Malam perlahan merangkak naik, menelan sisa-sisa bias jingga di ufuk barat dan menggantikannya dengan selimut kelam yang pekat. Di bawah naungan langit tanpa bintang, kompleks candi kuno itu tampak bagaikan raksasa tidur yang dikelilingi oleh kabut tipis. Namun, di balik ketenangannya yang menipu, tempat tersebut kini telah berubah menjadi sarang macan. Obor-obor menyala di setiap sudut pelataran, memancarkan cahaya kuning kemerahan yang menari-nari liar ditiup angin malam, menerangi barisan prajurit musuh yang berjaga dengan ketat.
Melihat penjagaan ketat di sekeliling candi, Azalia dan Risha melompat ringan tanpa membunyikan kerikil sedikit pun. Langkah kaki mereka begitu senyap, seolah-olah pijakan mereka tidak menyentuh bumi, melainkan melayang di atas hembusan angin.
"Penjagaan mereka berlapis, Risha," bisik Azalia pelan, suaranya hampir tak terdengar di antara desir angin malam yang menggoyang rerimbunan pohon di sekitar candi. Gadis itu mengenakan pakaian serba hitam yang menyatu sempurna dengan kegelapan malam, rambut panjangnya yang diikat ke belakang memperlihatkan garis wajah yang tegas namun anggun.
Risha, yang berada tepat di sampingnya, mengangguk kecil. Matanya yang tajam mengawasi setiap pergerakan para prajurit yang berpatroli dengan tombak terhunus di tangan. "Mereka tidak hanya menjaga gerbang utama, tetapi juga memperketat jalur-jalur tikus di sisi timur dan barat. Kita harus bergerak cepat sebelum pergantian jaga berikutnya."
Dengan keahlian ginkang bagaikan burung walet menyambar angin, mereka menaiki stupa candi untuk memetakan jumlah dan posisi musuh dari ketinggian. Tubuh mereka melesat ke atas dengan gerakan yang sangat cepat namun luwes, memanfaatkan tonjolan-tonjolan batu kuno dan relief dinding sebagai pijakan sesaat sebelum kembali meluncur ke atas. Tidak ada suara gesekan kain, tidak ada bunyi reruntuhan batu yang jatuh. Keduanya bergerak dalam harmoni yang sempurna, seolah gravitasi bumi kehilangan daya tariknya pada diri mereka.
Sesampainya di atas stupa tertinggi, panorama di bawah terlihat sangat jelas. Azalia berjongkok di balik bayangan batu stupa, matanya menyapu seluruh area kompleks candi dengan cermat.
"Ada sekitar empat pleton prajurit di halaman utama," bisik Azalia sambil menghitung dalam hati. "Dua pleton berpatroli secara bergantian setiap lima menit, sementara sisanya berjaga di depan pintu masuk ruang utama candi. Di sana, di dekat arca utama, ada sosok yang memimpin mereka. Sepertinya seorang perwira tinggi."
Risha merapat ke sisi Azalia, mengikuti arah pandangan sahabatnya itu. "Dan di sebelah barat daya, ada titik buta di balik reruntuhan dinding batu yang rubuh. Kita bisa menggunakan jalur itu untuk menyusup masuk ke dalam struktur candi tanpa harus melalui pintu utama yang dijaga ketat."
"Rencana yang bagus," jawab Azalia menyetujui. Namun, sebelum mereka sempat merencanakan langkah selanjutnya, sebuah suara bentakan keras tiba-tiba memecah kesunyian malam dari arah halaman bawah.
"Siapa di sana! Periksa sudut barat!"
Jantung mereka berdegup kencang sejenak, namun ekspresi wajah keduanya tetap tenang. Latihan bertahun-tahun telah mengajarkan mereka untuk tidak pernah panik di tengah situasi genting.
❖ ❖ ❖
Bentakan itu langsung disusul oleh suara derap langkah kaki berlari yang mendekati area stupa tempat mereka bertengger. Para prajurit musuh tampaknya mencurigai sesuatu setelah melihat bayangan sekilas yang melintas di atas dinding candi—meskipun gerakan Azalia dan Risha sangat cepat, kecepatan kilat terkadang meninggalkan distorsi udara yang tertangkap oleh mata prajurit yang terlatih.
"Cepat, mereka datang ke sini!" ujar Risha, suaranya tetap terjaga rendah namun penuh urgensi.
"Jangan bergerak," balas Azalia singkat. Ia memberi isyarat agar Risha tetap diam di tempat, sementara ia sendiri merendahkan tubuhnya semakin rapat ke permukaan batu stupa yang dingin.
Tiga orang prajurit musuh dengan membawa obor di tangan tiba di bawah stupa. Cahaya api menyala terang, menerangi area sekitar dengan lidah api yang menjilat-jilat udara. Salah satu prajurit mengarahkan obornya ke atas, menyoroti relief batu dan bagian bawah stupa tempat Azalia dan Risha bersembunyi.
"Apakah kau melihat sesuatu, Karto?" tanya prajurit bertubuh gempal yang memegang pedang di pinggangnya.
"Tidak ada apa-apa, Kapten. Hanya angin malam yang menggoyang bayangan pohon," jawab prajurit bernama Karto, menyipitkan mata ke arah kegelapan di atas sana.
Risha menahan napasnya. Jarak mereka dengan prajurit di bawah hanya terpaut beberapa tombak saja. Jika salah satu dari mereka mendongak lebih teliti atau melempar batu ke atas, penyamaran mereka pasti terbongkar. Di saat kritis seperti ini, indra pendengaran dan ketenangan mental menjadi penentu hidup dan mati.
"Jangan hanya melihat dari bawah. Naiklah dan periksa!" perintah sang perwira kecil dengan nada curiga.
Karto mengangguk dan mulai meletakkan obornya di dekat dinding, lalu bersiap untuk memanjat struktur batu candi. Tangannya meraba permukaan batu, mencari celah untuk berpijak.
Azalia melirik Risha, memberikan isyarat tangan rahasia yang berarti: siapkan diri untuk melompat ke sisi seberang jika tertangkap, atau jatuhkan kerikil pengalih perhatian ke arah timur.
Namun, sebelum Karto sempat mengangkat kaki kanannya untuk memanjat, sebuah suara gemerisik keras terdengar dari arah semak-semak di sisi timur kompleks candi, diikuti oleh suara mendengus seekor binatang liar—tampaknya seekor musang malam atau babi hutan yang tersesat masuk ke dalam area penjagaan.
"Hei! Apa itu di sana?" seru prajurit yang lain, mengalihkan perhatian mereka sepenuhnya dari stupa tempat Azalia dan Risha berada.
"Kejar! Tangkap binatang itu, jangan sampai membuat keributan yang lebih besar!" teriak perwira kecil tadi.
Ketiga prajurit itu segera berbalik dan berlari kencang menuju arah timur, meninggalkan area stupa dalam kegelapan kembali. Azalia dan Risha menghela napas lega secara bersamaan. Bahu mereka yang tadinya tegang kini sedikit mengendur.
"Itu terlalu dekat," kata Risha berbisik sambil menyeka keringat tipis yang mengalir di pelipisnya. "Keberuntungan berpihak pada kita kali ini, tapi kita tidak boleh mengandalkan keberuntungan untuk kedua kalinya."
"Benar," sahut Azalia, matanya kembali menatap jalur penyusupan di barat daya. "Mari kita bergerak sekarang, sebelum mereka menyadari bahwa suara di timur tadi hanyalah pengalih perhatian alami."
❖ ❖ ❖
Dengan gerakan secepat kilat, Azalia dan Risha meluncur turun dari stupa menggunakan teknik ginkang tingkat tinggi. Tubuh mereka melayang turun tanpa suara, bagaikan sehelai daun kering yang jatuh dihembuskan angin sepoi-sepoi. Begitu kaki mereka menyentuh tanah di balik reruntuhan dinding barat daya, mereka langsung merunduk dan berjalan cepat menyusuri lorong tersembunyi yang mengarah ke bagian dalam candi.
Lorong itu sempit, gelap, dan dipenuhi oleh bau debu tua serta lumut basah. Dinding batu di sisi kiri dan kanan mereka dihiasi oleh ukiran-ukiran kuno yang menceritakan kisah kejayaan masa lalu, kini terabaikan dan tertutup jaring laba-laba.
"Kita sudah masuk ke area inti," bisik Risha sambil meraba dinding batu untuk memandu jalannya dalam kegelapan. "Tapi perhatikan langkahmu. Tempat ini dipenuhi dengan jebakan kuno yang mungkin masih aktif."