SERI 4: RAHASIA TERATAI MERAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #15

Tabib Muda Melawan Wabah Merah

Udara di ruang bawah tanah Benteng Besi terasa begitu pekat dan menyesakkan, dipenuhi aroma amis darah, keringat dingin, serta bau busuk dari ramuan beracun yang menguap dari dinding-dinding batu lembap. Di sudut-sudut ruangan yang gelap dan minim cahaya obor, puluhan tawanan terbaring lemas di atas lantai batu yang dingin. Tubuh mereka kurus kering, kulit mereka pucat pasi dengan guratan-guratan merah kehitaman yang menjalar di sekitar leher dan dada—tanda khas dari racun mematikan yang dikenal di kalangan dunia persilatan sebagai Wabah Merah.

Racun ciptaan sekte sesat itu tidak hanya merusak fisik, tetapi juga menggerogoti energi Chi korban secara perlahan, membuat mereka lumpuh tak berdaya dan kehilangan kesadaran sebelum akhirnya menemui ajal yang mengenaskan. Di tengah keheningan yang mencekam, di antara suara rintihan tertahan dan napas yang tersenggal-senggal, dua sosok bayangan bergerak cepat melintasi jeruji besi.

Mereka adalah Chafia dan Zahra, dua tabib muda dari Lembah Surawana yang terkenal memiliki kepandaian luar biasa dalam ilmu pengobatan dan seni tusuk jarum emas. Kehadiran mereka di benteng pertahanan musuh ini bukan tanpa alasan. Setelah berhasil menembus pertahanan luar yang ketat, misi utama mereka malam ini adalah menyelamatkan para tawanan sebelum fajar menyingsing dan para algojo sekte kembali untuk melanjutkan eksperimen keji mereka.

"Zahra, periksa kondisi para tawanan di sisi sebelah kiri. Aku akan memusatkan energi pada kelompok di sebelah kanan," bisik Chafia tajam, suaranya terdengar bergetar menahan amarah melihat penderitaan manusia yang begitu kejam di hadapannya.

"Baik, Chafia. Keadaan mereka sudah sangat kritis. Aliran Chi di dalam tubuh mereka hampir sepenuhnya tersumbat oleh racun Wabah Merah," jawab Zahra dengan nada prihatin. Gadis itu segera membuka kantong kain gulung yang terbuat dari sutra putih, memperlihatkan puluhan jarum perak dan emas berkilau gemerlap di bawah temaram cahaya obor.

Chafia melangkah mendekati sel tahanan pertama. Di sana, seorang pendekar tua dari Perguruan Tapak Sakti terbaring tak berdaya, napasnya satu-satu dengan pandangan mata yang mulai kosong. Melihat kehadiran seorang tabib muda di hadapannya, pendekar tua itu mencoba menggelengkan kepala lemah.

"Anak... anak muda... jangan mendekat... racun itu... sangat menular..." bisik pendekar tua itu terbata-bata, suaranya nyaris hilang ditelan kelembapan ruangan.

"Bertahanlah, kakek tua," ucap Chafia lembut namun penuh keyakinan, menepis keraguan di hati sang pendekar. "Kami datang untuk membawa kalian keluar dari neraka ini."

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Chafia merobek lengan baju pasiennya untuk mencari titik akupunktur utama di sekitar bahu dan dada. Dengan jari-jarinya yang lentik namun kokoh berbalut tenaga dalam murni, ia mencabut beberapa jarum emas dari kantongnya. Gerakannya begitu cepat, bagaikan kilatan cahaya yang menembus kegelapan malam. Satu persatu jarum emas itu melesat mulus dan menancap tepat di titik-titik mati tubuh sang pendekar tua.

Sekejap kemudian, tubuh pendekar tua itu bergetar hebat. Suara erangan kesakitan keluar dari bibirnya, sementara peluh dingin bercampur cairan kehitaman mulai keluar melalui pori-pori kulitnya. Itu adalah reaksi alami dari proses detoksifikasi, di mana racun jahat yang mengendap di dalam darah mulai dipaksa keluar melalui titik-titik akupunktur yang telah distimulasi.

"Tahan sebentar lagi, racunnya sedang ditarik keluar," seru Chafia sambil terus mengalirkan tenaga Chi-nya melalui ujung jarum emas tersebut, menjaga agar pembuluh darah sang pasien tidak pecah akibat tekanan energi yang bergolak.

❖ ❖ ❖

Di sisi lain ruangan, Zahra menghadapi tantangan yang tidak kalah berat. Ia tengah merawat seorang gadis muda anggota perguruan pedang utara yang sekujur tubuhnya telah membiru akibat paparan dosis racun yang lebih tinggi. Gadis itu sudah tidak sadarkan diri, denyut nadinya sangat lemah dan nyaris tak teraba.

"Chafia, kondisi gadis ini memburuk! Racunnya telah merambah hingga ke jalur meridian jantungnya!" seru Zahra dengan nada panik yang tertahan.

"Jangan panik, Zahra! Gunakan teknik jarum kembar penyeimbang jiwa. Alirkan tenaga Chi-mu melalui titik Hegu dan Neiguan secara bersamaan!" balas Chafia tanpa mengalihkan pandangannya dari pasien yang sedang ia tangani.

Zahra menarik napas dalam-dalam, memusatkan seluruh pikiran dan ketenangannya. Sebagai seorang tabib muda, ia tahu betul bahwa kesalahan kecil dalam menempatkan jarum bisa berakibat fatal pada kematian seketika. Dengan tangan yang kini jauh lebih stabil, ia mengambil dua batang jarum emas berukuran lebih panjang, lalu menancapkannya dengan presisi tinggi ke pergelangan tangan dan telapak tangan sang gadis.

Denting tipis terdengar saat jarum-jarum tersebut bergetar hebat, memancarkan pendar keemasan samar yang menahan laju penyebaran racun merah menuju jantung.

Namun, di tengah kesibukan mereka menyelamatkan para tawanan, tiba-tiba terdengar suara derap langkah kaki berat di lorong batu luar ruangan tahanan. Suara itu disertai dengan suara cambuk berderak dan gelak tawa keji yang menggema di dinding-dinding lorong.

"Sial! Para algojo sekte tampaknya melakukan rotasi penjagaan lebih cepat dari perkiraan kita!" geram Zahra, matanya melirik ke arah pintu keluar ruangan yang masih tertutup rapat oleh jeruji besi tebal.

"Berapa lama lagi waktu yang kamu butuhkan untuk menstabilkan gadis ini?" tanya Chafia cepat, ia bangkit berdiri dari posisinya, jemarinya bersiap mencabut jarum emas yang telah selesai bekerja pada tubuh pendekar tua di hadapannya. Pendekar tua itu kini sudah mulai bernapas lebih teratur, meskipun kesadarannya belum sepenuhnya pulih.

"Butuh waktu setidaknya dua menit lagi untuk membersihkan sisa racun di nadinya!" jawab Zahra dengan keringat yang mulai membasahi pelipisnya.

"Dua menit terlalu lama bagi kita jika mereka mendapati kita di sini," ucap Chafia tegas. Ia melangkah cepat menuju pintu jeruji besi, meraba mekanisme kunci ganda yang terbuat dari baja murni. "Aku akan menahan mereka di luar. Lanjutkan pekerjaanmu, Zahra! Jangan biarkan usahamu sia-sia!"

"Tapi Chafia, jumlah mereka pasti tidak sedikit! Kau tidak bisa menghadapi mereka sendirian di ruang sempit ini!" protes Zahra penuh kekhawatiran.

"Percaya padaku. Selesaikan tugasmu dengan cepat, lalu kita evakuasi mereka lewat jalur ventilasi atas," ujar Chafia memberikan instruksi terakhir sebelum ia melompat ringan dan mengambil posisi siaga tepat di balik pintu jeruji besi.

Derap langkah di luar kini sudah berada tepat di depan pintu. Suara percakapan kasar para penjaga terdengar semakin jelas di telinga mereka, menandakan bahwa waktu bagi kedua tabib muda itu untuk menyelamatkan diri semakin menipis.

❖ ❖ ❖

Pintu jeruji besi tiba-tiba berderit nyaring saat sebuah obor besar disodorkan dari celah luar, disusul oleh suara tawa serak seorang kepala penjaga sekte yang berbadan tambun dengan bekas luka besar di wajahnya.

"Hei, kalian para anjing tua! Waktunya bangun untuk pemeriksaan malam!" teriak sang kepala penjaga sambil menghantamkan gagang tombaknya ke jeruji besi.

Namun, alih-alih mendapati para tawanan merintih kesakitan di lantai seperti biasanya, kepala penjaga itu terkejut ketika melihat seorang gadis muda berbusana tabib berdiri tenang tepat di hadapannya dengan tatapan dingin menusuk.

"Siapa kau?! Beraninya penyusup masuk ke ruang tahanan utama!" bentak kepala penjaga sekte itu kaget, ia segera memberi komando kepada empat orang anak buahnya di belakang untuk menghunus senjata masing-masing.

"Akulah algojo bagi kalian malam ini," jawab Chafia tenang. Sebelum para penjaga sempat membunyikan lonceng alarm, Chafia bergerak lebih cepat. Ia mengeluarkan tiga batang jarum perak beracun penenang dari sakunya, lalu melemparkannya dengan tenaga dalam tinggi melalui celah-celah jeruji besi.

Lihat selengkapnya