Malam merayap lambat di atas tanah Pasundan, membawa serta angin dingin yang menusuk tulang hingga ke balik jubah tebal para pengelana. Di bawah naungan langit tanpa bintang, bayangan hitam sebuah puri kuno tampak menjulang angkuh menyerupai raksasa tidur yang siap menerkam siapa saja yang berani mengusik ketenangannya. Dinding batu andesit yang ditumbuhi lumut tebal memancarkan aura kelam, menyimpan rahasia kelam dari masa lalu yang terkubur selama ratusan tahun.
Kamil berdiri di balik reruntuhan tembok pagar luar, matanya awas mengamati setiap jengkal halaman puri yang dijaga ketat oleh para prajurit bayaran berzirah hitam. Di tangannya, sehelai peta tua berbahan kulit domba terbentang remang-remang, diterangi cahaya pendar kunang-kunang malam yang sengaja dikurung dalam botol kecil. Garis-garis tinta hitam di atas peta itu menunjukkan jalur rahasia menuju ruang bawah tanah, tempat artefak pusaka peninggalan leluhur disembunyikan oleh kelompok musuh.
"Keadaan di pos depan sangat ketat," bisik Kamil dengan suara tertahan, kepalanya menoleh ke arah rekan-rekan setimnya yang bersembunyi di balik semak belukar. "Mereka mengganti giliran jaga setiap setengah jam sekali. Patroli anjing pelacak juga dikerahkan di sisi timur."
Arka, pendekar berambut perak dengan tatapan setajam elang, maju mendekati Kamil. Ia merapikan sabuk pedangnya dan memeriksa ketajaman bilah senjata pusaka di pinggangnya. "Kita tidak punya banyak waktu, Kamil. Jika fajar menyingsing sebelum kita mengamankan artefak itu, seluruh markas musuh akan siaga penuh, dan misi kita akan gagal total."
"Benar apa kata Arka," sahut Tera dari balik bayangan pohon beringin tua. Wanita berbusana serba gelap itu sedang melilitkan kain hitam di separuh wajahnya, menyisakan sepasang mata yang memancarkan konsentrasi tinggi. "Kita harus bergerak cepat namun tetap senyap. Sedikit saja suara berderak, nyawa kita taruhannya."
Kamil mengangguk paham. Ia tahu betul risiko besar yang sedang mereka hadapi malam ini. Puri kuno tersebut bukan sekadar tempat persembunyian biasa, melainkan benteng pertahanan terakhir dari sisa-sisa laskar pemberontak yang berniat menggulingkan kekuasaan sah di tanah Parahyangan.
"Baiklah, kita ikuti rencana semula," ucap Kamil tegas sambil melipat peta kulit itu dan menyimpannya kembali ke dalam kantong jubahnya. Ia memandang satu per satu wajah rekan-rekannya yang siap bertaruh nyawa. "Kita bagi tim menjadi dua formasi utama untuk memecah konsentrasi penjagaan musuh."
Arka dan Tera saling bertukar pandang sejenak sebelum kembali fokus mendengarkan arahan selanjutnya.
"Tim pengalih perhatian akan dipimpin oleh Bagas dan Ki Wirya di sisi barat gerbang utama. Buat keributan secukupnya untuk menarik sebagian besar pasukan musuh meninggalkan area halaman dalam," lanjut Kamil memberikan instruksi terperinci. "Sementara itu, tim penyerang utama yang dipimpin langsung oleh Arka dan Tera akan menyusup lewat saluran air bawah tanah di sektor utara yang langsung terhubung ke ruang penyimpanan artefak."
"Paham," jawab Arka singkat. "Bagaimana denganmu, Kamil?"
"Aku akan memantau situasi dari menara pengintai tua di bukit seberang untuk memberikan sinyal jika ada pergerakan mencurigakan dari pasukan cadangan mereka," jawab Kamil mantap.
"Rencana yang berbahaya, tapi layak dicoba," kata Tera sambil menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan debaran jantungnya. "Mari kita bersiap. Malam ini, takdir tanah Parahyangan ditentukan di tempat ini."
❖ ❖ ❖
Kegelapan malam terasa semakin pekat tatkala rombongan mulai memecah diri sesuai formasi yang telah disepakati. Di sisi barat kompleks puri kuno, Bagas dan Ki Wirya merayap senyap di balik rimbunnya rumpun bambu berduri, mengawasi pos penjagaan utama yang diterangi oleh obor-obor besar berapi menyala terang.
"Kau yakin kita harus membuat keributan sebesar itu, Ki?" bisik Bagas ragu-ragu sambil melirik ke arah tumpukan kayu kering yang telah mereka sirami dengan minyak tanah di dekat pos jaga musuh.
Ki Wirya, yang menyandang tongkat kayunya di punggung, tersenyum tipis di balik keremangan malam. "Jika kita tidak membuat mereka panik, Arka dan Tera tidak akan pernah punya celah untuk menyusup lewat saluran bawah tanah. Lakukan saja sesuai rencana, Bagas. Jangan ragu."
Bagas mengangguk. Ia mengambil sebuah batu flint, lalu menyalakannya hingga percikan api menyambar tumpukan kayu kering tersebut. Dalam hitungan detik, kobaran api besar menjilat-jilat udara malam, memancarkan cahaya kemerahan yang memecah kesunyian puri.
"Kebakaran! Ada penyusup di gerbang barat!" teriakan panik seorang prajurit bayaran memecah keheningan malam, disusul suara lonceng bahaya yang berdentang keras berkali-kali.
Seketika itu juga, halaman utama puri menjadi riuh rendah. Puluhan prajurit berzirah hitam berlarian membawa tombak dan obor ke arah gerbang barat, meninggalkan pos-pos penjagaan di sektor utara dan tengah dalam keadaan kosong melompong.
Di sisi utara puri, di balik reruntuhan dinding saluran air bawah tanah yang berlumut, Arka dan Tera berdiri berdampingan mengawasi situasi.
"Rencana Kamil berhasil," bisik Tera pelan, matanya melirik ke arah terowongan sempit berair keruh yang menjadi jalur penyusupan mereka. "Sebagian besar pasukan musuh sudah terkonsentrasi di gerbang barat."
"Jangan senang dulu, Tera. Semakin mudah jalan di awal, biasanya semakin besar jebakan di ujung nanti," balas Arka dingin. Ia menghunus pedangnya perlahan, memastikan tidak ada suara berdecit yang lolos. "Mari kita masuk sebelum mereka menyadari tipuan ini."
Keduanya merunduk, melangkah masuk ke dalam saluran air bawah tanah yang berbau apak dan lembap. Air setinggi mata kaki mengalir lambat, memantulkan bayangan samar tubuh mereka di bawah terowongan batu bata kuno yang dibangun pada masa kerajaan lampau. Langkah kaki mereka diredam oleh suara gemercik air, bergerak cepat namun hati-hati menelusuri lorong panjang yang semakin lama semakin menukik ke bawah.
Setelah berjalan hampir sepuluh menit dalam kegelapan total yang hanya mengandalkan ketajaman indra pengelihatan malam, ujung terowongan mulai menampakkan secercah cahaya kekuningan. Arka menghentikan langkahnya dengan mengangkat tangan kiri, memberi isyarat kepada Tera untuk siaga.
"Kita sudah dekat dengan ruang penyimpanan artefak," bisik Arka, matanya menatap sebuah jeruji besi tua yang menjadi pembatas antara saluran air dan ruangan di dalam puri.
Tera mendekat, mengamati gembok berkarat yang mengunci jeruji besi tersebut. "Biar aku yang urus pengunci ini," ucapnya sambil mengeluarkan sebatang kawat tipis dari lipatan jubahnya.
Dengan gerakan jemari yang sangat cekatan, Tera meraba lubang gembok dalam gelap. Tak sampai setengah menit, sebuah bunyi klik pelan terdengar. Jeruji besi itu bergeser terbuka tanpa suara, membukakan jalan bagi mereka berdua untuk menyusup langsung ke jantung pertahanan musuh di dalam puri kuno tersebut.
❖ ❖ ❖
Suasana di dalam ruang penyimpanan artefak terasa jauh lebih dingin dan mencekam dibandingkan lorong bawah tanah tadi. Ruangan luas berarsitektur kuno itu diterangi oleh beberapa lampu minyak gantung yang bergoyang perlahan, memantulkan bayangan menakutkan dari dinding batu yang dipenuhi ukiran relief kuno berbentuk makhluk mitologi. Di tengah ruangan, sebuah altar batu hitam berdiri kokoh, di atasnya terletak sebuah kotak pusaka berukir naga emas yang memancarkan pendar energi kebiruan misterius.
Arka dan Tera melangkah masuk dengan sangat hati-hati, mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan untuk memastikan tidak ada makhluk hidup lain di sana.
"Itu dia kotaknya," bisik Tera dengan nada kagum bercampur curiga. "Artefak itu benar-benar ada di sini."