Matahari baru saja merayap naik di balik Pegunungan Kabut Putih, menyebarkan bias keemasan yang menembus dahan-dahan pohon pinus raksasa. Namun, keindahan pagi itu sama sekali tidak dirasakan oleh Arya Wirawangsa. Pendekar muda dari Perguruan Naga Langit tersebut berdiri terpaku di depan sebuah batu karang besar yang terletak tepat di jalur utama perlintasan para pendekar rimba persilatan.
Di atas permukaan batu karang yang kasar itu, sebuah lambang digambar menggunakan cairan merah pekat—yang setelah didekati dan dicium aromanya, terbukti adalah darah segar. Lambang itu berbentuk bunga teratai dengan kelopak yang meruncing tajam, menyerupai bilah pedang kecil yang haus darah. Teratai Merah.
"Sial..." gumam Arya pelan, tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih di atas gagang pedang pusakanya. "Organisasi itu benar-benar bergerak cepat. Belum genap tiga hari sejak insiden di Desa Telaga Hitam, teror ini sudah mencapai perbatasan wilayah sekutu kita."
Suara langkah kaki bergemerisik di atas tumpukan daun kering dari arah semak-semak di sebelah kiri. Arya langsung memasang kuda-kuda, tubuhnya merendah dengan tangan kanan bersiaga di hulu pedang. Dari balik rimbunnya pakis liar, muncullah seorang gadis berkerudung biru tua dengan pedang terselip di punggungnya—Dewi Rinjani, saudari seperguruan sekaligus sahabat terdekatnya dalam pengembaraan ini.
"Ada apa, Arya? Aku mendengar napasmu tertahan dari kejauhan," tanya Dewi Rinjani cemas, namun langkahnya langsung terhenti begitu matanya menangkap sosok lukisan di batu karang tersebut. Wajahnya seketika pucat pasi. "Demi Langit... Itu... lambang Teratai Merah."
"Ya. Dan darah yang digunakan masih belum sepenuhnya mengering," jawab Arya dingin, matanya menyapu sekeliling hutan yang tampak terlalu sunyi. "Artinya, pelaku baru saja meninggalkan tempat ini beberapa saat sebelum kita tiba."
Dewi Rinjani mendekati batu itu, memperhatikan guratan darah dengan tatapan penuh selidik. "Ini bukan sekadar teror acak, Arya. Perhatikan goresannya. Lambang ini dibuat dengan presisi tinggi menggunakan teknik tenaga dalam tingkat tinggi. Mereka sengaja memilih tempat ini—titik temu antara Aliran Utara dan Perguruan Lembah Bayangan—untuk memancing perhatian."
"Tujuan mereka jelas," potong Arya tajam. "Mereka ingin mengadu domba. Dengan menyebarkan lambang ini di wilayah netral, mereka ingin membuat para ketua aliran mengira bahwa ada pihak internal yang berkhianat atau menjadi buronan."
"Dan cara ini sangat efektif," timpal Dewi Rinjani sambil mendesah berat. "Kecurigaan di kalangan pendekar aliran putih sudah mencapai puncaknya. Kemarin, kita mendengar kabar bahwa Perguruan Pedang Besi hampir berperang terbuka dengan Kuil Shaolin hanya karena sebuah lambang serupa ditemukan di gerbang kuil."
Arya menarik napas panjang, mencoba meredam gejolak amarah di dadanya. "Kita tidak boleh tinggal diam. Jika kita membiarkan provokasi ini terus menjalar, seluruh dunia persilatan akan runtuh dari dalam tanpa perlu Organisasi Teratai Merah mengangkat satu jari pun pedang mereka."
"Lalu, apa rencana kita sekarang?" tanya Dewi Rinjani, menatap lurus ke dalam mata Arya. "Kita sedang diawasi. Setiap langkah yang kita ambil bisa jadi bagian dari perangkap mereka."
"Kita ikuti jejak darah ini," jawab Arya tegas. "Sebelum matahari mencapai zenit, kita harus menemukan siapa di balik penyebaran cap buronan ini."
❖ ❖ ❖
Perjalanan menyusuri hutan bambu purba membawa Arya dan Dewi Rinjani semakin jauh ke dalam lembah yang jarang diinjak oleh manusia. Kabut mulai turun, menyelimuti batang-batang bambu kuning yang menjulang tinggi, menciptakan suasana mistis yang menyesakkan dada. Di sela-sela desiran angin yang menggesek daun bambu, terdengar suara langkah kaki berat di depan mereka.
Arya mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat agar Dewi Rinjani berhenti. Keduanya segera merayap ke balik rumpun bambu tebal, menyembunyikan hawa keberadaan mereka serendah mungkin menggunakan teknik pernapasan Naga Menyembunyikan Diri.
Tak lama kemudian, sesosok bayangan hitam melesat cepat di antara kabut. Orang itu mengenakan pakaian ringkas khas pembunuh bayaran, dengan kain penutup wajah berwarna kelabu. Di tangan kanannya, sebuah mangkuk kecil berisi cairan merah tampak digenggam erat, sementara tangan kirinya membawa sebilah pisau melengkung.
"Tangkap dia!" bentak Arya seketika, tubuhnya melesat bagai anak panah lepas dari busur.
Gerakan penyusup itu sangat lincah. Begitu mendengar suara teriakkan Arya, ia langsung memutar tubuhnya dan melemparkan mangkuk darah ke arah wajah Arya. Cairan merah berhamburan di udara, namun Arya dengan sigap melibasnya menggunakan kibasan jubah, membuat cipratan darah jatuh ke tanah tanpa mengenai matanya.
Namun, jeda sepersekian detik itu dimanfaatkan oleh si penyusup untuk melompat ke atas batang bambu dan kabur dengan kecepatan tinggi.
"Kau tidak akan bisa lari!" seru Dewi Rinjani dari arah samping.
Dewi Rinjani mengerahkan Ilmu Langkah Bayangan Air, tubuhnya melayang ringan menyeberapi pucuk-pucuk bambu sebelum akhirnya mendarat tepat di jalur pelarian si penyusup. Pedangnya terhunus, memancarkan kilau dingin yang memotong jalan keluar orang berkerudung kelabu tersebut.
Trang!
Benturan keras terjadi saat pedang Dewi Rinjani beradu dengan pisau melengkung si penyusup. Percikan api berpijar di tengah kabut pagi. Si penyusup terdorong mundur tiga langkah akibat tenaga dalam Dewi Rinjani yang luar biasa kuat, sementara Dewi Rinjani merasakan getaran hebat merambat hingga ke pergelangan tangannya.
Orang ini memiliki dasar silat yang tidak biasa, batin Dewi Rinjani memperingatkan dirinya sendiri.
Sebelum si penyusup sempat melancarkan serangan balasan, Arya sudah tiba di tempat kejadian. Pedang Naga Langit terhunus sempurna, mengunci setiap sudut ruang gerak musuh.
"Menyerahlah!" ujar Arya dingin, ujung pedangnya kini hanya berjarak satu inci dari leher si penyusup. "Buka penutup wajahmu dan katakan siapa yang menyuruhmu menebar teror lambang Teratai Merah ini."
Penyusup itu mendengus di balik kain penutupnya. Alih-alih merasa takut, matanya yang tajam justru menyeringai sinis. "Kalian pikir kalian bisa menghentikan badai hanya dengan menghentikan satu butir pasir? Bodoh!"
"Apa maksudmu?" desis Arya, menekan ujung pedangnya sedikit lebih dekat hingga kulit leher penyusup itu tergores tipis dan mengeluarkan setetes darah.
"Lihat ke belakang kalian," bisik penyusup itu dengan nada mengejek.
Serempak, Arya dan Dewi Rinjani mengalihkan pandangan mereka sesaat ke arah belakang. Di saat itulah si penyusup melepaskan sebuah kapsul asap hitam dari balik lengan bajunya. Bum! Asap pekat berbau belerang seketika meledak, menutupi pandangan mata dalam radius sepuluh meter.
"Jangan biarkan dia lolos!" teriak Arya sambil menebaskan pedangnya membelah asap.
Namun, ketika angin buritan menerbangkan asap pekat tersebut, sosok penyusup itu telah lenyap tanpa jejak. Yang tertinggal di atas tanah hanyalah sehelai kain hitam berlumuran darah dan sebuah lambang teratai merah kecil yang baru saja digoreskan di tanah tepat di tempat mereka berdiri.
❖ ❖ ❖