SERI 4: RAHASIA TERATAI MERAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #17

Panah Kembar Pemutus Rantai

Malam di pelataran reruntuhan Kuil Kuno itu membeku dalam kesunyian yang mencekam. Angin malam yang membawa hawa dingin dari puncak pegunungan berembus kencang, meniup jubah compang-camping para petarung yang tersisa di medan laga. Bau anyir darah dan mesiu berpadu pekat di udara, menciptakan atmosfer yang menyesakkan dada siapa pun yang menghirupnya. Di tengah arena pertarungan yang dikelilingi oleh pilar-pilar batu berukir naga, Kamil berdiri dengan napas tersengal-sengal. Pedang di tangan kanannya sudah retak di bagian ujung, sementara pakaiannya robek di berbagai sisi akibat pertarungan sengit yang berlangsung tanpa henti sejak matahari terbenam.

Berhadapan langsung dengannya, Ketua Teratai Merah berdiri tegak dengan senyum meremehkan terukir di balik topeng besi bergambar bunga terkutuk. Jubah merahnya berkibar megah diterpa angin malam, memantulkan cahaya kemerahan dari obor-obor besar yang tertancap di sekeliling pelataran. Di tangan kiri pemimpin kejam itu, sebuah rantai besi berduri hitam legam melingkar erat, mengeluarkan bunyi klontang-klontang yang mengerikan setiap kali ia menggerakkan lengannya. Rantai itu bukan sekadar senjata biasa; ia telah direndam dalam bisa ular bayangan dan racun pelumpuh saraf yang mematikan, dirancang khusus untuk meremukkan tulang sekaligus melumpuhkan aliran darah korban dalam hitungan detik.

"Perjalananmu berakhir di sini, anak muda," suara Ketua Teratai Merah menggema berat, dingin, dan penuh keyakinan mutlak. "Kau telah berani menentang takdir yang digariskan oleh organisasi kami, dan untuk itu, kematian yang menyakitkan adalah harga yang pantas kau bayar."

Kamil menyeka darah yang mengalir di pelipisnya dengan punggung tangan yang gemetar. Meskipun kelelahan luar biasa meremukkan sekujur tubuhnya, sorot mata pemuda itu tetap menyala tajam, memancarkan keteguhan hati yang tidak mudah padam oleh ancaman apa pun. Ia tahu betul reputasi sang Ketua; tidak ada seorang pun yang pernah selamat setelah menjadi target dari rantai beracun tersebut. Namun, mundur bukanlah pilihan yang ada di dalam kamus hidupnya saat ini, terutama ketika ia tahu bahwa keselamatan rekan-rekannya bergantung pada kemampuannya menahan pergerakan monster di hadapannya.

"Aku tidak peduli dengan takdir busuk yang kalian buat di atas penderitaan orang lain," balas Kamil dengan suara parau namun tegas. Ia mengangkat pedangnya yang retak, mencoba memasang kuda-kuda terakhir meskipun otot-otot di kakinya terasa bagai terbakar api. "Selama aku masih bisa berdiri, rantai kotor itu tidak akan pernah menyentuh tanah suci ini!"

Ketua Teratai Merah mendengus sinis, matanya menyipit tajam di balik celah topeng besinya. "Keras kepala yang sia-sia." Tanpa aba-aba tambahan, tubuh sang pemimpin melesat maju bagai kilat merah, mengayunkan rantai besi beracun dengan kecepatan yang luar biasa ke arah dada Kamil. Rantai itu meliuk-liuk di udara menyerupai ular berbisa yang siap menerkam mangsanya, membelah angin malam dengan suara desingan yang membuat bulu kuduk merinding. Kamil mencoba mengangkat pedangnya untuk menangkis, tetapi gerakan musuh terlalu cepat untuk ukuran tubuhnya yang sudah kehabisan tenaga. Waktu seakan melambat, dan maut kini berada hanya sejengkal dari jantungnya.

❖ ❖ ❖

Di atas menara pengintai batu yang terletak sekitar empat puluh meter dari arena utama, Risha menarik napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya yang bergemuruh hebat. Melalui bidikan malam dari busur panjang kesayangannya, ia dapat melihat dengan sangat jelas bagaimana rantai besi beracun milik Ketua Teratai Merah meluncur cepat ke arah Kamil. Jarak yang membentang di antara mereka terasa begitu jauh, terhalang oleh kegelapan malam dan kepulan asap sisa pertarungan yang mengepul tebal di udara. Jari-jari lentiknya mencengkeram erat badan busur yang terbuat dari kayu jati pilihan, sementara matanya menatap tajam tanpa berkedip melalui celah bidik logam.

"Risha, situasi sangat kritis! Kamil tidak akan sempat menangkis serangan itu dengan kondisi fisiknya sekarang!" seru Azalia dengan nada panik, berlari kecil menghampiri rekannya di atas menara sambil membawa dua anak panur khusus berujung baja runcing yang baru saja diambil dari dalam kantong perbekalan.

"Aku melihatnya, Azalia! Jaraknya terlalu jauh dan angin malam bertiup cukup kencang dari arah barat daya," jawab Risha dengan suara cepat namun terkontrol, mencoba menjaga ketenangan jiwanya di tengah situasi yang mendesak. "Jika kita salah memperhitungkan arah angin sepersekian detik saja, anak panah kita bisa meleset atau justru membahayakan Kamil."

Azalia menyerahkan anak panah khusus tersebut dengan tangan yang sedikit bergetar. "Kita tidak punya banyak waktu untuk berpikir ulang. Hitungan detik ini menentukan hidup mati Kamil. Kita harus melepaskannya sekarang secara bersamaan!"

Risha mengangguk mantap. Ia mengambil anak panah itu, memasangnya pada tali busur dengan presisi tinggi, lalu menariknya hingga batas maksimal. Urat-urat di lengan rampingnya menegang menahan tarikan pegas busur yang sangat kuat. Di sampingnya, Azalia melakukan gerakan yang sama persis, menyelaraskan tarikan napas dan sudut kemiringan busurnya agar sejajar dengan posisi Risha. Keduanya telah berlatih teknik panahan kembar selama bertahun-tahun di lembah pertapaan, sebuah teknik rahasia yang membutuhkan sinkronisasi jiwa dan raga yang sempurna antara dua pemanah ulung.

"Hitungan ketiga. Satu... dua..." bisik Risha pelan, matanya tidak pernah lepas dari titik sasaran di bawah sana, di mana kilau rantai besi beracun musuh sudah hampir mencapai sasaran utamanya.

Suasana di sekitar menara pengintai mendadak terasa begitu sunyi, seolah waktu berhenti berputar demi menyaksikan detik-detik penentuan tersebut. Dari kejauhan, bayangan tubuh Ketua Teratai Merah terlihat semakin mendekati posisi Kamil yang terpaku di tengah pelataran batu.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya