SERI 4: RAHASIA TERATAI MERAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #18

Adu Tenaga Dalam di Puncak Lembah

Udara dingin di Puncak Lembah Tengkorak mendadak berubah menjadi lautan api tak kasat mata begitu amarah menguasai diri sang penguasa tertinggi Teratai Merah. Jubah merah darahnya berkibar liar diempas angin malam yang menderu kencang, menderu bagai lolongan serigala kelaparan. Di hadapannya, Arka berdiri tegak dengan kuda-kuda yang kokoh, sepasang matanya menatap tajam tanpa sedikit pun rasa gentar menghadapi musuh bebuyutan yang telah merusak kedamaian bumi persada.

"Kau pikir kemenangan kecil di markas bawah tanah itu membuatmu bisa merendahkan kekuatan Teratai Merah, bocah bodoh?" suara Ketua Teratai Merah menggelegar dahsyat, memecah kesunyian malam dan mengguncang bebatuan terjal di sekitar tebing.

"Kemenangan itu baru permulaan, Ketua!" balas Arka dengan suara lantang yang tidak kalah berwibawa, memantul di dinding-dinding ngarai yang curam. "Kejahatan yang kalian sebar selama bertahun-tahun harus dihentikan di tempat ini, malam ini juga!"

"Sombong sekali!" bentak sang ketua, urat-urat di lehernya menonjol keluar seiring lonjakan energi hitam pekat yang mulai merambati sekujur tubuhnya.

Tanpa aba-aba lagi, Ketua Teratai Merah melompat tinggi ke udara, tubuhnya melesat bagai meteor merah membara yang membelah kegelapan malam sebelum akhirnya mendarat dengan dentuman keras di atas batu datar yang menjadi titik tertinggi tebing terbuka. Pijakannya bahkan membuat retakan besar di permukaan batu karang yang keras itu.

Arka tidak membuang waktu. Dengan tarikan napas panjang yang terpusat di dalam dantiannya, ia menyambut tantangan itu. Langkah kakinya ringan namun bertenaga saat ia melompat menyusul ke atas puncak tebing, berdiri berhadapan langsung dengan sang pemimpin musuh dalam jarak yang amat dekat. Jarak di antara mereka kini hanya terpaut beberapa langkah saja, tetapi tekanan udara di sekitar mereka sudah cukup untuk membuat siapa pun yang mendekat terpental seketika.

"Jika itu yang kau inginkan, tunjukkan padaku seberapa hebat warisan perguruanmu!" seru sang ketua seraya merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.

Sekejap kemudian, gelombang hawa panas merah membara meledak dari tubuh Ketua Teratai Merah. Suhu di puncak tebing itu melonjak drastis dalam hitungan detik, mengubah udara dingin pegunungan menjadi sepanas ubi bakar di dalam tungku perapian. Nyala api kemerahan bergemuruh di sekeliling tubuhnya, membentuk siluet bunga teratai raksasa yang tampak menyeramkan dan mematikan.

"Aku akan membuktikan bahwa kebenaran selalu menemukan jalannya," ucap Arka dengan tenang, meski keringat mulai bercucuran di pelipisnya akibat terjangan hawa panas musuh.

Arka mulai merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada, mengalirkan seluruh energi murni yang selama ini ia latih dengan penuh disiplin tinggi. Perlahan namun pasti, pendar cahaya keemasan yang hangat dan menyilaukan mulai terpancar dari kulit tubuhnya, membelah kegelapan malam dengan keagungan yang luar biasa. Itu adalah manifestasi dari jurus tertinggi perguruannya: Matahari Teratai Agung.

"Bersiaplah untuk lenyap bersama angin malam!" murka sang ketua saat ia mulai mendorong kedua telapak tangannya ke depan.

❖ ❖ ❖

Benturan pertama dari kedua kekuatan dahsyat itu langsung menciptakan gelombang kejut berupa angin puyuh yang menyapu bersih seluruh kerikil dan debu di puncak tebing. Hawa panas merah membara milik sang ketua berbenturan secara frontal dengan hawa keemasan Matahari Teratai Agung milik Arka tepat di ruang kosong di antara mereka. Suara gemuruh mirip petir menyambar di siang bolong bergema tanpa henti, membuat udara di sekitar bergetar hebat.

"Arka! Tahan kekuatanmu, jangan biarkan dia menekan dadamu!" teriakan cemas terdengar dari arah bawah tebing, tempat Sani dan Malik berdiri menyaksikan duel maut tersebut dengan napas tertahan.

"Aku baik-baik saja!" balas Arka di tengah sela-sela konsentrasinya yang sedang diuji hingga batas maksimal.

Tekanan dari energi merah musuh terasa begitu berat, menghujam dada Arka bagaikan hantaman palu besi raksasa. Setiap detik, aliran hawa panas itu mencoba menerobos benteng pertahanan energi keemasan yang ia bangun. Kulit wajah Arka tampak memerah, menahan beban tenaga dalam tingkat tinggi yang mengalir deras di jalur meridian tubuhnya.

"Kau tidak akan sanggup bertahan lama, anak muda!" ejek Ketua Teratai Merah dengan tawa menggelegar, sementara aliran api di tubuhnya semakin berkobar, memperluas cakupan gelombang merah yang mendesak ruang gerak Arka. "Ilmu keemasanmu itu hanyalah bayangan semu dari masa lalu!"

Arka tidak menjawab dengan kata-kata. Ia tahu bahwa berbicara di tengah adu tenaga dalam hanya akan memecah fokus dan membiarkan energi musuh merangsek masuk menghancurkan organ dalamnya. Sebaliknya, ia menutup matanya sejenak, memusatkan seluruh pikiran pada inti energi di dalam tubuhnya, dan menyalurkan kembali kekuatan spiritual dari alam sekitar ke dalam pendaran emas di telapak tangannya.

"Matahari Teratai Agung tidak akan pernah padam oleh api kebencianmu!" gumam Arka dalam hati.

Perlahan tapi pasti, cahaya keemasan dari tubuh Arka mulai memancarkan kilau yang semakin terang, menahan laju gelombang merah musuh yang tadinya hampir mendesak mundur posisi kakinya. Retakan di batu tempat Arka berpijak berhenti melebar, digantikan oleh keseimbangan baru yang tercipta dari benturan dua kekuatan raksasa tersebut.

"Apa?!" seru sang ketua dengan nada tak percaya, melihat bagaimana anak muda di hadapannya mampu mengimbangi gelombang tenaga dalam yang telah ia tempuh selama puluhan tahun. "Bagaimana mungkin kau memiliki kapasitas tenaga dalam sebesar itu di usia mudamu?!"

"Karena tenaga iniku dilandasi oleh tekad untuk melindungi, bukan untuk menghancurkan," jawab Arka tegas, membuka matanya yang kini memancarkan binar keemasan yang menyilaukan mata.

Situasi di puncak tebing kini berada dalam titik keseimbangan yang sangat rapuh. Sedikit saja ada gangguan dari luar atau penurunan konsentrasi dari salah satu pihak, maka ledakan besar tidak akan bisa dihindarkan lagi dan siap merenggut nyawa siapa pun yang berada di dekatnya.

❖ ❖ ❖

Angin malam di Puncak Lembah Tengkorak semakin menderu kencang, seolah ikut merasakan ketegangan luar biasa yang tercipta dari adu tenaga dalam antara kedua pendekar sakti tersebut. Keringat deras kini membasahi sekujur tubuh Arka dan sang ketua, sementara pakaian mereka berkibaran liar diterpa gelombang energi panas yang saling mendesak tanpa kenal ampun.

Lihat selengkapnya