Udara di dalam aula tengah padepokan tua itu terasa begitu pekat dan menyesakkan, seakan oksigen di ruangan tersebut habis diserap oleh sejarah kelam yang tertimbun selama puluhan tahun. Dinding-dinding kayu jati yang kokoh kini tampak suram, diterangi oleh nyala obor yang berderak pelan di setiap sudut ruangan. Di tempat inilah Arka dan kawan-kawannya, bersama para pendekar setia dari berbagai penjuru angin, akhirnya berhasil menembus benteng pertahanan terakhir dari kelompok musuh yang selama ini meresahkan dunia persilatan Nusantara. Namun, kemenangan kecil itu langsung berganti dengan keheningan yang mencekam begitu pandangan mereka menembus bagian tengah aula.
Di hadapan mereka, terikat erat pada pilar-pilar batu besar, duduk para sesepuh silat yang selama ini dilaporkan hilang secara misterius. Tubuh para guru besar dan penjaga tradisi luhur itu tampak lemah, dipenuhi lebam sisa siksaan fisik, namun sorot mata mereka masih memancarkan wibawa dan keteguhan jiwa yang luar biasa. Salah seorang sesepuh yang paling sepuh, Ki Darmawan, mengangkat wajahnya perlahan. Rambutnya yang putih panjang tergerai di bahu, berlumuran debu dan keringat dingin.
"Kalian... akhirnya datang juga," suara Ki Darmawan terdengar parau, memecah kesunyian aula yang dipenuhi ketegangan. "Tetapi kehadiran kalian ke tempat ini justru menyerahkan diri langsung ke dalam mulut harimau."
Arka melangkah maju dengan cepat, segera menghampiri pilar tempat Ki Darmawan diikat, lalu mengeluarkan belati kecil dari balik ikat pinggangnya untuk memotong tali-tali tebal yang melilit tubuh sang sesepuh. "Kami datang untuk membebaskan kalian, Ki. Perjalanan panjang dan pertempuran sengit di berbagai kota membimbing kami ke tempat ini. Penjara bawah tanah dan mata-mata mereka tidak mampu menghentikan langkah kami."
"Kau keliru, anak muda," sahut Ki Darmawan setelah ikatan di tangannya terlepas, memijat pergelangan tangannya yang memerah sambil menarik napas dalam-dalam. "Penangkapan kami bukanlah sebuah kegagalan pertahanan, melainkan bagian dari rencana besar mereka untuk memancing para pewaris jurus sejati keluar dari persembunyian."
Kamil, Rafar, dan Yafid segera bergerak membantu para sesepuh lainnya, membagikan air minum dan membuka ikatan yang membelenggu mereka. Suasana di aula itu bercampur antara rasa haru karena bisa bertemu kembali dengan para guru besar yang diagungkan, dan rasa cemas yang mendalam mengingat ancaman nyata masih mengintai di luar pintu aula.
"Apa sebenarnya yang diinginkan oleh pimpinan tertinggi mereka, Ki?" tanya Yafid dengan nada mendesak, membantu seorang sesepuh perguruan pesisir berdiri tegak. "Mengapa organisasi Teratai Merah ini begitu berambisi memburu para guru besar silat dari berbagai aliran?"
Ki Darmawan menatap Yafid lekat-lekat sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Arka. "Semua ini berkaitan dengan sebuah rahasia kuno yang telah disegel dengan darah dan sumpah terlarang sejak berabad-abad lalu. Ketua Teratai Merah bukanlah sekadar pemberontak biasa; dia adalah keturunan dari pengkhianat agung yang dulu diasingkan dari dewan persilatan tertinggi."
❖ ❖ ❖
Suasana di dalam aula mendadak semakin dingin ketika Ki Darmawan mulai membuka lembaran masa lalu yang selama ini terkubur rapat. Para sesepuh silat yang lain mendengarkan dalam diam, wajah mereka menyiratkan kepedihan yang mendalam. Obor di dinding berkedip-kedip, seolah ikut merasakan beratnya rahasia yang hendak diungkapkan oleh sang guru besar.
"Ketua Teratai Merah memiliki ambisi yang gila dan melampaui batas kewajaran manusia," lanjut Ki Darmawan dengan suara bergetar namun tegas. "Tujuan utama mereka menculik kami, para sesepuh dari sepuluh perguruan utama, bukan sekadar untuk melemahkan pertahanan fisik dunia silat, melainkan untuk merampas inti sari pengetahuan rahasia yang tersimpan di dalam diri masing-masing guru besar."
Arka mengerutkan kening, mencoba merangkai setiap informasi yang diterimanya. "Inti sari pengetahuan? Apakah yang Ki maksud adalah kitab-kitab pusaka?"
"Bukan sekadar kitab, Arka," sela Ki Anom, sesepuh dari perguruan harimau sumatera yang duduk di sebelah pilar. Suaranya serak akibat hari-hari panjang tanpa setetes air. "Mereka mengincar sepuluh jurus terlarang yang diwariskan secara turun-temurun. Jurus-jurus tersebut diciptakan bukan untuk membunuh, melainkan untuk menjaga keseimbangan alam semesta. Namun, jika kesepuluh jurus itu berhasil dikuasai oleh satu orang yang berniat jahat, kekuatan yang ditimbulkannya mampu menghancurkan seluruh tatanan perguruan silat di tanah air dalam hitungan hari."
Rafar mengepalkan kedua tangannya erat-erat hingga tulang jarinya memutih. "Jadi, penculikan beruntun di berbagai daerah selama beberapa bulan terakhir ini adalah bagian dari ritual pengumpulan ilmu hitam itu?"
"Tepat sekali, anak muda," jawab Ki Darmawan mengangguk perlahan. "Setiap sesepuh yang diculik dipaksa untuk mewariskan inti jurus pamungkas perguruan masing-masing melalui tekanan batin dan siksaan psikologis. Beberapa dari kami ada yang hampir menyerah karena tidak kuasa melihat penderitaan murid-murid yang dijadikan sandera."
Kamil melangkah mendekati jendela aula yang menghadap ke halaman luas di luar, mengamati barisan bayangan prajurit musuh yang mulai bergerak mengepung bangunan tersebut dari segala arah. "Kita tidak punya banyak waktu untuk berbincang lebih lama. Pasukan mereka sudah mulai menutup jalur pelarian di luar. Jika informasi ini benar, maka ketua mereka pasti sudah hampir menyempurnakan ritual penggabungan sepuluh jurus terlarang itu."
"Benar," tambah Ki Darmawan dengan ekspresi wajah yang semakin menegang. "Malam ini, saat bulan tertutup awan gelap, adalah batas waktu terakhir dari sumpah terlarang tersebut. Jika dia berhasil menyatukan jurus kesepuluh, segel kuno yang mengunci kekuatan gelap di bawah padepokan ini akan terbuka sepenuhnya."
Arka menarik napas panjang, menatap kawan-kawannya satu persatu dengan sorot mata penuh kepastian. Tidak ada ruang untuk rasa takut atau keraguan lagi di dalam hati mereka. Pertarungan ini telah mencapai babak penentuan yang sesungguhnya.
❖ ❖ ❖
Suara gemuruh langkah kaki di halaman luar aula tiba-tiba memecah keheningan malam, disusul oleh suara dentuman keras pada pintu utama padepokan yang terbuat dari kayu besi tebal. Kayu tersebut berderit nyaring, menahan hantaman beruntun dari luar yang dilakukan oleh pasukan elit Teratai Merah menggunakan linggis dan tenaga dalam tingkat tinggi.
"Mereka sudah datang," seru Yafid sambil menghunus pedang pendeknya, mengambil posisi siaga di dekat pintu masuk aula. "Kita terjebak di dalam ruangan ini jika tidak segera mencari jalan keluar alternatif."