SERI 5: PENDEKAR TERATAI EMAS

Amrullah Ibrahim
Chapter #6

Racun Jarum Emas Zahra dan Chafia

Suasana di dalam aula bawah tanah benteng musuh terasa begitu pekat, seolah-olah oksigen telah habis diserap oleh dinding-dinding batu tua yang lembap. Obor-obor di sudut ruangan memancarkan nyala api kemerahan yang menari liar, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang meliuk di lantai batu. Di tengah ketegangan yang kian mencekam, Zahra berdiri dengan napas sedikit memburu. Jemarinya dengan sigap menggenggam gulungan kain sutra kecil yang menyimpan harta karun paling berharga dalam misi mereka: selusin jarum emas penawar racun.

Di sisinya, Chafia siaga penuh. Pedang pendek di tangan kanannya bergemerincing pelan saat ia mengubah posisi berdiri untuk memperlebar jarak pandang. Mereka tidak sendirian lagi di ruangan itu. Langkah kaki berat yang tidak memiliki ritme manusia normal mulai menggema dari kegelapan koridor di depan mereka.

"Zahra, mereka datang lagi," bisik Chafia tajam, matanya tidak lepas dari ujung lorong yang gelap gulita.

"Aku tahu, Chafia. Bersiaplah. Kali ini jumlahnya lebih banyak dari sebelumnya," jawab Zahra dengan suara tenang, meski jantungnya berdegup kencang di balik jubah perangnya.

Dari balik bayang-bayang, sesosok bayangan besar muncul, disusul oleh tiga sosok lainnya. Mereka adalah para penjaga benteng, namun ada sesuatu yang sangat mengerikan pada diri mereka. Kulit mereka tampak pucat pasi dengan urat-urat leher yang menonjol berwarna kehitaman, membengkak seolah hampir pecah. Mata mereka merah menyala tanpa binar kesadaran, hanya menyisakan nafsu destruktif yang murni.

Tanpa aba-aba atau suara peringatan manusia, para penjaga ganjil itu menerjang ke depan dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Salah satu penjaga melayangkan pukulan telak ke arah Chafia. Benturan itu begitu kuat hingga menciptakan angin tekanan yang meniup nyala obor terdekat.

Chafia melompat ke belakang untuk menghindari hantaman tersebut, namun angin pukulan itu tetap menyerempet bahunya. "Mereka bukan sekadar petarung kuat, Zahra! Kekuatan fisik mereka tidak wajar!" teriak Chafia sambil mendecak kagum sekaligus ngeri melihat retakan di lantai batu tempat ia berdiri sesaat sebelumnya.

"Fokus, Chafia! Mereka berada di bawah pengaruh racun peningkat daya tahan tubuh tingkat tinggi. Racun itu mematikan rasa sakit dan melipatgandakan kekuatan otot mereka sampai batas maksimal, tetapi setelah itu tubuh mereka akan hancur lebur!" seru Zahra memberikan analisis cepat di tengah desing pertarungan yang semakin brutal.

❖ ❖ ❖

Serangan bertubi-tubi tidak memberi ruang bagi Zahra dan Chafia untuk bernapas lega. Penjaga kedua menerjang lurus ke arah Zahra dengan lari membabi buta. Tebasan pedang Chafia yang mendarat telak di dada penjaga itu sama sekali tidak membuahkan hasil; tidak ada darah yang keluar, tidak ada erangan kesakitan. Penjaga itu bahkan tidak menghentikan langkahnya, seolah bilah baja Chafia hanya membelah angin kosong.

"Senjata fisik tidak akan mempan pada mereka saat racun itu menguasai sistem saraf mereka!" seru Zahra, melompat menghindari terjangan liar musuh.

Chafia mendengus kesal sambil menepis hantaman lengan besar penjaga itu dengan punggung pedangnya. "Lalu bagaimana kita menghentikan mereka tanpa membunuh mereka, Zahra? Mereka adalah prajurit yang dicuci otak!"

"Kita harus melumpuhkan titik saraf utama mereka sekaligus memasukkan penawar racun ini ke dalam aliran darah mereka melalui titik akupuntur yang tepat!" balas Zahra, tangannya bergerak secepat kilat merogoh kantong khusus di balik jubahnya.

Tiga jarum emas berkilau di bawah temaram cahaya obor. Zahra tahu taruhannya sangat tinggi. Salah perhitungan sedikit saja, jarum tersebut justru bisa menusuk arteri utama dan menyebabkan kematian instan bagi para penjaga yang malang itu.

Penjaga ketiga kini mengalihkan fokusnya pada Zahra. Dengan raungan parau yang mirip binatang buas, ia melompat menerkam. Zahra tidak sempat menghindar sepenuhnya; ia terdorong mundur hingga punggungnya membentur dinding batu yang dingin. Cengkeraman tangan raksasa penjaga itu mencengkeram kerah jubahnya, mengangkatnya beberapa sentimeter dari lantai.

"Zahra!" geram Chafia panik, berusaha menerobos kepungan dua penjaga lainnya untuk memberikan bantuan.

"Jangan ke sini, Chafia! Tangani dua orang di sisimu!" tukas Zahra di tengah himpitan napasnya yang mulai sesak.

Dengan sisa ruang gerak yang sangat sempit, mata Zahra menatap tajam ke arah leher penjaga yang sedang mencengkeramnya. Ia melihat urat hitam yang berdenyut kencang—pusat distribusi racun penstimulasi tersebut. Mengandalkan ketepatan tangan yang telah dilatih selama bertahun-tahun di perguruan rahasia, Zahra menyumpitkan satu jarum emas di antara jari telunjuk dan jari tengah tangan kirinya.

Tusukan presisi.

Dengan gerakan menyentak yang memanfaatkan momentum tubuh musuh, Zahra menghujamkan jarum emas itu tepat ke titik syaraf di bawah telinga penjaga tersebut.

❖ ❖ ❖

Seketika itu juga, kejang di tubuh penjaga tersebut mereda. Cengkeramannya yang sekuat baja di kerah jubah Zahra mengendur perlahan. Matanya yang merah menyala berkedip beberapa kali, sebelum akhirnya kesadaran yang jernih terpancar kembali di manik matanya.

"Ugh... di... di mana aku...?" bisik penjaga itu lemah sebelum ambruk pingsan ke lantai batu.

Zahra terbatuk kecil, merapikan jubahnya yang kusut seraya mengatur napasnya yang sempat terputus. "Satu down. Masih ada tiga lagi yang mengamuk," ujarnya dingin kepada Chafia yang masih sibuk menangkis serangan membabi buta dari dua penjaga tersisa.

Lihat selengkapnya