SERI 4: RAHASIA TERATAI MERAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #4

Pengintai Cerdik di Kota Bandung

Udara pagi Kota Bandung menyambut kedatangan Arka dan kawan-kawan dengan embusan angin dingin yang menusuk tulang, membawa aroma sisa hujan semalam dan uap kopi dari warung-warung pinggir jalan. Di balik keindahan lanskap pegunungan yang mengelilingi kota kembang ini, tersimpan sebuah ketegangan senyap yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang memahami situasi bawah tanah. Bandung telah berubah menjadi pusat pergerakan clandestine organisasi misterius yang selama ini mereka buru. Setiap sudut kota, mulai dari kawasan pertokoan kolonial di sepanjang Jalan Braga hingga hiruk-pikuk pasar tradisional, seolah diawasi oleh mata-mata tak kasat mata.

Arka merapatkan mantel tebalnya sambil mengamati peta usang di atas meja kayu sebuah rumah persembunyian sementara di kawasan Cihampelas. Cahaya lampu minyak yang berpendar lemah memperlihatkan guratan kelelahan di wajahnya, namun sorot matanya tetap memancarkan ketajaman seorang pemimpin taktis. Di sekelilingnya, Kamil, Rafar, dan Yafid sibuk memeriksa perlengkapan penyamaran mereka. Kali ini, misi mereka menuntut kehati-hatian tingkat tinggi karena musuh yang dihadapi bukan lagi kelompok sembarangan, melainkan jaringan sindikat rapi yang memiliki mata di setiap institusi penting kota.

"Ingat, penyamaran kita adalah benteng pertahanan utama," ujar Arka dengan suara rendah namun tegas, memecah keheningan ruangan. "Jangan sampai ada yang ceroboh. Sekali identitas kita bocor, seluruh jaringan mereka akan langsung menutup akses, dan kita akan kehilangan jejak selamanya."

Kamil mengangguk mantap sambil melilitkan kain sarung dan mengenakan peci usang, mengubah penampilannya seketika menjadi seorang pedagang tekstil paruh baya asal Priangan. "Tenang saja, Arka. Pengalaman bertahun-tahun di lapangan tidak akan membuatku lengah. Kain-kain gulungan ini bukan sekadar barang dagangan, tapi juga pelindung kita untuk membaur dengan kerumunan."

Rafar, yang bertugas membawa keranjang bambu berisi aneka rempah dan bumbu dapur, tersenyum tipis. "Yafid dan aku sudah memetakan jalur evakuasi jika situasi mendadak kacau. Pasar Baru akan menjadi titik awal pergerakan kita hari ini. Tempat itu sangat padat, bising, dan penuh dengan berbagai macam transaksi, menjadikannya lokasi sempurna untuk menyusup tanpa menarik perhatian aparat maupun antek-antek organisasi."

Yafid menambahkan sambil memasang lilitan surban di lehernya, "Betul kata Rafar. Suara tawar-menawar dan lalu-lalang pembeli akan menjadi penyamaran suara yang efektif bagi kita untuk bertukar informasi rahasia tanpa harus berbisik terlalu dekat."

Tanpa buang waktu lagi, mereka berempat melangkah keluar dari tempat persembunyian secara terpisah. Arka memilih berjalan seorang diri melalui jalur belakang, memantau situasi dari kejauhan sebagai pengawas utama, sementara Kamil, Rafar, dan Yafid berjalan bersama menuju pusat keramaian Pasar Baru. Suasana pasar pagi itu sudah sangat riuh. Deretan kios kain, toko kelontong, dan gerobak pedagang kaki lima berjejer rapi di sepanjang lorong yang sempit namun dipadati manusia. Aroma kain baru bercampur dengan wangi rempah-rempah menciptakan atmosfer khas kota niaga.

❖ ❖ ❖

Kamil, Rafar, dan Yafid segera menempati lapak kecil yang telah mereka sewa sebelumnya di sudut pasar yang cukup strategis. Posisi lapak tersebut menghadap langsung ke sebuah kedai kopi tua yang sering dijadikan tempat berkumpul para kurir rahasia. Sambil membentangkan beberapa gulungan kain katun dan batik dengan motif tradisional, mereka mulai melakoni peran masing-masing layaknya pedagang berpengalaman yang sibuk menawarkan barang dagangan kepada para pejalan kaki.

"Kain katun halus, bu! Mari dipilih, cocok untuk pakaian anak maupun dewasa!" seru Kamil dengan logat Sunda yang kental, menunjukkan keluwesan akting yang membuat siapa pun tidak akan menyangka bahwa pria paruh baya itu adalah seorang agen penjelajah sandi.

Rafar, di sebelah Kamil, pura-pura merapikan tumpukan kain sambil mengawasi gerak-gerik orang di sekitar kedai kopi seberang jalan. Bisik-bisik mulai terdengar di antara mereka di sela-sela kesibukan melayani pembeli.

"Kamil, perhatikan pria berjas abu-abu di meja nomor empat kedai kopi itu," bisik Rafar pelan, matanya tetap menatap lurus ke depan seolah sedang menjelaskan kualitas kain kepada seorang ibu rumah tangga yang sedang memilih barang. "Dia sudah memesan kopi yang sama sejak dua jam lalu tanpa menyentuhnya. Gerakannya terlalu kaku untuk ukuran seorang saudagar biasa."

Kamil melirik sekilas tanpa memalingkan kepala sepenuhnya. "Aku melihatnya. Tangannya terus berada di dalam saku mantel, seolah bersiap menarik sesuatu. Apakah itu target kita?"

"Belum tentu," sahut Yafid yang datang membawa termos air panas tiruan untuk mengisi cangkir mereka. "Bisa jadi dia hanya umpan atau pengawas lapis pertama yang sengaja ditaruh di tempat terbuka untuk memancing reaksi kita. Arka sudah memperingatkan tentang hal ini."

Situasi mulai menegang ketika seorang pria bertubuh tegap dengan topi laken hitam mendatangi lapak mereka. Pria itu tidak melihat kain yang dipajang, melainkan langsung menatap tajam ke arah Kamil dengan tatapan mengintimidasi. Suasana di sekitar lapak mendadak terasa senyap bagi mereka bertiga, meskipun suara hiruk-pikuk pasar di sekeliling terus bergemuruh.

"Kain jenis apa yang kalian jual ini? Warnanya tampak terlalu mencolok untuk standar pasar lokal," tanya pria bertopi laken itu dengan nada suara yang dingin dan penuh kecurigaan.

Kamil tidak gentar. Ia tersenyum ramah, menampilkan gestur seorang pedagang tua yang sabar menghadapi pembeli cerewet. "Ah, Tuan ini pandai menilai. Ini adalah kain impor pilihan dari pesisir utara, sengaja dibawa khusus ke Bandung untuk para priyayi yang menyukai kualitas tinggi. Silakan dipegang sendiri bahannya, sangat lembut dan tidak luntur."

Pria itu mengulurkan tangan, meraba kain dengan kasar, namun matanya terus mengamati setiap gerak-gerik Yafid dan Rafar. "Kualitas bagus sering kali menyembunyikan maksud yang tidak biasa. Di kota ini, banyak orang menjual kain, tapi sedikit yang benar-benar pedagang."

"Kami hanya mencari rezeki halal, Tuan. Jika tidak berminat membeli, silakan melihat-lihat pedagang lain di sebelah sana," balas Kamil dengan nada tetap tenang, menyiratkan ketegasan tersendiri di balik senyum ramahnya.

❖ ❖ ❖

Ketegangan di lapak kain itu mereda sejenak ketika sekelompok ibu-ibu datang berdesakan menawar harga kain batik, memaksa pria bertopi laken tersebut mundur beberapa langkah karena terhimpit kerumunan. Memanfaatkan kesempatan emas itu, Rafar dengan cepat menyelipkan selembar catatan kecil berisi kode sandi ke dalam saku mantel Yafid, sementara Kamil sibuk melayani transaksi jual beli dengan cekatan.

"Kita sedang diawasi lebih ketat dari perkiraan semula," bisik Rafar kepada Yafid saat pembeli mulai agak renggang. "Pria tadi bukan sekadar preman pasar. Tato di pergelangan tangannya adalah simbol dari divisi pengamanan internal organisasi tersebut. Artinya, markas besar mereka tidak jauh dari kawasan ini."

Lihat selengkapnya