Malam itu, hutan bambu hitam di perbatasan Lembah Kabut seharusnya menjadi tempat persembunyian yang aman. Angin malam berhembus pelan, membawa bau tanah basah dan desau daun yang bergesekan secara konstan. Namun, ketenangan semu itu mendadak pecah ketika suara ranting patah berderak di sebelah timur.
Fathan langsung mengangkat tangan kirinya, memberi isyarat kepada seluruh anggota kelompok untuk berhenti seketika. Di belakangnya, Galin menyipitkan mata, mempertajam pendengarannya ke dalam kegelapan pekat.
"Kita tidak sendiri," bisik Fathan lirih, suaranya hampir tak terdengar di atas desau angin.
"Aku bisa mencium bau minyak pembakar dan logam berkarat," balas Galin dengan nada datar namun penuh siaga. "Ciri khas pasukan bayaran Teratai Merah. Mereka menggunakan racun melati hitam pada bilah senjata mereka."
Sebelum siapa pun sempat menarik napas lebih dalam, puluhan obor menyala serentak dalam lingkaran yang menyempit. Cahaya kuning kemerahan memantul pada bilah-bilah pedang yang mengilap dingin. Kelompok Teratai Merah telah menutup setiap celah pelarian. Penyergapan mendadak ini terjadi bukan karena kebetulan, melainkan karena jejak mereka telah dikhianati sejak meninggalkan kota pelabuhan.
"Fathan! Kita terkepung!" seru seorang anggota kelompok muda bernama Rian, suaranya bergetar hebat. Di sampingnya, beberapa kawan yang membawa perbekalan medis tampak panik, merapatkan diri satu sama lain.
"Jangan panik! Tetap di jalur evakuasi!" bentak Fathan tegas, mencoba meredam kepirangan yang mulai menyebar. Matanya menatap tajam ke arah sosok pemimpin pasukan musuh yang berjalan keluar dari balik barisan bambu.
Sosok itu adalah Jenderal Bayangan Hitam, seorang algojo kejam yang dikenal karena tidak pernah meninggalkan saksi hidup. Senyum sinis terukir di wajahnya yang berparut panjang.
"Kalian pikir bisa keluar dari wilayah kekuasaan Teratai Merah tanpa izin?" suara Jenderal itu menggema dingin, memecah keheningan malam. "Serahkan gulungan peta itu, dan mungkin kubiarkan sisa hidup kalian berakhir dengan cepat."
Fathan melangkah maju, berdiri paling depan menghadap musuh. "Peta itu tidak akan pernah jatuh ke tangan orang-orang yang menjual jiwa mereka demi kekuasaan kotor."
"Bagus. Berarti darah kalian malam ini akan menyuburkan tanah bambu ini," geram Jenderal Bayangan Hitam sambil mengangkat tangan kanannya, memberi aba-aba menyerang.
❖ ❖ ❖
Perintah serangan meluncur bagai sambaran petir. Puluhan algojo Teratai Merah menerjang maju secara serentak, mengacungkan pedang beracun dengan tatapan penuh kebengisan. Suara derap kaki menghantam tanah bergemuruh, menciptakan kepanikan luar biasa di antara barisan belakang kelompok pelarian.
"Lindungi jalur belakang!" teriak Galin spontan.
Tanpa ragu sedikit pun, Fathan dan Galin melompat ke garis depan, berdiri kokoh bagai benteng baja yang tak tertembus. Fathan menghunus pedang panjangnya yang memantulkan cahaya obor, sementara Galin memasang kuda-kuda kokoh dengan sepasang belati berat di kedua tangannya.
Clang!
Benturan keras pertama terjadi saat tebasan pedang algojo pertama mendarat di atas silangan senjata Fathan. Percikan api berpijar di tengah kegelapan malam. Tenaga dorong musuh begitu besar, tetapi Fathan mengerahkan seluruh kekuatan ototnya, menahan beban itu tanpa bergeser sedikit pun dari posisinya.
"Kalian tidak akan bisa melewati kami!" seru Fathan, otot-otot di lehernya menegang.
"Jangan sombong, pendekar bodoh!" balas sang algojo, mencoba mendesak dengan tikaman susulan.
Di sisi sebelah kanan, Galin bergerak laksana bayangan malam. Ia menangkis tebasan pedang beracun musuh dengan belatinya, lalu memutar tubuh untuk menghantam lambung lawan menggunakan sikutnya. Algojo tersebut terhuyung mundur, memberikan celah bagi Galin untuk melindungi kawan-kawan yang sedang berusaha menerobos jalur sempit di belakang mereka.
"Cepat bergerak! Jangan berhenti!" Galin berteriak kepada Rian dan kelompok logistik yang masih ragu-ragu.