Desau angin malam membawa aroma dupa yang pekat dan sisa-sisa bau mesiu dari halaman utama kuil yang telah hangus terbakar. Di bawah naungan rembulan yang tertutup awan kelam, Arka berdiri tegak dengan napas memburu, ujung pedangnya masih meneteskan darah segar milik para pengawal aliran sesat. Di hadapannya, Ketua Teratai Merah—pimpinan tertinggi organisasi pembunuh yang selama ini meneror rimba persilatan—terkapar bersimbah darah di atas bebatuan candi yang retak. Serangan gabungan pesilat aliran putih akhirnya berhasil menaklukkan benteng terakhir musuh bebuyutan tersebut.
"Pertahanan kalian... sungguh di luar dugaan," bisik Ketua Teratai Merah terbata-bata, batuk darah segar menyembur dari sela-sela bibirnya yang pucat pasi. Ia mencengkeram tanah dengan jemarinya yang mulai mendingin, menyadari bahwa ajalnya telah tiba tanpa bisa dicegah lagi oleh kekuatan apa pun.
Tera melangkah maju, menatap tajam pria paruh baya yang mengenakan jubah koyak bermotif bunga merah tersebut. Wajahnya menyiratkan kemarahan sekaligus kelegaan yang amat sangat. "Perjuangan kalian telah berakhir di sini. Organisasi Teratai Merah telah hancur lebur, dan keadilan akhirnya ditegakkan di tanah persilatan."
Mendengar perkataan Tera, Ketua Teratai Merah justru mendesis tertawa kecil, suara tawa yang terdengar parau dan menyayat hati. "Hancur? Kau mengira kehancuran organisasi kami adalah akhir dari segalanya, gadis bodoh? Hahaha... kalian benar-benar naif."
Arka mengerutkan keningnya, insting bertarungnya langsung siaga kembali meski musuh mereka sudah berada di ambang kematian. "Apa maksudmu? Jangan mencoba menebar teror palsu di saat-saat terakhir hidupmu!"
"Aku tidak menebar teror... aku mengatakan sebuah kebenaran yang tidak kalian ketahui," ujar pimpinan aliran sesat itu dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya. Ia memaksakan kepalanya mendongak, menatap lekat ke arah Arka dan Tera secara bergantian, seolah ingin menanamkan rasa penasaran yang mendalam sebelum ia menutup mata selamanya. "Teratai Merah hanyalah bayangan... pengantar jalan menuju takdir yang jauh lebih besar."
Kedelapan sahabat mereka—termasuk Zahra, Chafia, Rafar, dan para pendekar pilihan lainnya—mendekat membentuk lingkaran perlindungan, mendengarkan setiap patah kata yang keluar dari mulut pemimpin musuh tersebut dengan penuh ketegangan. Suasana di halaman candi mendadak menjadi senyap, seolah alam semesta pun ikut menahan napas mendengarkan wahyu terakhir dari sang musuh besar.
"Ilmu tertinggi yang selama ini kalian banggakan... hanyalah kulit ari dari kesaktian yang sesungguhnya," lanjut Ketua Teratai Merah dengan suara yang semakin melemah. "Jika kalian mengira dunia persilatan sudah aman, kalian salah besar. Puncak dari segala ilmu silat di kolong langit ini... Kitab Teratai Emas... belum pernah tersentuh oleh siapa pun selama ribuan tahun."
❖ ❖ ❖
Nama pusaka legendaris itu meluncur keluar, dan seketika udara di sekitar reruntuhan candi terasa membeku. Arka tertegun sejenak, kedua matanya melebar mendengar sebutan yang selama ini hanya dianggap sebagai mitos kuno para leluhur. Kitab Teratai Emas—naskah suci pemungkas yang diyakini menyimpan rahasia penciptaan energi alam semesta dan puncak kesaktian tertinggi di rimba persilatan.
"Kitab Teratai Emas...?" gumam Arka tidak percaya. Ia menoleh sekilas ke arah Tera, mendapati sahabatnya itu juga menunjukkan ekspresi terkejut yang sama. "Jangan mengarang cerita untuk menakut-nakuti kami. Kitab itu hanyalah dongeng pengantar tidur yang diceritakan para tetua di masa lalu!"
Ketua Teratai Merah tersenyum sinis, sebuah senyuman penuh misteri di tengah penderitaan sakaratul mautnya. "Dongeng kau bilang...? Tanyakan pada dinding-dinding candi tua di lembah terlarang sebelah timur... tempat di mana para dewa purba pertama kali menanam benih kesaktian."
Chafia yang berdiri di samping Tera maju selangkah, mencengkeram hulu pedangnya dengan erat. "Di mana tempat itu? Katakan yang sejujurnya sebelum nyawamu melayang sepenuhnya!"
"Kalian tidak akan bisa menemukannya... tanpa petunjuk yang tepat," jawab sang ketua dengan napas yang semakin tersengal-sengal, tarikan napasnya mulai terdengar satu-satu. "Candi itu terkunci oleh waktu... disembunyikan oleh kabut abadi... dan hanya mereka yang memiliki ketulusan hati sekaligus penguasaan ilmu dasar tingkat sempurna yang mampu membuka gerbangnya."
Zahra, yang sejak tadi mengamati gerak-gerik sang ketua, merasakan ada kejujuran yang aneh di balik sorot mata pria itu. "Dia tidak sedang berbohong," bisik Zahra kepada Rafar dengan nada rendah. "Ada sesuatu yang disembunyikannya, sebuah rahasia besar tentang kelanjutan takdir dunia persilatan."
"Jika kitab itu benar-benar ada dan jatuh ke tangan orang yang salah di masa depan, dunia persilatan akan menghadapi kehancuran yang jauh lebih dahsyat daripada serangan Teratai Merah," timpal Rafar serius, matanya menerawang menatap cakrawala malam yang gelap.
Ketua Teratai Merah menarik napas terakhirnya yang panjang. Tatapannya menerawang kosong ke langit malam, sebelum akhirnya kalimat terakhir terucap dari bibirnya yang mulai membiru. "Ingatlah... kelopak emas akan mekar... bagi mereka yang berani melangkah melampaui batas kematian..."
Setelah kalimat itu, kepala pria tersebut terkulai lemas ke samping. Tubuhnya tak lagi bergerak. Pemimpin organisasi Teratai Merah itu akhirnya tewas membawa rahasia terbesar rimba persilatan ke liang kubur, meninggalkan tanda tanya besar yang langsung mengubah arah tujuan hidup Arka, Tera, dan kedelapan sahabatnya.
Suasana hening mendadak menguasai halaman candi. Masing-masing pendekar terdiam dalam pikiran mereka sendiri, merenungkan beban baru yang kini terpikul di pundak mereka.