Langit di atas Benteng Teratai Merah menggantung rendah, diselimuti oleh kepulan asap tebal berwarna merah keunguan yang berputar-putar bagaikan badai kiamat. Udara di sekeliling pelataran utama terasa sangat menyesakkan, dipenuhi oleh sisa-sisa hawa murni beracun yang menguar dari tungku-tungku energi bawah tanah. Di tengah pelataran batu hitam yang retak-retak, Arka berdiri dengan napas memburu. Jubah putihnya kini telah robek di berbagai sisi, berlumuran keringat bercampur debu dan bercak darah segar.
Di hadapannya, Sang Ketua Teratai Merah berdiri tegak dengan mata melotot merah penuh kebencian. Sosok pemimpin tertinggi organisasi kejam itu memancarkan aura panas yang luar biasa, membuat batu-batu di sekitar kakinya mendadak meleleh menjadi cairan pijar.
"Arka! Kau mengira dengan sisa-sisa tenaga kerdil itu kau bisa meruntuhkan imperium yang sudah kubangun selama puluhan tahun?!" teriak Sang Ketua dengan suara menggelegar yang mengguncang gendang telinga. Suaranya terdengar seperti raungan binatang buas yang terluka parah.
Arka tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya merapatkan kedua tangannya di depan dada, memejamkan mata sejenak untuk menenangkan detak jantungnya yang bergemuruh hebat. Dalam keheningan sesaat di tengah badai itu, Arka mengingat kembali perjalanan panjang yang melelahkan. Ia teringat pada gurunya, pada rekan-rekan seperjuangan yang telah gugur di medan laga, dan pada tanggung jawab besar yang kini terpundak di atas kedua bahunya.
"Imperium yang dibangun di atas penderitaan dan darah orang-orang tak bersalah tidak akan pernah bertahan lama, Ketua Teratai Merah," ucap Arka dingin, membuka matanya yang kini memancarkan binar keteguhan baja.
Di sudut pelataran yang lain, terhalang oleh pilar-pilar batu yang runtuh, Kamil bersandar lemah pada dinding karang. Pemuda itu memegang dadanya yang terluka parah akibat hantaman telapak tangan musuh beberapa saat lalu. Meski kesadarannya mulai kabur dan pandangannya kabur oleh cucuran keringat dingin, mata Kamil tetap tajam mengamati gerak-gerik sang musuh utama. Ia tahu, dalam kondisi pertarungan tingkat tinggi seperti ini, selisih sepersekian detik saja akan menentukan hidup dan mati.
"Arka..." gumam Kamil lirih, mengerahkan sisa-sisa tenaga dalam di tenggorokannya agar suaranya dapat menembus deru angin malam. "Perhatikan... titik lemah pada pertahanan dada kirinya! Aliran tenaga dalam Telapak Teratai Pembakar Jiwa miliknya mengalami jeda selama setengah kedipan mata setiap kali ia selesai melepaskan jurus gelombang api!"
❖ ❖ ❖
Mendengar teriakan petunjuk dari Kamil, Sang Ketua Teratai Merah langsung mendelik tajam ke arah sudut pelataran. "Tikus pengganggu! Kau pikir informasi murahan itu bisa menyelamatkan kalian?!"
Tanpa membuang waktu lagi, Sang Ketua mengibaskan lengan jubah merahnya dengan gerakan menyilang. Gelombang panas membara melesat deras bagai ribuan jarum api, menyasar langsung ke arah tempat Kamil bersandar.
"Jangan harap!" seru Arka dengan suara menggelegar.
Tubuh Arka melesat bagai kilat putih, memotong jalur serangan tersebut sebelum sempat mencapai Kamil. Dengan mengerahkan seluruh tenaga dalam di lengan kanannya, Arka mengibaskan pedang kayu tua miliknya yang kini diselimuti oleh lapisan tenaga murni berwarna perak.
BARRR!
Benturan hebat antara hawa panas dan energi perak menciptakan ledakan angin yang menyapu bersih puing-puing di sekitar pelataran. Arka terdorong mundur tiga langkah, sementara Sang Ketua Teratai Merah hanya sedikit bergeser dari posisinya. Namun, peringatan Kamil telah tertanam kuat di dalam benak Arka. Jeda waktu setengah kedipan mata itu kini menjadi sasaran mutlak yang harus ia manfaatkan.
"Sekarang giliranmu!" geram Sang Ketua Teratai Merah. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, memanggil seluruh energi dari inti bumi di bawah benteng. "Jurus Pemusnah Jiwa: Ribuan Kelopak Maut!"
Puluhan bayangan kelopak bunga teratai berukuran besar tercipta di udara, masing-masing memancarkan cahaya merah menyala yang siap meremukkan tulang dan membakar hangus organ dalam siapa pun yang menyentuhnya. Bayangan kelopak itu meluncur secara bersamaan, mengunci seluruh ruang gerak Arka dari berbagai penjuru mata angin.