Kabut tebal yang menggelayut di pucuk-pucuk pohon purba perlahan tersibak seiring langkah sepuluh pendekar muda dari Perguruan Tapak Batara. Perjalanan panjang dan melelahkan selama berhari-hari melintasi hutan perawan yang belum pernah diinjak manusia akhirnya membawa mereka ke sebuah batas alam yang asing. Di hadapan mereka, terbentang sebuah lembah luas yang diselimuti keheningan mencekam. Lembah Sunyi, begitu orang-orang tua di tanah perdikan menyebutnya.
Arya Soka, pendekar sulung yang memimpin rombongan, mengangkat tangan kanannya memberi isyarat agar seluruh pasukan kecilnya berhenti. Ia meraba hulu pedang pusaka di pinggangnya, merasakan getaran dingin dari bilah besi bersepuh perak itu. Di belakangnya, sembilan rekan seperguruan berdiri dalam barisan rapi, masing-masing memegang senjata andalan dengan tingkat kewaspadaan tinggi.
"Kita sudah memasuki wilayah Candi Sewu," bisik Arya Soka, suaranya nyaris tenggelam oleh desau angin lembah yang dingin. "Tetaplah berdekatan. Jangan biarkan formasi kita renggang. Aura di tempat ini tidak wajar."
Kirana, pendekar wanita berkeahlian melacak jejak dan senjata rahasia jarum es, maju selangkah. Ia menunduk, mengamati tanah lembap di bawah pijakannya. Alis matanya berkerut dalam.
"Kak Arya, perhatikan jejak di sekitar akar-akar pohon besar itu," ucap Kirana dengan nada rendah namun penuh penekanan. "Ada jejak sepatu bot berat, bukan jejak binatang buas atau peladang liar. Jumlahnya tidak sedikit. Setidaknya ada dua belas orang yang lewat jalur ini kurang dari dua hari lalu."
"Apakah itu rombongan dari Sekte Bayangan Hitam?" tanya Bima, pendekar berbadan tegap yang memegang gada bermata dua di pundaknya. Wajahnya mengeras, menyembunyikan rasa cemas di balik sorot mata yang menyala.
"Belum bisa dipastikan," jawab Arya Soka sambil melangkah pelan menembus belukar terakhir. "Tetapi arah perjalanan mereka jelas menuju kompleks reruntuhan di tengah lembah itu."
Di hadapan mereka, perlahan-lahan dari balik kabut tipis, muncul bayangan megah namun suram. Kompleks candi tua dengan arsitektur batu hitam legam berdiri kokoh. Batuan andesit candi tersebut tampak tua, dipenuhi lumut hijau tua dan akar-akar gantung yang mencengkeram dinding relief. Tidak ada suara burung berkicau, tidak ada derik serangga malam. Yang terdengar hanya deru angin lembah yang bergesekan dengan dinding-dinding batu purba, menciptakan suara mirip ratapan panjang.
Candi Sewu, sebuah situs terlarang yang menyimpan misteri Kitab Raga Sukma, kini berdiri megah menyambut kedatangan mereka dalam keheningan yang mematikan.
"Mari kita bergerak lebih dekat," kata Arya Soka. "Gunakan ilmu seringan kapas. Jangan buat suara sekecil apa pun."
Kesepuluh pendekar muda itu meluncur bagai bayangan kelabu di antara reruntuhan batu candi. Setiap gerakan dihitung dengan cermat, mematuhi latihan ketat yang mereka peroleh sejak masa kanak-kanak di perguruan. Namun, semakin mereka mendekati pelataran utama candi, sebuah aroma aneh mulai menusuk indra penciuman mereka.
Bau tanah basah yang biasa tercium di hutan mendadak lenyap, tergantikan oleh bau logam yang sangat pekat. Bau anyir darah yang menguap di udara dingin.
❖ ❖ ❖
Langkah Arya Soka terhenti mendadak di balik sebuah arca dwarapala yang separuh badannya tertimbun tanah. Ia mengangkat kepalanya, dan pemandangan di hadapannya membuat darahnya berdesir hebat.
Pelataran utama Candi Sewu yang seharusnya lengang kini bersimbah darah. Mayat-mayat bergelimpangan di atas batu-batu candi yang dingin. Mereka mengenakan jubah abu-abu berornamen lambang Perguruan Garuda Putih—sekutu dekat Perguruan Tapak Batara.
"Dewa Agung..." gumam Kirana tertahan, tangannya reflek membekap mulutnya sendiri untuk menahan jeritan ngeri. Matanya terbelalak menatap pemandangan mengerikan di hadapan mereka.
Bima mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih. "Mereka... mereka sudah mendahului kita. Pendekar Garuda Putih telah dibantai!"
Satu per satu, anggota rombongan Tapak Batara mendekati pelataran tersebut dengan perasaan campur aduk antara amarah, ngeri, dan ketakutan yang mulai merayap di dada. Ada lima orang pendekar Garuda Putih yang tewas, semuanya mengalami luka fatal akibat tebasan pedang tajam dan tusukan benda-benda beracun. Tidak ada tanda-tanda perlawanan yang seimbang; pembantaian ini terjadi begitu cepat dan kejam.
"Periksa kondisi mereka, siapa tahu ada yang masih bernyawa," perintah Arya Soka dengan suara berat, berusaha menjaga ketenangannya di tengah situasi yang mulai goyah.
Dua orang pendekar muda bergegas mendekati jasad-jasad tersebut. Mereka membalikkan salah satu tubuh yang tertelungkup. Wajah pendekar Garuda Putih itu membiru, menandakan racun tingkat tinggi telah melumpuhkan aliran darahnya sebelum maut menjemput.
"Sudah lewat sehari, Kak Arya. Tubuh mereka sudah kaku," lapor pendekar muda bernama Randu dengan suara bergetar.
Arya Soka melangkah ke tengah pelataran, mengamati pola luka pada tubuh korban. Matanya menyipit tajam. "Luka-luka ini... ini bukan perbuatan sembarangan pendekar. Bentuk sayatannya melengkung seperti bulan sabit, dan sudut tusukannya menembus titik akupunktur utama tubuh. Ini adalah teknik dari Aliran Cakar Naga Hitam."
"Aliran Cakar Naga Hitam?" Bima mendengus keras, langkahnya bergemerincing saat ia mendekati Arya Soka. "Bukankah perguruan sesat itu sudah musnah dua dasawarsa lalu setelah dihancurkan oleh aliansi persilatan?"
"Kelihatannya sisa-sisa mereka bangkit kembali, atau ada pihak lain yang mewarisi ilmu terlarang itu," jawab Arya Soka dingin. Ia berdiri tegak, memandang ke arah pintu masuk candi utama yang menganga gelap gulita seperti mulut raksasa yang siap memangsa.
Tiba-tiba, sebuah suara gemerincing logam terdengar dari dalam kegelapan lorong candi. Suara itu disusul oleh derap langkah kaki yang lambat namun berirama tetap, seolah pemiliknya sengaja mengumumkan kehadiran tanpa rasa takut sedikit pun.
"Kalian terlambat datang untuk menyelamatkan teman-teman kalian, bocah-bocah Tapak Batara," sebuah suara parau dan serak menggema dari balik pintu batu yang gelap.
Kesepuluh pendekar muda langsung mengambil posisi tempur. Senjata terhunus serempak. Pedang, tombak, gada, dan jarum racun bersiap menyambut ancaman yang kini mulai menampakkan wujudnya di ambang pintu candi.
❖ ❖ ❖
Sesosok tubuh jangkung melangkah keluar dari kegelapan lorong candi. Pria itu mengenakan jubah hitam legam dengan sulaman benang emas bergambar naga melingkar di dadanya. Wajahnya separuh tertutup topeng besi berkarat berbentuk raksasa bermata satu, sementara tangan kanannya memegang sebuah pedang panjang bermata dua yang ujungnya masih meneteskan darah segar.
"Siapa kau!" bentak Bima, mengayunkan gadasnya ke depan dengan kuda-kuda kokoh. "Apakah kau yang membantai pendekar Garuda Putih di tempat ini?"
Pria bertopeng besi itu tertawa kecil. Suaranya terdengar berderak di balik topengnya, menciptakan suasana yang semakin menekan mental para pendekar muda.
"Pertanyaan yang bodoh untuk ukuran murid perguruan besar," jawab pria itu sinis. "Di dunia persilatan, siapa yang kuat, dialah yang hidup. Kitab Raga Sukma bukan milik perguruan lemah seperti kalian, apalagi sekutu bodoh mereka yang tergeletak di tanah ini."
Arya Soka melangkah maju, menepis lengan Bima agar tidak bertindak gegabah. Tatapan matanya tajam menghujam sosok bertopeng di hadapannya.
"Keluarlah dari balik topeng pengecut itu," ujar Arya Soka dingin. "Kalian mencuri Kitab Raga Sukma dari kuil leluhur, dan sekarang kalian membantai sesama pendekar demi ambisi sesat. Serahkan kitab itu sekarang, atau kalian akan merasakan kemarahan Tapak Batara!"
Pria bertopeng besi itu mengangkat dagunya. "Kemarahan Tapak Batara? Ha-ha-ha! Guru kalian sendiri sedang berjuang mempertahankan nyawanya di kuil pusat, dan kalian di sini berlagak sebagai pahlawan kesiangan."