Lorong bawah tanah Benteng Besi Hitam memancarkan hawa lembap yang bercampur dengan bau belerang yang menusuk hidung. Dinding-dinding batu karang di sisi kiri dan kanan tampak basah oleh tetesan air bawah tanah, memantulkan nyala obor yang dipasang berjarak setiap sepuluh langkah. Di ujung lorong yang gelap gulita, sebuah labirin raksasa berdiri sebagai benteng pertahanan terakhir sebelum memasuki ruang utama penyimpanan dokumen rahasia Organisasi Teratai Merah.
Tera melangkah tenang di atas lantai batu yang dingin. Di belakangnya, dua orang pendekar pengawal dari Aliansi Persilatan berjalan dengan napas tertahan, tangan mereka erat menggenggam hulu pedang karena menyadari bahaya besar menanti di depan.
"Hentikan langkah kalian, Nona Tera," bisik salah seorang pengawal dengan suara bergetar. Matanya menatap tajam ke arah lorong labirin yang dipenuhi ukiran kepala binatang buas. "Penjaga labirin ini bukan manusia biasa. Mereka adalah para algojo yang telah menelan ribuan pil racun hitam, membuat tubuh mereka kebal dan napas mereka mampu memuntahkan api beracun."
Tera tidak menoleh. Ia merapikan jubah putihnya yang menjuntai ke lantai, lalu menyentuh lembut selendang putih bersih yang melingkar di pundaknya—sebuah pusaka warisan leluhur yang dikenal sebagai Selendang Penyapu Racun. Kain sutra itu tampak rapuh dan lembut dipandang mata, namun menyimpan kekuatan luar biasa yang mampu menetralisir segala jenis racun di dunia persilatan.
"Jika kita gentar sebelum melangkah, maka dokumen tentang rencana pembantaian aliran putih tidak akan pernah bisa kita temukan," jawab Tera lembut namun tegas. Suaranya memantul di dinding lorong, menciptakan gema yang teratur. "Tetaplah berada di belakangku, lindungi jalur belakang, dan jangan hiraukan apa pun yang terjadi di depan."
Sebelum kedua pengawal itu sempat memberikan jawaban, kegelapan di dalam labirin tiba-tiba bergemuruh. Suara gesekan logam berantai bercampur dengan deru napas berat menggema dari balik kelokan lorong yang gelap.
Wusss...!
Seketika itu juga, udara di sekitar mereka berubah menjadi panas membakar. Suhu ruangan melonjak drastis dalam hitungan detik, membuat keringat dingin bercucuran di pelipis para pengawal. Dari dalam kegelapan labirin, tiga sosok bayangan bertubuh besar muncul mengenakan topeng besi berkarat. Mata mereka menyala merah membara, menandakan bahwa mereka telah menguasai ilmu hitam tingkat tinggi yang menghancurkan kewarasan demi kekuatan absolut.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ketiga penjaga labirin itu membuka lebar mulut mereka. Gelombang cahaya jingga terang memancar dari kerongkongan mereka, bersiap melepaskan amukan api beracun yang mematikan ke arah rombongan Tera.
❖ ❖ ❖
Semburan api beracun meluncur deras bagai naga murka menyemburkan lahar. Warna api tersebut bukan merah kekuningan biasa, melainkan hijau keunguan—tanda bahwa racun mematikan telah dicampur secara sempurna ke dalam kobaran api tersebut, sanggup melelehkan daging dan tulang dalam sekejap mata.
"Awas! Lindungi diri!" teriak salah satu pengawal sambil melompat mundur ke balik dinding batu.
Namun, Tera tidak sedikit pun bergeming dari posisinya. Ia berdiri tegak di tengah lorong sempit, menatap lurus ke arah dinding api beracun yang menerjang ke arahnya dengan kecepatan kilat. Ketika jarak antara api dan tubuhnya tinggal tersisa tiga tombak, Tera akhirnya bergerak.
Gerakannya begitu anggun, menyerupai seorang penari istana yang tengah meliuk-liuk di atas panggung sutra. Selendang putih yang melingkar di pundaknya terlepas ke udara, bergerak melingkar membentuk pusaran angin putih yang bersih dari segala kotoran dunia.
Syuuuut... plang!
Begitu selendang putih itu bergesekan dengan gelombang api beracun, sebuah keajaiban terjadi. Alih-alih terbakar atau meleleh, selendang sutra tersebut justru memancarkan cahaya keperakan yang menyilaukan mata. Tenaga dalam murni yang dialirkan Tera mengubah selendang itu menjadi perisai berputar berkecepatan tinggi, menyerap seluruh hawa panas dan memutarbalikkan arah semburan api tersebut seratus delapan puluh derajat.
Ketiga penjaga labirin bermasker besi itu terkejut bukan kepalang. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa serangan andalan mereka bisa dipantulkan kembali dengan begitu mudah.
"Terima kembali apa yang kalian miliki!" seru Tera dingin.
BARRR!
Semburan api beracun yang berbalik arah menghantam telak tubuh para penjaga labirin itu sendiri. Jeritan tertahan lolos dari balik topeng besi mereka ketika kobaran api hijau keunguan membakar jubah hitam yang mereka kenakan. Dua penjaga langsung tersungkur ke lantai dan pingsan seketika, sementara penjaga ketiga mencoba bertahan dengan melompat mundur ke dalam kegelapan labirin sambil mengerang kesakitan.
Kedua pengawal Aliansi yang tadinya menutup mata karena ketakutan perlahan-lahan membuka mata mereka. Mereka menatap Tera dengan rasa kagum yang amat sangat, menyadari betapa hebatnya ilmu meringankan tubuh dan tenaga dalam yang dimiliki oleh pendekar wanita tersebut.
"Luar biasa..." gumam pengawal pertama dengan napas terengah-engah. "Kami tidak menyangka selendang itu memiliki kekuatan sedahsyat itu."
"Ini bukan sekadar soal pusaka, melainkan bagaimana ketenangan batin mengendalikan kekuatan," jawab Tera sambil merapikan kembali selendang putihnya ke atas pundak dengan gerakan yang sangat tenang. "Mari kita lanjutkan. Penjaga pertama telah lumpuh, tapi jalan kita masih panjang."
Mereka kembali melangkah, menembus sisa-sisa asap beracun yang kini telah dinetralkan sepenuhnya oleh hawa sejuk dari selendang putih Tera. Lorong labirin semakin lama semakin menyempit, mengarahkan mereka ke sebuah ruangan besar yang menjadi pusat pengamanan benteng tersebut.
❖ ❖ ❖
Ruangan besar di hadapan mereka diterangi oleh ratusan lilin hitam yang diletakkan di atas dinding tengkorak tiruan. Di tengah-tengah ruangan tersebut, sebuah meja batu besar dipenuhi oleh gulungan peta strategi dan lambang-lambang teratai merah berlumuran darah. Namun, bukan meja itu yang menarik perhatian Tera, melainkan sosok wanita paruh baya berambut ubanan yang berdiri membelakangi mereka sambil mengenakan jubah beludru merah keunguan.