Angin malam di lereng Gunung Merapi berembus dingin, membawa aroma belerang dan kelembapan hutan purba yang pekat. Di bawah naungan kanopi pepohonan yang lebat, dua sosok bayangan melesat tanpa suara. Gerakan mereka begitu ringan, bagaikan embun pagi yang menimpa rumput, tidak meninggalkan jejak selain desau angin yang nyaris tak terdengar.
Mereka adalah Azalia dan Risha. Informasi berharga yang didapatkan dari Kamil beberapa hari lalu menjadi kompas utama bagi perburuan mereka malam ini. Kamil berhasil menyadap jalur komunikasi rahasia kelompok Teratai Merah, sebuah sindikat bayangan yang kian meresahkan ketenteraman persilatan. Berbekal petunjuk tersebut, kedua srikandi silat itu kini tengah memburu pergerakan para kurir rahasia organisasi tersebut.
"Risha, tahan langkahmu sejenak," bisik Azalia pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin malam.
Mereka berdua berhenti di atas dahan sebuah pohon beringin tua yang menjulang tinggi. Risha mendarat dengan sempurna, keseimbangannya terjaga tanpa membuat satu pun ranting patah. Gadis itu menoleh, menatap mata Azalia yang memantulkan cahaya rembulan di balik rerimbunan daun.
"Ada apa, Azalia? Apakah jejak mereka mulai kabur?" tanya Risha dengan nada berbisik, jemarinya secara refleks menyentuh gagang pedang di pinggangnya.
"Tidak kabur, justru sebaliknya," jawab Azalia, pandangannya tajam menatap ke arah lembah di bawah sana. "Bau dupa dan minyak wangi khas yang biasa digunakan oleh para kurir Teratai Merah semakin pekat. Artinya, kita sudah sangat dekat dengan target."
Risha mengangguk pelan. "Kamil benar. Jalur perdagangan rahasia mereka melewati punggung bukit ini menuju ke arah utara. Jika kita berhasil membekap salah satu kurir malam ini, kita bisa membongkar lokasi persembunyian utama mereka."
"Ingat pesan Kamil, jangan gegabah," ucap Azalia mengingatkan. "Organisasi ini tidak main-main. Racun mereka mematikan, dan kesetiaan para anggotanya dibayar dengan nyawa. Kita harus melumpuhkan mereka tanpa suara agar tidak memicu alarm di markas mereka."
"Aku mengerti," balas Risha singkat namun penuh keyakinan.
Keduanya kembali mengerahkan ilmu ginkang tingkat tinggi. Tubuh mereka seolah kehilangan bobot, meluncur turun dari dahan ke dahan dengan kecepatan luar biasa. Tak lama kemudian, pemandangan di hadapan mereka mulai terbuka. Di dasar lembah yang dikelilingi tebing batu curam, sebuah puri tua yang tampak terisolasi berdiri megah namun suram.
Puri itu dikelilingi tembok tinggi berlumut. Di gerbang utamanya, dua orang pengawal berpakaian serba hitam dengan lambang bunga teratai merah di dada kiri tampak berjaga dengan senjata tombak bercabang di tangan mereka. Di sekitar halaman puri, beberapa kurir hilir mudik membawa peti-peti kayu berukuran sedang.
"Itu dia," bisik Risha, matanya menyipit mengamati situasi di bawah. "Puri tua itu bukan sekadar tempat singgah, melainkan pusat distribusi logistik mereka."
"Mari kita selidiki lebih dekat," ajak Azalia.
❖ ❖ ❖
Azalia dan Risha merayap turun dari tebing batu dengan kehati-hatian tingkat tinggi. Bayangan tubuh mereka menyatu dengan kegelapan malam, memanfaatkan sudut-sudut gelap di balik dinding puri yang rapuh. Mereka berhasil menyusup melalui sebuah lubang ventilasi besar di bagian belakang bangunan utama tanpa menimbulkan kecurigaan sedikit pun dari para penjaga luar.
Suasana di dalam puri terasa lembap dan pengap. Bau bubuk mesiu dan ramuan obat tradisional bercampur menjadi satu, menciptakan atmosfer yang menyesakkan dada. Lorong-lorong batu yang sunyi hanya diterangi oleh obor-obor kecil yang menyala redup di dinding.
"Tempat ini seperti labirin," bisik Risha sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut lorong yang dilalui. "Kita harus pastikan arah jalan pulang jika situasi mendadak genting."
"Fokus pada tujuan kita, Risha," balas Azalia lembut namun tegas. "Dengar. Ada suara langkah kaki mendekat dari arah depan."
Seketika itu juga, kedua gadis tersebut melompat ke atas balok kayu penyangga atap lorong, menempel erat bagaikan cicak tanpa suara. Tak berselang lama, dua orang kurir lewat tepat di bawah mereka, membawa sebuah peti berat sambil berbincang dengan suara berbisik.
"Pengiriman kali ini sangat penting," kata kurir pertama. "Pimpinan besar sendiri yang akan memeriksa muatan dari wilayah selatan."
"Benar. Jangan sampai ada yang rusak, atau nyawa kita taruhannya," timpal kurir kedua.
Setelah kedua kurir itu berlalu, Azalia dan Risha menjatuhkan diri kembali ke lantai dengan mulus. Mereka mengikuti dari jarak aman, menjaga agar bayangan mereka tidak tertangkap oleh cahaya obor. Langkah mereka membawa keduanya menuju sebuah aula besar yang dijaga sangat ketat.
Di tengah aula, terlihat beberapa orang berpakaian jubah merah tua sedang berdebat sengit di dekat meja peta. Salah satu dari mereka memegang gulungan kertas yang diidentifikasi Azalia sebagai dokumen rahasia pergerakan pasukan persilatan.
"Kita terjebak dalam situasi yang rumit," ucap Risha dengan suara nyaris tak terdengar. "Jumlah mereka terlalu banyak jika kita menyerang secara langsung di dalam ruangan tertutup seperti itu."
"Kita tidak perlu melawan semuanya," jawab Azalia tenang. "Kita hanya perlu merebut dokumen itu dan memancing salah satu dari mereka keluar untuk diinterogasi."
Namun, sebelum mereka sempat merumuskan rencana penyergapan yang matang, sebuah suara tiba-tiba menggema dari arah belakang, memecah keheningan lorong tempat mereka bersembunyi.
"Penyusup! Tangkap mereka!" teriak sebuah suara parau yang penuh ancaman.
❖ ❖ ❖
Suara teriakan itu langsung memecah ketenangan malam di dalam puri. Seketika itu pula, suasana yang tadinya senyap berubah menjadi gaduh. Puluhan prajurit bayangan Teratai Merah berhamburan keluar dari berbagai ruangan, membawa senjata terhunus dan mata yang memancarkan niat membunuh.
Azalia dan Risha tidak punya pilihan lain selain bertarung.
"Risha, lindungi punggungku!" seru Azalia sambil menghunus pedang pendeknya yang memancarkan kilau perak di kegelapan.
"Serahkan padaku!" balas Risha lantang.