Angin malam di lereng Gunung Lawu berembus membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Langit tertutup awan mendung yang pekat, seolah ikut meratapi tanah purba yang menyimpan rahasia besar dunia persilatan. Di tengah kegelapan itu, Candi Srigunting berdiri gagah namun sunyi, dikelilingi oleh pepohonan raksasa yang batangnya berlumut tebal.
Namun, kesunyian malam itu mendadak pecah oleh suara jeritan tertahan yang disusul suara dentuman logam beradu. Di halaman candi utama, sesosok bayangan melesat jatuh dengan darah segar mengucur dari dadanya. Penjaga candi terakhir itu tersungkur di atas rumput basah, napasnya tersengal sebelum akhirnya terkulai kaku, mengakhiri hidupnya dengan mata melotot menatap langit kelam.
Dari balik reruntuhan gapura candi, sesosok pria bertubuh kekar melangkah keluar. Jubahnya berwarna keemasan, berkilauan memantulkan cahaya obor yang dibawa oleh para pengikutnya di belakang. Pria itu adalah Ki Guntur Geni, pemimpin kelompok sesat Iblis Emas yang ditakuti di seluruh penjuru negeri. Di belakangnya, belasan pesilat berwajah kejam dengan senjata terhunus berdiri rapi, menunggu perintah.
"Kalian terlalu lambat membersihkan tikus-tikus penjaga ini," suara Ki Guntur Geni berat dan menggelegar, memecah keheningan malam.
Seorang anak buahnya yang bermata juling membungkuk hormat seraya menyeringai lebar. "Ampun, Ki. Penjaga candi ini rupanya memiliki ilmu pernapasan yang cukup kuat. Tapi tetap saja, tulang belulang mereka tidak lebih kuat dari parang baja kita."
Ki Guntur Geni mendengus dingin. Tatapannya beralih ke bangunan utama candi, sebuah struktur batu hitam yang dihiasi relief-relief dewa kuno. Di sanalah, jauh di dalam perut bumi candi, tersimpan sebuah pusaka yang selama puluhan tahun menjadi buruan utama dunia hitam dan putih: Kitab Teratai Emas. Kitab itu diyakini memuat rahasia ilmu kesaktian tertinggi yang mampu membuat pemiliknya menguasai jagat raya.
"Jangan buang waktu lagi," perintah Ki Guntur Geni tegas. "Bongkar pintu bilik rahasia itu sekarang juga. Kita harus mendapatkan kitabnya sebelum fajar menyingsing dan kelompok pendekar aliran putih dari Perguruan Rajawali Putih mencium bau keberadaan kita di sini."
❖ ❖ ❖
Di dalam ruang bawah tanah candi, udara terasa pengap dan berbau belerang. Empat orang pengikut Iblis Emas yang memiliki keahlian khusus dalam membongkar batu karang dikerahkan untuk menghancurkan pintu batu berukir kepala naga yang menutup jalan menuju bilik rahasia.
"Gunakan tenaga dalam tingkat kelima! Pintu ini dilapisi mantra penolak bala kuno," seru seorang tetua aliran Iblis Emas yang lengannya dipenuhi tato ular melingkar.
Mereka berempat merapatkan telapak tangan ke permukaan pintu batu, lalu mengerahkan seluruh tenaga dalam berwarna merah kehitaman. Suara mendengung keras bergemuruh di dalam ruangan sempit itu. Bebatuan di dinding mulai bergetar hebat, pasir dan debu berhamburan menimpa kepala mereka.
Namun, pintu batu itu tidak bergeming sedikit pun. Seolah ada perisai tak kasat mata yang memantulkan kembali kekuatan mereka.
"Sial! Mantra pertahanan ini jauh lebih kuat dari perkiraan kita," umpat salah seorang pembongkar batu sambil meludah ke lantai akibat sesak napas.
Ki Guntur Geni yang sejak tadi mengawasi dari ambang pintu melangkah maju dengan wajah mengeras. Kesabarannya mulai menipis. "Kalian memang sekumpulan orang tidak berguna. Biar aku sendiri yang meremukkan pintu terkutuk ini!"
Ia mengangkat tangan kanannya ke udara. Dalam sekejap, telapak tangannya diselimuti oleh kobaran api kuning keemasan yang memancarkan hawa panas luar biasa. Suhu di dalam ruangan bawah tanah itu mendadak naik drastis, membuat dinding-dinding batu mulai mengeluarkan uap air.
"Rasakan ini—Pukulan Murka Naga Emas!" teriak Ki Guntur Geni.
Ia menghantamkan telapak tangannya tepat di tengah-tengah pintu batu berukir naga.
BARRR!
Ledakan dahsyat terjadi. Gelombang kejut berukuran besar menyapu ruangan, merubuhkan pilar-pilar penyangga di sekitarnya. Pintu batu itu akhirnya retak seribu, lalu hancur berkeping-keping menjadi serpihan debu yang berterbangan.
Namun, alih-alih menemukan ruangan penyimpanan kitab, lubang besar yang tercipta dari hancurnya pintu itu justru mengeluarkan asap hitam pekat yang berbau amis darah. Dari dalam kegelapan lubang tersebut, terdengar suara geraman berat yang menggetarkan jiwa siapa saja yang mendengarnya.
❖ ❖ ❖
"Pimpinan, ada sesuatu di dalam sana!" teriak salah satu pengikut sambil mundur ketakutan, menjatuhkan obor yang dibawanya ke lantai.