SERI 5: PENDEKAR TERATAI EMAS

Amrullah Ibrahim
Chapter #7

Benteng Perkasa di Gerbang Candi

Suasana di sekitar kompleks candi kuno itu mendadak berubah menjadi lautan ketegangan yang mencekam. Langit senja yang semula kemerahan kini tertutup oleh gulungan awan hitam pekat berbau belerang, seolah alam sendiri meratapi malapetaka yang akan segera tiba. Puluhan prajurit Iblis Emas—pasukan elite yang dikenal kejam dan tidak kenal ampun dari lembah kegelapan—muncul dari balik kabut tebal. Langkah kaki mereka bergemuruh, menciptakan getaran yang merambat lewat tanah berbatu, mengepung pintu gerbang utama candi yang menjadi benteng pertahanan terakhir.

Di tengah barisan depan para pembela candi, Fathan dan Galin berdiri tegak tanpa gentar. Jubah mereka berkibar ditiup angin malam yang menderu keras, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Di hadapan mereka, lautan musuh bersenjata lengkap memamerkan taring dan pedang berkilau keemasan yang memantulkan cahaya suram.

"Mereka datang dalam jumlah yang jauh lebih besar dari perkiraan kita, Galin," bisik Fathan, matanya tajam mengawasi setiap gerak-gerik musuh yang mulai mempersempit jarak. Napasnya teratur, memupuk tenaga dalam di dalam dantiannya.

Galin mengangguk, sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyuman tipis yang menyiratkan keyakinan mutlak. Tangannya mengepal erat, membiarkan urat-urat di lengannya menonjol. "Jumlah tidak pernah menentukan kemenangan, Fathan. Selama api semangat di dada kita belum padam, gerbang ini tidak akan pernah runtuh."

Tanpa aba-aba lebih lanjut, komandan pasukan Iblis Emas melambaikan pedangnya ke udara, memberi isyarat menyerang. Jeritan mengerikan pecah dari barisan musuh. Puluhan prajurit berlari serempak, mengacungkan tombak dan pedang panjang, menerjang ke arah gerbang candi dengan kecepatan kilat, siap mencincang siapa saja yang berani menghalangi jalan mereka.

Melihat terjangan gelombang musuh yang begitu masif, Fathan dan Galin tidak mundur sedikit pun. Mereka saling bertukar pandang sejenak, mengonfirmasi keselarasan batin yang telah mereka tempa selama bertahun-tahun dalam latihan berat di bawah bimbingan para tetua.

Secara bersamaan, keduanya melangkah maju ke depan, merentangkan kedua lengan mereka lebar-lebar dengan jemari yang membentuk simbol teratai suci. Sesaat kemudian, mereka menghentakkan kaki kanan mereka dengan sangat kuat ke atas tanah candi.

Bum!

Suara hantaman keras bergema bagaikan guntur di siang bolong. Gelombang energi keemasan yang memancar dari hentakan kaki mereka menyebar dengan cepat, menghantam tanah di hadapan mereka dan membentuk sebuah perisai energi berbentuk kelopak teratai raksasa yang transparan namun kokoh luar biasa. Itu adalah Jurus Dinding Karang Teratai, teknik tingkat tinggi yang memadukan keuletan karang laut dengan kelenturan serta ketahanan bunga teratai terhadap terpaan arus deras.

Prajurit Iblis Emas yang berada di barisan terdepan tidak sempat menghentikan laju mereka. Sabetan pedang dan tebasan tombak yang mereka layankan dengan penuh tenaga menghantam langsung perisai energi tersebut.

Namun, alih-alih menembus atau menghancurkan dinding pertahanan itu, sebuah fenomena aneh dan mengerikan terjadi bagi pihak penyerang. Energi benturan tersebut tidak diserap begitu saja, melainkan dipantulkan kembali dengan kekuatan berlipat ganda. Sabetan pedang musuh membalas memukul diri sendiri dan rekan-rekan di sebelah mereka. Gelombang kejut balik itu membuat puluhan prajurit Iblis Emas terpental mundur, berteriak kesakitan saat senjata mereka sendiri menghantam tubuh mereka sendiri akibat pantulan dari Jurus Dinding Karang Teratai.

❖ ❖ ❖

Sorak-sorai kecil sempat terdengar dari para pejuang candi yang melihat efektivitas pertahanan Fathan dan Galin. Namun, kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Komandan Iblis Emas yang melihat pasukannya kocar-kacir akibat pantulan jurus tersebut mendengus marah. Ia melangkah keluar dari barisan belakang, menancapkan pedang bermata dua ke tanah, lalu merapal mantra kuno yang membuat bilah pedangnya menyala dalam kobaran api biru kehitaman.

"Jangan biarkan mereka bernapas! Hancurkan dinding itu dengan kekuatan penuh!" teriak sang komandan dengan suara yang menggelegar, memecah keheningan malam.

Tekanan di gerbang utama candi meningkat drastis. Para prajurit Iblis Emas yang tersadar dari keterkejutan mereka segera menyatukan tenaga dalam mereka. Alih-alih menyerang secara membabi buta seperti sebelumnya, kini mereka membentuk formasi melingkar, memusatkan seluruh energi gelap ke satu titik di hadapan Fathan dan Galin.

Fathan merasakan beban yang luar biasa menekan dada dan kedua lengannya. Perisai Jurus Dinding Karang Teratai yang ia topang bersama Galin mulai bergetar hebat. Retakan-retakan halus bermunculan di permukaannya, memancarkan kilatan cahaya yang kian melemah.

"Galin, tenaga mereka terlalu besar! Formasi gabungan ini dirancang untuk menembus batas pertahanan kita!" seru Fathan, peluh sebesar biji jagung mulai membasahi pelipisnya. Napasnya mulai memburu, menahan beban energi musuh yang mendesak masuk tanpa henti.

Galin menggertakkan gigi, mengerahkan seluruh sisa tenaga dalam dari pusar tubuhnya untuk memperkuat aliran chi ke kedua lengannya. Wajahnya memerah menahan amarah sekaligus kelelahan fisik yang teramat sangat. "Bertahanlah sedikit lagi, Fathan! Kita tidak boleh biarkan mereka melangkah melewati ambang pintu candi ini. Kalau kita gagal di sini, seluruh rahasia leluhur akan jatuh ke tangan yang salah!"

Meskipun mereka berdua mengerahkan seluruh kemampuan, tekanan dari ratusan tahun kebencian dan energi gelap pasukan Iblis Emas terbukti sangat menekan. Dinding karang teratai yang tadinya tebal dan kokoh kini menipis bagaikan selaput kaca yang siap pecah berkeping-keping kapan saja. Titik jepit ini menuntut keputusan cepat: mempertahankan pertahanan berarti menghabiskan seluruh tenaga dalam tanpa sisa, sementara melepaskannya akan membuka celah bagi musuh untuk membantai semua orang di dalam candi.

❖ ❖ ❖

Tepat ketika retakan pada perisai energi mencapai puncaknya dan suara mendengung nyaring menusuk telinga, Fathan membuat keputusan nekat. Ia tidak bisa terus-menerus bertahan dalam posisi pasif. Jika mereka terus bertahan, mereka hanya tinggal menunggu waktu sampai benteng pertahanan itu runtuh total dan menghancurkan mereka berdua dari dalam.

Lihat selengkapnya