SERI 4: RAHASIA TERATAI MERAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #16

Pertempaan Dahsyat di Aula Merah

Suasana di dalam kompleks Benteng Naga Besi mendadak membeku, menyisakan ketegangan yang begitu pekat hingga seolah-olah udara pun berubah menjadi wujud yang padat dan menyesakkan dada. Di hadapan gerbang raksasa Aula Merah—sebuah bangunan megah berlapis kayu jati tua dan pilar-pilar batu hitam yang kokoh—Fathan berdiri tegak dengan tatapan mata yang menyalang tajam. Jubah hitamnya berkibar tertiup angin malam yang menderu keras, sementara kedua tangannya mengepal erat, memegang pedang pusaka leluhur yang bilahnya memancarkan kilau keperakan di bawah naungan cahaya bulan sabit.

Di sampingnya, Galin menarik napas dalam-dalam, mengatur denyut jantung dan aliran tenaga dalam di dalam tubuhnya. Pemuda berambut ikal itu menyeka peluh yang mengalir di dahinya dengan punggung tangan, lalu tersenyum tipis, sebuah seringai penuh percaya diri yang selalu ia tunjukkan setiap kali mereka dihadapkan pada situasi hidup dan mati.

"Kau siap, Fathan? Di balik pintu besar itu, para tetua organisasi sudah menunggu kita dengan ribuan perangkap maut," bisik Galin, suaranya terdengar tenang namun mengandung getaran antisipasi yang luar biasa tinggi.

Fathan melirik sahabat setianya itu sejenak, lalu mengangguk mantap. "Kita tidak punya pilihan lain, Galin. Hutang darah harus dibayar dengan darah. Organisasi gelap ini telah merenggut terlalu banyak nyawa yang tidak bersalah. Hari ini, riwayat mereka di tanah ini harus dituntaskan."

Tanpa menunggu aba-aba lebih lama lagi, Fathan mengayunkan pedangnya ke depan. Gelombang tenaga dalam yang dahsyat melesat keluar, menghantam daun pintu Aula Merah yang terbuat dari besi baja padat.

Bum!

Suara ledakan menggelegar memecah kesunyian malam. Pintu raksasa itu runtuh berkeping-keping, menghamburkan serpihan kayu dan logam ke segala arah. Seketika itu juga, pemandangan di dalam aula yang luas terpampang jelas di hadapan mereka. Puluhan pendekar berjubah merah tua berdiri berderet rapi, memegang senjata tajam yang bersiap menyambut kedatangan penyusup. Di atas singgasana batu di ujung ruangan, duduk lima orang tetua organisasi dengan tatapan mata dingin penuh kebencian.

"Bocah-bocah kurang ajar! Beraninya kalian menginjakkan kaki di tempat suci ini dan mencari kematian sendiri!" bentak Tetua Pertama, seorang lelaki tua bertubuh kurus kering dengan janggut putih panjang menjuntai hingga ke dada. Suaranya menggema keras di dalam ruangan yang luas itu, menciptakan getaran di dinding-dinding batu.

Fathan sama sekali tidak gentar. Langkah kakinya menapak mantap melangkah melewati ambang pintu yang hancur, diikuti oleh Galin yang langsung mengambil posisi di sisi kanannya.

"Kalian menyebut tempat ini suci? Padahal tempat ini tidak lebih dari sarang para pembunuh berdarah dingin," jawab Fathan dingin. "Hari ini, keadilan akan ditegakkan dengan ujung pedang kami."

Tetua Pertama mendengus keras, wajahnya memerah karena amarah yang meluap-luap. "Bunuh mereka! Jangan sisakan satu pun bagian tubuh yang utuh!"

Mendengar perintah mutlak tersebut, puluhan pendekar berjubah merah langsung berhamburan maju, menerjang ke arah Fathan dan Galin bagaikan kawanan serigala kelaparan yang siap mencabik-cabik mangsanya. Pertempuran besar yang akan menentukan nasib dunia persilatan resmi dimulai detik itu juga.

❖ ❖ ❖

Hantaman gelombang serangan pertama dari para pendekar organisasi langsung menghantam area pintu masuk aula. Suara dentingan logam yang saling beradu bergemerincing nyaring, menciptakan percikan api yang berpijar terang di tengah temaramnya cahaya obor di dinding ruangan.

Fathan bergerak laksana badai yang mengamuk. Pedang di tangannya menari-nari dengan kecepatan luar biasa, membelah udara dan menciptakan lingkaran pertahanan yang tidak mampu ditembus oleh senjata lawan. Setiap kali bilah pedangnya berkelebat, angin tajam tercipta, memaksa para pendekar terdepan mundur teratur atau terpental jauh ke belakang.

"Terlalu lambat!" seru Fathan lantang, saat ia berhasil menangkis tiga tombak sekaligus secara bersamaan, lalu memutar tubuhnya untuk melancarkan tendangan keras yang mengenai dada lawan hingga tersungkur muntah darah.

Di sisi kanannya, Galin tidak kalah hebat. Pemuda itu menggunakan jurus cakar naga pusaka warisan perguruannya, menghantam setiap pertahanan musuh dengan pukulan bertenaga dalam tingkat tinggi. Setiap kali tangannya menyentuh baju zirah musuh, suara retakan tulang terdengar jelas.

"Hei, Fathan! Jangan habiskan semua tenaga di awal! Para tetua di atas sana masih duduk tenang menikmati pertunjukan kita!" teriak Galin di tengah kerumunan musuh, sambil melompat tinggi dan menghantamkan kedua tangannya ke lantai, menciptakan gelombang kejut kecil yang merobohkan lima orang pendekar sekaligus.

Fathan melirik sekilas ke arah singgasana di ujung aula. Benar apa yang dikatakan Galin. Kelima tetua organisasi itu masih duduk dengan angkuh, menyaksikan anak buah mereka berjatuhan satu per satu tanpa menunjukkan niat untuk turun tangan secara langsung. Mereka sengaja menguji kemampuan kedua pemuda itu terlebih dahulu.

"Kalau begitu, kita harus mempercepat jalan menuju ke sana!" balas Fathan penuh tekad.

Fathan menarik napas panjang, memusatkan seluruh energi qi ke dalam bilah pedangnya hingga senjata itu kini memancarkan cahaya keperakan yang menyilaukan mata. Ia mengeluarkan jurus pamungkas tingkat ketujuh, Penerbas Badai Utara.

Dalam sekali ayunan penuh, tebasan angin pedang yang sangat besar melesat lurus membelah kerumunan musuh di tengah aula. Puluhan pendekar berjubah merah terpelanting bersamaan, kehilangan kesadaran seketika akibat hantaman tenaga dalam yang begitu masif. Jalan menuju singgasana para tetua kini terbuka lebar.

Namun, sebelum Fathan dan Galin sempat melangkah lebih jauh maju ke depan, suara derap langkah berat terdengar dari arah balkon lantai atas aula. Dari sana, bayangan-bayangan cepat meluncur turun, membawa ancaman baru yang tidak kalah mematikan.

❖ ❖ ❖

"Jangan sombong dulu, anak muda!" teriak salah satu dari lima tetua organisasi, Tetua Kedua, yang bertubuh gempal kekar dengan bekas luka melintang di wajahnya. Ia melompat turun dari singgasana, mendarat dengan hentakan kaki yang membuat lantai batu aula retak bercabang.

Di saat yang bersamaan, Azalia dan Risha yang sejak awal bertugas mengamankan area luar dan balkon atas melihat pergerakan mencurigakan dari pasukan cadangan musuh yang bersiap menyergap dari celah-celah jendela lantai atas.

Lihat selengkapnya