SERI 4: RAHASIA TERATAI MERAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #12

Jebakan Labirin Rawa Mati

Suasana di dalam lorong bawah tanah mendadak berubah menjadi mimpi buruk yang mencekam ketika suara desis aneh mulai menggema dari balik dinding-dinding batu yang lembap. Langkah kaki Zahra, Chafia, dan Rafar yang tadinya berirama teratur kini berubah menjadi kepanikan kecil yang tertahan. Belum sempat mereka mencerna sumber suara tersebut, aroma belerang yang sangat menyengat hidung seketika menyeruak, membuat dada terasa sesak dan tenggorokan seperti terbakar.

"Tutup mulut dan hidung kalian!" seru Rafar dengan nada panik, tangannya sigap merobek secarik kain dari bagian bawah jubahnya untuk dibagikan kepada kedua rekannya. "Ini bukan gas biasa. Ini adalah uap belerang beracun dari Rawa Mati di atas sana!"

Zahra segera menerima kain tersebut, lalu mengikatnya erat-erat menutupi hidung dan mulutnya. Matanya menatap sekeliling dengan cemas. Lorong bawah tanah yang mereka masuki ternyata terhubung langsung dengan sistem drainase purba yang berada tepat di bawah kawasan Rawa Mati—sebuah wilayah terlarang yang terkenal mematikan karena endapan gas beracun dan jebakan lumpur hidupnya.

"Bagaimana bisa gas ini masuk ke jalur evakuasi kita, Rafar?" tanya Chafia di balik kain penutupnya, suaranya terdengar teredam namun menyiratkan ketegangan yang luar biasa. "Bukankah Guru Agung mengatakan jalur ini aman dari gangguan luar?"

"Struktur tanah di sini sudah bergeser akibat guncangan pertempuran di kuil utama tadi," jawab Rafar cepat, jemarinya meraba dinding batu yang terasa basah dan mulai melepaskan gelembung-gelembung kecil berisi cairan beracun. "Dinding pelindung terowongan ini retak. Gas beracun dari kantong-kantong magma purba di dasar rawa mulai merembes masuk dan memenuhi ruangan dengan cepat!"

Benar saja, dalam hitungan detik, kabut kehijauan yang pekat mulai merayap naik dari lantai lorong, membunuh setiap lumut bercahaya yang tadinya menjadi sumber penerangan satu-satunya. Suasana di dalam terowongan berubah menjadi gelap gulita, menyisakan cahaya temaram dari batu kristal kecil yang dibawa Zahra di tangannya. Kabut beracun itu bergerak agresif, menutup setiap jengkal ruang bernapas dan memaksa rombongan kecil itu untuk bergerak mundur.

"Lorong di belakang kita sudah sepenuhnya tertutup kabut tebal," ujar Zahra sambil menunjuk ke arah jalan datang mereka tadi. Asap hijau pekat tampak mengepul padat, melahap dinding batu dan mengeluarkan suara mendesis mengerikan setiap kali bersentuhan dengan benda padat. "Kita terjebak. Tidak ada jalan kembali ke arah sana."

Chafia mengepalkan tangannya dengan erat. Frustasi mulai merayapi benaknya. "Jika kita maju ke depan, kita tidak tahu ke mana arah labirin ini akan membawa kita. Tapi jika kita diam di sini, kita akan mati lemas dalam waktu kurang dari sepuluh menit."

"Jangan putus asa dulu," tukas Rafar dengan nada berusaha tenang, meskipun butir-butir keringat dingin jelas bercampur dengan debu mengalir deras di pelipisnya. "Setiap labirin buatan manusia atau alam pasti memiliki pola. Kita hanya perlu menemukan celah di mana gas ini tidak menumpuk."

❖ ❖ ❖

Rombongan itu terdesak semakin dalam ke jantung labirin bawah tanah yang semakin rumit. Persimpangan demi persimpangan muncul silih berganti, membentangkan lorong-lorong sempit yang tampak serupa satu sama lain bagaikan labirin tanpa ujung. Kabut hijau beracun kini telah merayap setinggi pinggang, membuat setiap langkah kaki terasa berat dan menyesakkan dada.

"Kiri atau kanan, Rafar? Cepat tentukan!" teriak Zahra, suaranya mulai parau karena uap beracun yang sedikit demi sedikit mulai menembus kain pelindung. Batuk kecil mulai lolos dari tenggorokannya.

Rafar tidak langsung menjawab. Ia memejamkan matanya sejenak, mengabaikan kepanikan yang mencengkeram jiwanya, lalu memusatkan seluruh konsentrasinya pada indra perasa di kulit wajahnya. Di tengah situasi yang nyaris merenggut kesadaran itu, Rafar dikenal memiliki kepekaan luar biasa terhadap dinamika udara dan tekanan angin—sebuah kemampuan langka yang ia pelajari semasa hidup di padang pasir terbuka.

"Tunggu... jangan bergerak sembarangan," bisik Rafar tajam. Ia merendahkan tubuhnya hingga hampir menyentuh lantai batu yang basah, lalu mengangkat telapak tangannya untuk merasakan arah embusan angin yang tipis.

Chafia menatap Rafar dengan penuh harap, sementara ia sendiri berdiri berjinjit untuk menghindari genangan air beracun yang semakin tinggi. "Apa kau merasakan sesuatu? Waktu kita tidak banyak, paru-paruku sudah terasa terbakar!"

"Ssst... diamlah sebentar," ujar Rafar, fokusnya tidak tergoyahkan. Ia merangkak perlahan mendekati dinding sebelah kanan lorong, tempat di mana sambungan batu-batu besar tampak disusun secara tidak beraturan.

Di tempat itu, Rafar merasakan ada sensasi kesejukan yang sangat samar mengalir menerpa kulit pipinya. Embusan angin kecil yang membawa udara bersih—bukan udara pengap dan beracun dari dalam rawa—berasal dari celah sempit di balik dinding batu tersebut.

"Di sini," kata Rafar tegas sambil menepuk-nepuk permukaan dinding batu yang terasa lebih tipis dibandingkan bagian lainnya. "Ada aliran udara segar dari luar. Ini membuktikan bahwa di balik dinding ini terdapat ruang terbuka atau jalur ventilasi tersembunyi."

Zahra segera mendekat, membawa batu kristal penerangnya lebih dekat ke permukaan dinding yang ditunjuk oleh Rafar. "Tapi ini dinding batu pejal, Rafar. Tidak ada pintu atau celah yang bisa dibuka dengan tangan kosong."

"Bukan pintu biasa," gumam Rafar, jemarinya meraba ukiran relief berbentuk gelombang air yang sudah hampir aus dimakan usia di permukaan batu tersebut. "Ini adalah mekanisme kuno. Para pembangun terowongan ini sengaja merancang jalur darurat untuk situasi darurat seperti sekarang."

Gas beracun di belakang mereka kini semakin mendekat, mengeluarkan suara bergemuruh kecil seiring dengan semakin pekatnya kepulan asap hijau yang memenuhi lorong. Suhu di dalam ruangan mendadak terasa panas, membuat kulit terasa gatal dan perih. Situasi telah mencapai ambang batas ketahanan fisik manusia.

"Cepat, Rafar! Gas itu sudah hampir mencapai leher kita!" seru Chafia panik, batuk keras kembali pecah dari mulutnya akibat uap beracun yang berhasil menerobos pertahanan kain penutup.

❖ ❖ ❖

Rafar tidak membuang waktu sedetik pun. Dengan mata terfokus penuh pada ukiran relief gelombang air di dinding batu, ia mengingat kembali pola rahasia yang pernah ia pelajari dari kitab pusaka arsitektur kuno di perpustakaan perguruan. Tangannya bergerak lincah menekan bagian-bagian tertentu dari relief tersebut dengan urutan yang sangat spesifik: tiga kali ke kiri pada ukiran ikan, dua kali ke atas pada ukiran ombak, dan satu tekanan kuat pada pusat lingkaran batu.

Kik... krek... cleng!

Lihat selengkapnya