Udara pagi di pelataran padepokan terasa dingin, membawa serta aroma embun dan tanah basah yang menenangkan. Di atas meja kayu jati yang kokoh, terbentang selembar kain usang berwarna kekuningan. Kain itu bukan sekadar kain biasa; serat-seratnya ditenun dari benang sutra bercampur serat pohon nira purba yang membuatnya bertahan dari gerusan zaman. Di permukaannya, terukir garis-garis topografi kuno menggunakan tinta emas yang mulai memudar.
Arka berdiri tegap dengan kedua tangan bersidekap di dada. Tatapannya tajam menatap setiap lekuk garis yang tergores di atas kain tersebut. Di sebelah kanannya, Tera duduk bersila sambil membawa sebuah Lup kaca pembesar, mengamati detail guratan aksara Jawa Kuno yang tertulis di sudut kiri kain.
"Bagaimana, Tera? Apakah garis-garis itu benar-benar mengarah ke lembah tersembunyi yang kita duga selama ini?" tanya Arka memecah kesunyian, suaranya terdengar berat namun penuh wibawa.
Tera mendongak, menyibak sehelai rambut ikalnya yang jatuh menutupi dahi. Ia menghela napas perlahan sebelum menjawab, "Tidak diragukan lagi, Arka. Garis-garis ini merujuk langsung pada relief Candi Watu Ireng yang hilang di pedalaman Gunung Lawu. Konon, kompleks candi itu sengaja disembunyikan oleh leluhur kita agar tidak jatuh ke tangan orang-orang yang salah."
Setelah membubarkan organisasi Teratai Merah yang selama bertahun-tahun menjadi duri dalam daging dunia persilatan, Arka dan Tera memang memilih untuk tidak tinggal diam. Mereka sadar bahwa sisa-sisa pengaruh kejahatan masih bergentayangan di luar sana, mengincar artefak-artefak legendaris demi ambisi kekuasaan pribadi. Peta kain tua ini adalah petunjuk terakhir sekaligus warisan paling berharga yang ditinggalkan oleh para pendahulu.
Kini, Arka dan Tera memimpin kawan-kawan seperjuangan mereka untuk meneliti selembar peta kain tua itu. Peta tersebut menunjuk ke sebuah komplek candi tersembunyi di pedalaman Jawa Tengah, tempat disembunyikannya kitab kesaktian Teratai Emas yang diagungkan para pendekar sejak ratusan tahun lalu.
Di sudut ruangan, Dimas dan Kirana—dua pendekar muda yang setia bergabung dalam barisan mereka—tengah menyiapkan perlengkapan perjalanan. Suara dentingan pedang yang dimasukkan ke dalam sarungnya beradu dengan derit kayu ransel kulit, menciptakan irama kesiapan menghadapi marabahaya.
"Kita tidak boleh meremehkan perjalanan kali ini," kata Dimas sambil menguji ketajaman belati bermata dua miliknya. "Meskipun Teratai Merah sudah bubar, para pendekar bayaran dan pemburu harta karun independen pasti sudah mendengar desas-desus tentang Kitab Teratai Emas. Bisa dipastikan jalan kita tidak akan mulus."
Kirana mengangguk setuju, merapikan gulungan tali rami dan obor cadangan ke dalam tasnya. "Dimas benar. Hutan di lereng Gunung Lawu terkenal angker dan dipenuhi kabut tebal. Belum lagi jebakan-jebakan kuno yang dipasang untuk melindungi situs tersebut. Kita butuh strategi yang matang, bukan sekadar modal kenekatan."
Arka melangkah mendekati meja, meletakkan telapak tangannya tepat di atas gambar matahari bersayap yang tercetak di tengah kain. "Itulah sebabnya kita bergerak bersama-sama sebagai satu keluarga. Kitab Teratai Emas tidak boleh jatuh ke tangan yang salah. Kekuatan di dalam kitab itu mampu mengubah tatanan dunia persilatan, dan kita memikul tanggung jawab besar untuk menjaga keseimbangan alam."
Tera berdiri, menggulung peta kain itu dengan hati-hati dan memasukkannya ke dalam tabung bambu kedap air. Wajahnya menyiratkan tekad yang baja. "Persiapan kita sudah cukup. Saatnya berangkat sebelum matahari terlalu tinggi."
❖ ❖ ❖
Perjalanan menuju pedalaman Jawa Tengah memakan waktu tiga hari penuh. Rombongan Arka menyusuri jalan setapak yang semakin lama semakin terjal dan tertutup oleh semak belukar yang lebat. Udara pegunungan yang semula sejuk kini berubah menjadi lembap dan menusuk tulang, sementara kabut putih mulai turun perlahan, menyelimuti pepohonan besar berusia ratusan tahun yang berdiri megah di sisi kiri dan kanan jalan.
"Berhenti sebentar," seru Arka tiba-tiba, mengangkat tangan kanannya memberi isyarat kepada yang lain.
Semua anggota rombongan langsung menghentikan langkah. Mereka merapat ke balik rumpun bambu besar, memasang mata dan telinga baik-baik. Suasana di sekitar mendadak terasa sangat ganjil. Kicauan burung yang tadinya riuh rendah kini lenyap seketika, menyisakan suara deru angin malam yang berbisik di antara dedaunan.
"Ada apa, Arka?" bisik Tera pelan, merapatkan diri ke samping Arka sambil memegang hulu pedangnya.
"Bau darah," jawab Arka singkat, matanya menyipit menembus pekatnya kabut. "Dan ada jejak kaki segar di tanah berlumpur itu. Jumlahnya lebih dari lima orang."
Dimas dan Kirana maju perlahan, berjongkok untuk mengamati tanah yang dimaksud oleh Arka. Benar saja, terdapat bekas tapak sepatu bot militer tradisional yang biasa digunakan oleh kelompok pemburu bayaran bayangan. Jejak itu mengarah tepat ke jalur yang harus mereka lalui untuk mencapai gerbang masuk kompleks candi.
"Sial, rupanya kita sudah didahului," desis Dimas dengan nada geram. "Siapa yang berani-barainya membuntuti kita sejauh ini?"
"Bisa jadi sisa-sisa anggota Teratai Merah yang melarikan diri saat pembubaran markas besar mereka," analisis Kirana dengan tenang namun waspada. "Mereka tahu kita memegang peta kuncinya, jadi mereka sengaja menunggu kita membuka jalan menuju candi."
Arka menarik napas dalam-dalam, menenangkan detak jantungnya. "Kalau begitu, kita tidak punya pilihan selain menghadapi mereka. Tapi ingat, jangan bertindak gegabah. Kita gunakan kabut ini sebagai keuntungan kita."
Tanpa diduga, dari balik tirai kabut yang tebal, terdengar suara tawa dingin yang menggema mengejek. Suara itu memantul di antara bebatuan karang, membuat arah asalnya sulit ditentukan.
"Arka... Tera... kalian pikir kalian bisa melangkah begitu mudah ke tanah leluhur ini?" teriak suara itu, milik seorang pria paruh baya yang suaranya parau namun penuh ancaman. "Serahkan peta kain itu, dan kami akan membiarkan kalian mati dengan tenang!"
Tera melangkah maju, mengangkat suaranya agar terdengar jelas di tengah kabut. "Tunjukkan dirimu jika punya nyali! Jangan bersembunyi seperti pengecut di balik kabut!"
Syuuung!
Sebuah pisau lempar beracun melesat cepat menembus kabut, mengarah tepat ke dada Tera. Dengan gerakan secepat kilat, Arka menarik pinggang Tera ke samping sementara tangan kirinya menyambar pisau tersebut di udara hanya dengan dua jari. Ujung pisau itu mengeluarkan asap keunguan yang mendesis saat mengenai tanah, menandakan racun yang sangat mematikan.
"Keparat!" geram Dimas, mencabut pedangnya.
Di saat yang bersamaan, bayangan-bayangan hitam mulai bermunculan dari segala penjuru, mengepung posisi rombongan Arka. Pertempuran pertama tidak bisa dielakkan lagi. Benturan senjata tajam mulai memecah kesunyian malam di lereng gunung, sementara kabut semakin tebal menutupi arena pertarungan.
❖ ❖ ❖
Benturan pedang berdenting nyaring di antara pepohonan purba. Arka bergerak seperti angin puyuh, memutar jurus angin siluman untuk menjatuhkan tiga orang penyerang sekaligus tanpa memberi mereka kesempatan melawan. Gerakannya begitu presisi, memadukan tenaga dalam tingkat tinggi dengan kelincahan fisik yang luar biasa.
Di sisi lain, Tera bertarung berdampingan dengan Kirana. Keduanya memamerkan kerja sama yang mematikan. Tera menangkis serangan tombak seorang lawan dengan kipas baja bertuliskan aksara kuno, lalu Kirana melompat dari bahu Tera untuk melayangkan tendangan telak ke arah rahang musuh tersebut.