SERI 4: RAHASIA TERATAI MERAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #21

Tumbangnya Mahkota Teratai Merah

Angin malam di dataran tinggi Parahyangan menderu kencang, membawa aroma daun pinus basah dan sisa-sisa bau mesiu yang menyengat dari pertempuran besar yang baru saja usai. Di pelataran utama markas besar Teratai Merah, bangunan megah berarsitektur kuno itu kini tampak compang-camping, sebagian besar pilar batunya hangus dilalap api dan menyisakan kerangka arang yang mengepulkan asap kelabu. Langit malam tampak kelam tanpa bintang, seolah turut berduka dan menyaksikan akhir dari sebuah era kegelapan yang selama bertahun-tahun mencekam tanah Pasundan.

Arka berdiri tegak di tengah reruntuhan halaman, napasnya masih memburu berat sementara pedang pusakanya tertancap kokoh di atas tanah berdarah. Jubah putih yang dikenakannya robek di sana-sini, dihiasi noda darah musuh maupun lukanya sendiri. Namun, sorot mata tajamnya tidak sedikit pun menyiratkan kelelahan. Di hadapannya, sesosok bayangan agung berbalut jubah merah darah berhias sulaman benang emas tampak berlutut dengan tubuh bergetar hebat. Orang itu adalah sang ketua tertinggi Teratai Merah, penguasa lalim yang selama ini menebar teror di seluruh penjuru negeri.

"Semua sudah berakhir, Ki Prawira," ucap Arka dingin, suaranya membelah keheningan malam yang mencekam. "Mahkota kekuasaan yang kau bangun di atas penderitaan orang lain akhirnya runtuh seketika."

Ki Prawira mengangkat wajahnya perlahan. Rambut putihnya yang acak-acakan berlumuran darah, dan dari sudut bibirnya mengalir cairan merah pekat. Tatapannya yang dulu memancarkan kesombongan mutlak kini redup, menyisakan kepedihan dan kemarahan yang membara. Ia tertawa kecil, suara tawanya terdengar parau dan serak, memantul di dinding-dinding batu markas yang sunyi.

"Kau pikir kehancuranku berarti kemenangan abadi bagi perguruanmu, anak muda?" cibir Ki Prawira dengan nada mencemooh. Ia meludahkan gumpalan darah ke tanah. "Dunia persilatan tidak pernah benar-benar bersih dari noda. Hancurnya Teratai Merah hanya akan memicu bangkitnya kekuatan lain yang jauh lebih kejam di masa depan."

Tera melangkah mendekat dari sisi kiri Arka, memegang erat hulu pedang pendeknya dengan waspada. "Jangan mencoba menebar racun kebencian lagi, Prawira. Kejahatanmu sudah terbongkar terang-terang di hadapan seluruh pendekar Parahyangan. Tidak ada lagi tempat persembunyian untukmu."

"Benar apa kata Tera," sambung Bagas yang datang menyusul bersama Ki Wirya dari arah gerbang reruntuhan. Bagas membawa sebuah gulungan besar berisi catatan kejahatan dan daftar korban yang berhasil mereka sita dari ruang arsip rahasia ketua. "Semua bukti aliran dana gelap, praktik perbudakan murid, hingga rencana kudeta berdarah telah kami amankan. Riwayat organisasi busuk ini benar-benar telah tamat malam ini."

Ki Prawira mendengus sinis, mengabaikan luka parah di dadanya akibat hantaman tenaga dalam tingkat tinggi yang baru saja diterimanya. Ia mencoba bangkit berdiri, namun lututnya terlampau lemah. "Kalian... tidak tahu apa-apa tentang rahasia besar di balik berdirinya Teratai Merah..." bisiknya terbata-bata sebelum kembali terhuyung ke depan.

❖ ❖ ❖

Suasana di sekitar pelataran utama mendadak menjadi tegang saat sisa-sisa pengikut Teratai Merah yang tersisa mulai meletakkan senjata mereka satu per satu. Melihat pemimpin tertinggi mereka telah lumpuh dan dikelilingi oleh para pendekar teratai, barisan prajurit bayaran berzirah hitam itu kehilangan seluruhnyal nyali untuk melawan. Mereka berlutut menyerah, melepas helm besi dan pedang mereka ke atas tanah yang basah oleh embun malam.

"Ikat tangan mereka semua! Jangan biarkan satupun melarikan diri!" perintah Ki Wirya tegas kepada para pendekar muda yang bertugas di barisan belakang. Suara orang tua itu terdengar berwibawa, mengembalikan ketertiban di tengah kekacauan sisa pertempuran.

Beberapa pendekar bergerak cepat melaksanakan perintah, menggiring para tahanan ke sudut halaman untuk dikumpulkan di bawah pengawasan ketat. Sementara itu, Arka tetap tidak mengalihkan pandangannya dari Ki Prawira yang kini terduduk lemas bersimbah darah.

"Di mana para sandera yang kalian sekap di ruang bawah tanah?" tanya Arka tajam, menuntut jawaban pasti.

Ki Prawira tersenyum sinis, meskipun napasnya mulai tersengal-sengal pendek. "Cari saja sendiri di labirin bawah tanah... jika kalian sempat menyelamatkan mereka sebelum reruntuhan itu menutup seluruh jalan keluar."

Mendengar ucapan tersebut, Tera langsung merasa cemas. Ia menoleh ke arah Arka. "Kita harus bergerak cepat, Arka. Jika ruang bawah tanah itu runtuh akibat guncangan pertempuran tadi, ratusan korban yang disekap bisa tertimbun hidup-hidup di dalamnya."

"Kalian masuklah ke dalam sekarang," timpal Ki Wirya sambil menepuk bahu Arka. "Biar aku dan Bagas yang mengurus sisa tawanan dan pengamanan di halaman atas ini."

Tanpa membuang waktu lagi, Arka dan Tera berbalik arah dan berlari kencang menuju bangunan utama yang separuh runtuh. Di balik pintu besi besar yang terkelupas akibat ledakan tenaga dalam, sebuah tangga batu gelap menukik tajam ke dalam perut bumi, menjadi jalur satu-satunya menuju ruang tahanan bawah tanah tempat para korban disekap selama berbulan-bulan.

Bau lembap dan anyir darah langsung menyengat hidung begitu mereka menginjakkan kaki di anak tangga pertama. Suasana di dalam lorong bawah tanah itu sangat gelap, hanya diterangi oleh beberapa obor sisa yang hampir padam di dinding batu.

"Dengar! Ada suara ketukan dari arah bilik tahanan sebelah kanan!" seru Tera tiba-tiba, menghentikan langkahnya sejenak untuk menajamkan pendengaran.

Arka mengangguk. Mereka berdua mempercepat langkah, menerobos lorong panjang yang dipenuhi pintu-pintu besi berjeruji tebal. Di balik jeruji-jeruji berkarat itu, puluhan orang—mulai dari pendekar perguruan lain hingga warga sipil yang diculik—tampak berdesakan dengan wajah penuh ketakutan dan kelelahan.

"Tolong kami! Keluarkan kami dari sini!" suara rintihan lemah terdengar bersahut-sahutan, memecah kesunyian lorong bawah tanah yang suram.

❖ ❖ ❖

Arka dan Tera segera bertindak cepat begitu melihat kondisi mengenaskan para tahanan di balik jeruji besi. Dengan menggunakan pedang pusaka dan tenaga dalam tingkat tinggi, Arka memotong gembok-gembok tebal pengunci pintu sel satu per satu dengan tebasan presisi tinggi.

Kring! Clang!

Suara besi patah berderik nyaring di sepanjang lorong bawah tanah. Pintu-pintu sel terbuka lebar, membebaskan puluhan orang yang langsung berhamburan keluar dengan air mata kelegaan membasahi pipi mereka. Beberapa di antaranya bahkan bersujud di lantai, mengucapkan terima kasih kepada Arka dan Tera yang telah mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan mereka.

"Terima kasih, pendekar... kalian telah menyelamatkan nyawa kami dari neraka ini," ucap seorang pria paruh baya berbusana pendekar aliran air yang tampak sangat lemah akibat kelaparan.

Lihat selengkapnya