang tiba-tiba berubah drastis. Kerutan di dahinya semakin dalam, menyiratkan kecemasan yang teramat sangat, seolah kesembuhan fisiknya sama sekali tidak ada artinya jika dibandingkan dengan ancaman besar yang kini sedang mengintai di luar sana.
"Kalian mengira racun ini datang dari musuh biasa?" Guru Agung mencengkeram lengan Zahra dengan sisa-sisa tenaganya, membuat sang murid terkesiap. "Kalian salah besar. Racun ini adalah tanda peringatan. Organisasi Teratai Merah... mereka telah kembali."
Nama itu disebut, dan udara di dalam gua mendadak terasa membeku. Zahra dan Chafia saling berpandangan dengan rasa ngeri yang menjalar di dada mereka. Organisasi Teratai Merah adalah bayangan masa lalu yang paling mengerikan, sindikat pembunuh bayaran sekaligus aliran hitam yang selama puluhan tahun dianggap telah musnah setelah perang besar di masa lalu.
"Teratai Merah...?" cicit Chafia, suaranya bergetar hebat. "Bagaimana mungkin? Bukankah para petinggi mereka telah tewas dalam pemusnahan massal?"
"Kebencian tidak pernah benar-benar mati, Chafia," ujar Guru Agung dengan napas yang kembali sedikit memburu. "Mereka hanya bersembunyi di balik bayang-bayang, merencanakan kebangkitan yang jauh lebih mengerikan dari sebelumnya. Dan kedatangan racun ini membuktikan bahwa mereka kini sedang mengincar sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar nyawaku."
❖ ❖ ❖
Zahra merasakan punggungnya merinding mendengar penjelasan sang guru. Ia teringat kembali pada insiden penyerangan malam buta di gerbang utama perguruan beberapa hari lalu, saat sosok-sosok berjubah merah darah tiba-tiba muncul tanpa suara dan meracuni sumur utama perguruan. Saat itu mereka mengira itu adalah ulah perampok biasa, namun kenyataannya jauh lebih mengerikan dari perkiraan siapa pun.
"Apa yang sebenarnya mereka incar, Guru?" tanya Zahra, suaranya berubah serius, menyembunyikan rasa gentar yang mulai menguasai hatinya. "Jika mereka rela menggunakan racun tingkat tinggi untuk melumpuhkan Anda, berarti tujuan mereka pasti sangat besar."
Guru Agung menghela napas panjang, menatap ke arah pintu gua yang terbuka ke jurang gelap gulita di luar sana. "Kitab Pusaka Langit dan Bumi. Benda itu adalah kunci segalanya. Selama ini kita mengira kitab tersebut aman tersimpan di ruang bawah tanah kuil utama, namun mata-mata mereka pasti telah menyusup ke dalam lingkaran dalam perguruan kita."