SERI 4: RAHASIA TERATAI MERAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #10

Pemimpin Bertopeng Teratai Merah

Langit di atas Lembah Bunga Darah menggelap bagai diselimuti kain kafan. Kabut tipis berwarna keunguan perlahan turun dari puncak jurang, membawa aroma belerang dan kepahitan yang menusuk hidung. Di tengah lembah tersebut, sebuah panggung batu hitam berdiri megah, dikelilingi oleh puluhan obor yang menyala dengan kobaran api berwarna merah tua.

Dewa Laut berdiri tegak di tepi pelataran batu, jemarinya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Angin malam meniup jubah birunya yang membiru pekat, mengibarkannya dengan suara kepakan yang kasar. Di sampingnya, Bintang Gemerlap memegang erat hulu pedangnya. Mata gadis itu berkilat gelisah, memantulkan bayangan kobaran obor yang menari-nari liar di udara.

“Kau merasakan hawa murni ini, Dewa?” bisik Bintang Gemerlap tanpa menoleh, suaranya hampir tenggelam oleh deru angin malam. “Hawa ini… bukan sekadar tenaga dalam biasa. Ini adalah kepenuhan niat membunuh yang terstruktur.”

Dewa Laut mengangguk pelan, dadanya naik turun mengatur napas yang mendadak terasa berat. “Dia sudah dekat. Rasa panas yang menguar di udara ini bukan berasal dari obor-obor itu, melainkan dari hawa murni Telapak Teratai Pembakar Jiwa. Persiapkan dirimu, Bintang.”

Tiba-tiba, dari kegelapan di balik panggung batu, muncul sosok melayang. Tanpa suara, tanpa pijakan kaki pada dedaunan, sosok itu mendarat mulus tepat di tengah panggung. Jubah panjang berwarna merah darah menyapu lantai batu. Wajahnya sepenuhnya tertutup oleh topeng porselen putih berukirkan kuntum teratai merah yang merekah indah, namun memancarkan aura kejam yang tak terlukiskan.

Dialah Ketua Teratai Merah, pemimpin tertinggi organisasi pembunuh yang paling ditakuti di seluruh rimba persilatan.

“Akhirnya, tikus-tikus kecil dari Laut Timur berani menginjakan kaki di istanaku,” suara Ketua Teratai Merah menggema, berdengung di dalam rongga dada siapa pun yang mendengarnya. Suara itu terdengar ganda—gabungan antara nada berat pria dan gema mistis yang melumpuhkan mental.

“Cukup basa-basinya, Teratai Merah!” teriak Dewa Laut seraya melangkah maju satu tindak. “Kembalikan Kitab Sembilan Samudra yang kau curi dari Perguruan Laut Biru! Berapa banyak lagi nyawa pendekar lurus yang harus kau tumbal kan demi ambisi gilamu?”

Tawa dingin meledak dari balik topeng porselen itu. “Kitab kuno itu hanyalah batu loncatan, Dewa Laut. Dunia ini sudah busuk oleh kemunafikan para pendekar yang mengaku lurus. Di bawah bendera Teratai Merah, tatanan baru akan lahir dari tumpukan abu dan darah!”

Ketua Teratai Merah mengangkat tangan kanannya perlahan. Di telapak tangannya yang pucat, muncul pusaran cahaya berwarna merah membara yang membentuk siluet kuntum bunga teratai. Udara di sekeliling panggung batu mendadak menjadi sangat panas, membuat rumput-rumput di sekitarnya mengering dan terbakar dalam hitungan detik.

“Jika kalian datang hanya untuk menyerahkan nyawa, maka aku akan memenuhi permintaan itu dengan senang hati,” kata sang Pemimpin Bertopeng Teratai Merah dengan nada penuh penghinaan.

❖ ❖ ❖

Keheningan melingkupi lembah selama sesaat sebelum ledakan aura hebat terjadi. Ketua Teratai Merah mengibaskan jubahnya, dan dalam sekejap mata, tubuhnya melesat bak kilat merah menembus kegelapan malam. Udara terbelah dengan suara berdenging yang memekakkan telinga.

“Awas, Bintang!” jerit Dewa Laut seraya mendorong tubuh rekannya ke samping.

BARRR!

Sebuah gelombang panas menerjang tempat mereka berdiri sejurus lalu. Batu hitam pelataran hancur berantakan, menyisakan lubang berdiameter tiga meter yang mengepulkan asap hitam dengan tepi batu yang meleleh menjadi lahar cair. Jika Bintang Gemerlap terlambat satu detik saja, tubuhnya pasti sudah hancur berkeping-keping.

Bintang Gemerlap berguling di tanah, lalu dengan tangkas melenting berdiri. Pedang Bintang di tangannya langsung ditarik dari sarungnya, memancarkan sinar perak yang dingin. “Jurus Bintang Jatuh Membelah Langit!” pekiknya seraya mengibaskan pedangnya secara beruntun.

Tujuh larik cahaya perak meluncur deras menyasar titik-titik mematikan di tubuh Ketua Teratai Merah. Namun, sang ketua organisasi itu bahkan tidak bergeser dari tempatnya berdiri. Dia hanya mengangkat tangan kirinya, membentangkan benteng aura berwarna merah keemasan yang melapisi tubuhnya.

TRANG! TRANG! TRANG!

Serangan pedang Bintang Gemerlap membal bagai memukul perunggu tebal. Menggunakan kesempatan itu, Dewa Laut menyusup dari sisi kiri. Tenaga dalamnya dimaksimalkan, memicu Jurus Gelombang Samudra Mengamuk. Kedua telapak tangannya memukul udara, mendorong dua naga air gaib yang menderu dahsyat menuju rusuk Ketua Teratai Merah.

“Jurus yang dangkal!” ejek Ketua Teratai Merah.

Dia memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat, lalu menghantamkan telapak tangannya langsung ke arah naga air gaib tersebut. Telapak Teratai Pembakar Jiwa beradu secara langsung dengan pukulan esensi air milik Dewa Laut.

CESS!

Uap air membubung tinggi membasahi udara sekitar, disusul suara ledakan internal yang dahsyat. Dewa Laut terlempar ke belakang sejauh sepuluh langkah, matanya membelalak kaget saat merasakan hawa panas merambat cepat dari telapak tangannya menuju saluran darah di lengannya.

“Ugh!” Dewa Laut merintih, merobek bagian lengan jubahnya untuk melihat pembuluh darahnya yang berubah warna menjadi merah menyala bagai kawat pijar. “Hawa racun api ini… menyusup sangat cepat!”

“Dewa! Kau tidak apa-apa?” Bintang Gemerlap berlari mendekat, wajahnya dipenuhi rasa cemas yang amat sangat.

“Jangan mendekat, Bintang!” cegah Dewa Laut seraya menekan titik saraf di bahunya untuk menahan laju racun panas. “Pukulan orang ini benar-benar tidak boleh disentuh secara langsung. Hawa murninya sanggup membakar darah dari dalam!”

Ketua Teratai Merah melangkah mendekati mereka berdua dengan tenang. Setiap pijakan kakinya meninggalkan bekas telapak teratai gosong di atas tanah batu. “Kalian terlalu lemah untuk menantangku. Telapak Teratai Pembakar Jiwa bukan sekadar ilmu silat, ini adalah vonis kematian bagi siapa saja yang menentangku!”

❖ ❖ ❖

“Kita tidak boleh menyerah di sini,” bisik Bintang Gemerlap, menyeka keringat dingin di dahinya. Matanya menatap tajam ke arah sosok bertopeng porselen yang kian mendekat. “Jika kita kalah di sini, seluruh rimba persilatan akan jatuh ke dalam cengkeraman kegelapan.”

Lihat selengkapnya