SERI 4: RAHASIA TERATAI MERAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #6

Racun Pemikat Jiwa Teratai Merah

Matahari sore baru saja meredup di balik pegunungan batu hitam, menyisakan bias jingga tua yang kelam di ufuk barat. Namun, ketenangan semu itu sama sekali tidak menenangkan hati para pengawal dan pendekar yang berjaga di luar gerbang utama Puri Candrakanta. Angin malam yang berembus pelan tiba-tiba membawa serta aroma manis yang asing—aroma yang pada awalnya menyerupai keharuman bunga teratai segar yang mekar di musim semi, tetapi lambat laun berubah menjadi bau sengit yang menyesakkan dada.

Zahra, yang sedang memeriksa barisan pertahanan di sudut timur puri, langsung menghentikan langkahnya. Gadis itu mengerutkan kening, merasakan ada kejanggalan yang merayap cepat di dalam aliran darahnya. Kepalanya mendadak pusing, dan sebuah dengungan halus mulai berderu di dalam telinganya.

"Nona Zahra, udara di sekitar kita... rasanya berbeda," bisik Bayu, seorang pendekar senior berpedang ganda yang berdiri tidak jauh darinya. Suara Bayu terdengar sedikit bergetar, dan tatapan matanya mulai menyiratkan kebingungan yang tidak biasa.

Zahra menoleh cepat. Ia melihat beberapa prajurit pengawal di dekat gerbang mendadak menjatuhkan senjata mereka. Ada yang memegangi kepala mereka sambil mengerang kesakitan, sementara yang lain mulai tertawa tanpa alasan yang jelas, menatap rekan-rekan mereka dengan pandangan liar penuh curiga. Suasana di halaman puri yang tadinya tertib seketika berubah menjadi ricuh oleh kepanikan yang tidak terkendali.

"Jangan hirup udara itu dalam-dalam!" seru Zahra lantang, suaranya mengandung tenaga dalam yang cukup untuk menyadarkan beberapa orang yang hampir kehilangan kesadaran. "Ini bukan angin biasa! Ini adalah Racun Pemikat Jiwa Teratai Merah!"

Bayu terkesiap, matanya membelalak lebar. "Racun legendaris dari Sekte Bayangan Merah? Racun yang mampu mengacaukan pikiran dan membuat pendekar tingkat tinggi sekalipun saling bunuh dalam delusinasi?"

"Benar," jawab Zahra, gerakannya sangat cepat saat ia merogoh kantong kain khusus di balik jubah birunya. Ia mengeluarkan sebuah botol giok kecil yang memancarkan aroma herbal yang tajam dan menyegarkan. "Racun ini bekerja dengan cara menyerang titik akupuntur di kepala dan mengaburkan batas antara kenyataan dan khayalan. Jika kita terlambat sepersekian detik saja, seluruh isi puri akan saling menghunus pedang sebelum musuh yang sebenarnya menampakkan diri."

Di kejauhan, sayup-sayup terdengar suara tawa melengking yang memecah keheningan malam. Tawa itu bernada tinggi, seolah menggema dari segala penjuru angin, mempermainkan mental siapa pun yang mendengarnya.

"Cepat, kumpulkan semua orang yang masih sadar!" perintah Zahra sambil membuka tutup botol giok tersebut.

❖ ❖ ❖

Kepulan asap merah tipis kini mulai merayap naik dari tanah, menyelimuti lantai halaman puri bagaikan karpet tipis yang mematikan. Para prajurit yang tadinya berdiri tegak kini banyak yang berlutut, bahkan beberapa di antaranya sudah mulai mencabut golok mereka, bersiap menyerang bayangan di kepala mereka sendiri.

"Hei! Jangan mendekat! Siapa kamu?!" teriakan histeris seorang prajurit muda bernama Dirga memecah kekacauan. Ia mengayunkan pedangnya membabi buta ke udara kosong, mengira ada musuh gaib yang hendak merobek dadanya.

Bayu hendak melangkah maju untuk menghentikan pemuda itu, tetapi Zahra dengan cepat menahan bahunya. "Tahan, Bayu! Jangan gunakan kekuatan fisik untuk melawannya. Pikiran mereka sedang dikuasai oleh ketakutan terbesar mereka sendiri. Jika kita salah langkah, mereka akan menganggap kita sebagai monster."

"Lalu apa yang harus kita lakukan, Nona? Kita tidak punya banyak waktu!" desak Bayu, matanya melirik ke arah gerbang utama di mana bayangan-bayangan hitam mulai terlihat samar-samar bergerak di balik kabut merah. Musuh sedang bersiap menyergap.

"Kita harus membagikan pil penawar ini sekarang juga," jawab Zahra tegas. Tanpa ragu, ia melompat ringan ke tengah kekacauan, menghindari terjangan pisau dari seorang pendekar yang sudah kehilangan akal sehatnya.

Zahra bergerak laksana angin malam yang sejuk. Dengan kecepatan tangan yang luar biasa, ia menotok beberapa titik darah penting di tubuh Dirga untuk melumpuhkan gerakan fisik pemuda itu sementara, lalu dengan sigap memasukkan sebuah pil kecil berwarna hijau giok ke dalam mulut Dirga.

"Telan ini, Dirga! Sadarlah!" bisik Zahra di dekat telinga pemuda itu.

Hanya dalam kurun waktu beberapa detik setelah pil penawar buatan gurunya itu larut di lidah, pandangan Dirga yang tadinya kosong perlahan-lahan kembali jernih. Napas pemuda itu memburu, keringat dingin bercucuran membasahi seluruh wajahnya. Ia mengerjap-ngerjap, menatap pedang di tangannya dengan rasa ngeri yang mendalam.

"Nona... apa yang... apa yang baru saja terjadi padaku?" suara Dirga gemetar hebat.

"Kamu terkena racun halusinasi. Tenangkan pikiranmu, atur pernapasanmu, dan bantu aku menyadarkan yang lain," jawab Zahra tanpa membuang waktu. Ia sudah berputar arah, melompat ke sisi lain halaman untuk menyelamatkan prajurit lain yang hampir saling melukai.

Namun, situasi menjadi semakin mendesak. Kabut merah di luar tembok puri semakin pekat, dan suara derap langkah kaki kuda mulai terdengar mendekat dengan kecepatan tinggi. Musuh tidak hanya menebar racun dari jarak jauh; mereka datang untuk menghabisi sisa-sisa pertahanan puri yang sedang lumpuh.

❖ ❖ ❖

Di tengah kesibukan Zahra membagikan pil penawar, sebuah suara dingin dan nyaring terdengar merobek udara malam, menghentikan gerakan semua orang di halaman puri.

"Cukup percuma usaha gadis kecil itu! Racun Teratai Merah tidak diciptakan untuk bisa disembuhkan semudah membalikkan telapak tangan!"

Dari atas bubungan gerbang utama, sesosok bayangan berjubah merah darah meluncur turun dengan anggun sehelai bulu, mendarat tepat di tengah halaman. Wajah orang itu tertutup topeng perak bermotif kelopak bunga teratai, sementara matanya yang tajam memancarkan aura membunuh yang sangat pekat. Di tangannya, tergenggam sebuah cambuk berduri yang berkilauan diterpa cahaya obor.

Lihat selengkapnya