Udara lembap dan berbau belerang menyergap indra penciuman Yafid begitu ia berhasil melumpuhkan kapten pasukan Teratai Merah terakhir di lorong sempit itu. Tubuh sang kapten ambruk tak berdaya menghantam lantai batu yang dingin, menyisakan keheningan mencekam yang hanya dipecahkan oleh suara tetesan air dari langit-langit gua. Yafid mengatur napasnya yang memburu, menyeka peluh yang bercampur debu di dahinya dengan punggung tangan yang masih menggenggam erat gagang belati.
"Apakah semuanya sudah aman di sebelah sini, Yafid?" suara lirih Malik beresonansi pelan dari balik dinding batu karang, terdengar penuh kewaspadaan.
"Aman. Kapten mereka sudah lumpuh total, tidak akan bisa memberikan perlawanan lagi dalam waktu dekat," jawab Yafid dengan suara tegas namun tetap terjaga agar tidak memantul terlalu keras di lorong bawah tanah yang sempit itu.
Ia segera mendekati tubuh musuh yang terkapar tak berdaya. Dengan gerakan cekatan namun hati-hati, Yafid memeriksa setiap kantong seragam tebal berwarna merah darah yang dikenakan sang kapten. Jemarinya meraba kain kasar hingga akhirnya bersentuhan dengan sebuah benda yang terasa asing dan kaku di saku bagian dalam dada.
"Kau menemukan sesuatu yang berguna?" tanya Malik yang kini sudah melangkah mendekat, bayangan tubuhnya memanjang di bawah temaram cahaya obor kecil yang mereka bawa.
"Tunggu sebentar, kulihat dulu apa ini," balas Yafid sambil menarik keluar sebuah gulungan kecil dari saku tersebut.
Ketika gulungan itu dibuka di bawah pendar cahaya obor Malik, napas Yafid seketika tertahan. Benda itu bukanlah sekadar gulungan kain biasa, melainkan selembar denah berbahan kain tebal yang dijahit dengan rapi. Permukaannya dipenuhi oleh sulaman benang hitam dan merah yang membentuk garis-garis rumit, simbol-simbol kuno, serta catatan-catatan kecil dalam sandi rahasia militer Teratai Merah.
"Demi Tuhan... ini adalah peta struktural," bisik Malik dengan mata terbelalak lebar, menatap takjub ke arah kain yang dibentangkan di hadapan mereka. "Denah lengkap dari seluruh jaringan markas bawah tanah ini."
"Tepat sekali, Malik," ujar Yafid, jemarinya menelusuri garis-garis sulaman yang menggambarkan lorong-lorong labirin di bawah benteng pertahanan musuh. "Dan lihat ini. Garis-garis merah tebal di sini bukan sekadar jalur biasa. Ini adalah penanda posisi berbagai jebakan mematikan yang disebar untuk menjebak penyusup."
"Artinya, selama ini kita berjalan di atas ladang pembantaian tanpa kita sadari," kata Malik, nada suaranya menyiratkan ketegangan yang mendalam saat ia membayangkan seberapa dekat mereka dengan kematian di setiap langkah sebelumnya.
"Benar. Tanpa peta ini, kita pasti sudah binasa di persimpangan lorong pertama tadi," Yafid mengangguk serius, matanya terus memindai setiap detail sulaman pada kain tersebut. "Tapi sekarang situasinya berbalik. Kita memiliki kunci untuk membaca pikiran mereka, memahami kelemahan arsitektur markas ini, dan mencari jalur paling aman menuju pusat komando."
"Jangan terlalu cepat merayakan kemenangan kecil ini, Yafid," sela Malik mengingatkan, sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling lorong yang gelap gulita. "Peta ini mungkin menunjukkan jalurnya, tetapi siapa yang bisa menjamin bahwa Teratai Merah tidak mengubah tata letak jebakan mereka setelah dokumen ini dibuat?"
"Aku paham risikonya, Malik. Namun, berjalan dengan sebuah peta jauh lebih baik daripada meraba-raba dalam kegelapan total," tegas Yafid sambil melipat denah kain itu dengan hati-hati lalu menyimpannya di dalam saku mantel khususnya. "Mari kita panggil yang lain. Kita harus segera mempelajari rute ini sebelum bala bantuan musuh menyadari kapten mereka telah tumbang."
❖ ❖ ❖
Beberapa menit kemudian, Yafid dan Malik berkumpul kembali dengan sisa anggota kelompok pemberontak di sebuah ruangan bawah tanah yang agak luas. Di tengah ruangan, sebatang lilin kecil diletakkan di atas batu datar, menyinari wajah-wajah tegang yang kelelahan namun menyimpan tekad membaja. Yafid membentangkan kembali denah kain tersebut di hadapan mereka semua.
"Perhatikan baik-baik jalur yang kutunjuk ini," ucap Yafid sambil menunjuk sebuah garis merah melingkar yang cukup rumit di dekat pintu masuk sektor barat. "Menurut denah ini, kita harus melewati sebuah koridor panjang yang dinamakan 'Koridor Pembelah Jiwa'. Nama yang sangat berlebihan, tetapi dari simbol jebakannya, tempat ini dipenuhi bilah-bilah pisau beracun yang tersembunyi di balik dinding."
"Apakah ada jalur alternatif lain yang lebih aman?" tanya Sani, seorang pejuang wanita berambut pendek yang memegang busur panah silang, sambil mencondongkan tubuhnya ke depan untuk melihat peta lebih dekat.
"Tidak ada," jawab Yafid singkat. "Peta ini memperlihatkan bahwa seluruh jalur lain menuju ke ruang kendali utama telah ditutup atau dialirkan gas beracun. Koridor itu adalah satu-satunya jalan pintas yang tersisa jika kita ingin tiba sebelum fajar."
"Kalau begitu, kita tidak punya pilihan selain melewatinya dengan perhitungan yang sangat presisi," kata Malik mantap, meski ada keraguan tersirat di sudut matanya.
Mereka mulai bergerak menyusuri lorong sesuai petunjuk denah kain. Suasana di sekitar terasa semakin menekan seiring bertambahnya kedalaman tanah yang mereka masuki. Suhu udara perlahan-lahan menurun, berganti dengan hawa dingin yang menusuk tulang. Di beberapa titik, mereka menemukan tanda-tanda fisik yang persis sama dengan apa yang digambarkan di atas kain: goresan samar di dinding batu, ubin lantai yang tampak sedikit lebih tinggi dari sekitarnya, serta bau logam tajam yang mengindikasikan keberadaan mekanisme tersembunyi.
"Berhenti di sini," bisik Yafid tiba-tiba sambil mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat agar seluruh barisan langsung menghentikan langkah mereka.
Seketika itu juga, suasana menjadi hening. Setiap orang menahan napas, tidak ada yang berani bersuara maupun bergerak terlalu cepat. Di hadapan mereka, koridor membentang lurus sejauh lima belas meter dengan lantai ubin batu yang tampak berkilau diterpa cahaya redup obor.
"Ada apa, Yafid?" bisik Sani dengan suara bergetar halus.
"Lihat pola ubin di lantai itu," tunjuk Yafid dengan ujung belatinya ke arah barisan ubin ketiga dari depan. "Berdasarkan denah kain tadi, ubin tersebut terhubung langsung dengan sistem pelat tekanan. Jika diinjak dengan berat melebihi batas tertentu, dinding di sisi kanan akan melontarkan selusin anak panah beracun dalam waktu kurang dari satu detik."
"Lalu bagaimana kita bisa melewatinya?" tanya Malik, memperhatikan jarak antara dinding yang begitu sempit dan tidak menyisakan ruang untuk menghindar ke samping.
"Kita harus melompat melewati zona pelat tekanan itu secara bergantian, dan mendarat tepat di atas ubin batu yang ditandai aman pada peta," jelas Yafid tanpa ragu. "Satu kesalahan kecil dalam memperkirakan jarak lompatan, maka nyawa taruhannya."
"Biar aku yang melompat duluan," tawar Sani dengan penuh keberanian, merapatkan tali busurnya dan bersiap mengambil posisi ancang-ancang di garis batas aman.
"Jangan gegabah, Sani. Beban perlengkapan tempurmu cukup berat, itu bisa memengaruhi keseimbangan saat melompat di atas permukaan batu yang licin ini," cegah Yafid sambil memegang bahu sang pejuang wanita. "Biar aku yang memimpin di depan. Jika aku berhasil menyeberang, kalian bisa mengikuti satu per satu dengan pola yang sama."
Yafid menarik napas dalam-dalam, memusatkan seluruh konsentrasi dan ketenangan jiwanya. Ia mengukur jarak dengan cermat, memperhitungkan kelembapan lantai serta beban ransel di punggungnya. Dalam hitungan ketiga di dalam hatinya, ia melesat ke depan bagaikan bayangan angin, melompat tinggi melewati zona berbahaya di lantai koridor tersebut.
❖ ❖ ❖
Tubuh Yafid mendarat dengan sempurna di atas ubin batu yang aman di sisi seberang, menghasilkan suara debuman tertahan yang segera mereda. Ia langsung berbalik menghadap ke arah rekan-rekannya yang masih berdiri di ujung lorong seberang, lalu memberikan isyarat tangan bahwa jalur tersebut aman untuk dilalui.
"Baiklah, giliran kalian sekarang. Lakukan satu per satu dengan tenang!" seru Yafid dengan suara tertahan namun jelas terdengar oleh kelompoknya.
Satu demi satu, anggota kelompok pemberontak berhasil menyeberangi zona mematikan itu dengan selamat berkat panduan peta kain yang dipegang erat oleh Yafid. Malik menjadi orang terakhir yang menyeberang, dan begitu kakinya menginjak ubin yang aman, ia menghembuskan napas panjang seolah beban berton-ton baru saja terangkat dari pundaknya.
"Kerja bagus semuanya. Kita berhasil melewati rintangan pertama," puji Yafid sambil melipat kembali denah tersebut dan menyimpannya ke tempat aman. "Namun, perjalanan kita masih sangat panjang. Berdasarkan peta ini, bagian paling berbahaya dari markas Teratai Merah baru saja akan dimulai."
Mereka kembali melanjutkan perjalanan menyusuri lorong labirin yang semakin bercabang-cabang. Semakin jauh mereka berjalan, semakin rumit pula struktur arsitektur bawah tanah tersebut. Dinding-dinding batu kini tidak lagi berupa karang alami, melainkan telah dilapisi oleh lempengan besi hitam yang diukir dengan lambang bunga teratai merah menyala di setiap sudutnya.
"Yafid, udara di sini terasa semakin panas," keluh Malik sambil menyeka keringat yang bercucuran deras di pelipisnya. "Apakah kita mendekati pusat tenaga atau ruang bakar mereka?"