SERI 5: PENDEKAR TERATAI EMAS

Amrullah Ibrahim
Chapter #8

Lorong Labirin Batu Hitam

Udara di dalam perut bumi terasa berat, berbau belerang basah dan lumut tua yang telah tertidur selama ribuan tahun. Obor di tangan Rafar berkedip-kedip, memantulkan cahaya kuning kemerahan pada dinding batu andesit yang dipahat dengan presisi yang mengerikan. Di hadapan Arka dan rombongannya membentang sebuah lorong panjang yang gelap gulita—dikenal dalam naskah kuno sebagai Labirin Batu Hitam.

"Jangan pernah melangkah sembarangan di sini," bisik Rafar, suaranya tercekat di antara dinding-dinding batu yang sempit. Ia mengangkat obornya sedikit lebih tinggi, menyoroti deretan patung prajurit batu berwajah tanpa ekspresi yang berdiri kaku di kedua sisi lorong. Masing-masing patung memegang busur panah dengan tali yang terbuat dariurat logam purba. "Setiap jengkal lantai di sini terhubung dengan mekanisme tekanan tersembunyi. Salah menginjak batu, dan kita akan disambut oleh hujan anak panah beracun."

Arka mengangguk, keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia menoleh ke belakang, memastikan kawan-kawannya berada dalam jarak aman. Di barisan tengah, Siti tampak memegang erat tas perlengkapannya yang berisi peralatan arkeologi darurat, sementara beberapa pengawal lokal berwajah tegang mengikuti dengan langkah kaku.

"Yafid, bagaimana hasil pembacaan pola ubin di depan?" tanya Arka, melirik pemuda ahli strategi yang berdiri tepat di samping Rafar.

Yafid berlutut satu kaki, mendekatkan pisau kecilnya ke celah ubin lantai yang tampak sedikit lebih rendah dari yang lain. Ia menyipitkan mata, mencoba mengenali ukiran relief geometris yang tertutup debu tebal.

"Pola ini tidak acak, Arka," jawab Yafid pelan, nada suaranya penuh konsentrasi. "Ini adalah urutan rasi bintang kuno yang disesuaikan dengan kalender candi. Kita harus melangkah mengikuti ritme konstelasi Kala. Tiga langkah ke depan, geser ke kanan pada ubin bergambar bulan sabit, lalu lompat ke ubin berbunga teratai."

"Terdengar rumit," gumam Siti dari belakang. "Bagaimana kalau kita salah membaca satu simbol saja?"

"Maka patung-patung pemanah di dinding itu akan langsung bereaksi," tukas Rafar tajam tanpa mengalihkan pandangannya dari lorong gelap di depan. "Dan aku pastikan, tidak ada seorang pun dari kita yang sempat melihat ujung lorong ini."

Suasana mendadak senyap. Hanya suara tetesan air dari langit-langit gua yang terdengar, menghantam lantai batu dengan ritme lambat yang mencemaskan. Rafar dan Yafid mulai bergerak maju perlahan. Yafid bertindak sebagai pemandu arah berdasarkan hitungan matematis relief lantai, sementara Rafar mengawasi sudut-sudut lengan patung yang mulai berderit pelan, seolah bersiap menyambut mangsa.

Arka mencengkeram gagang belatinya erat-erat. Jantungnya berdegup kencang, memompa darah ke seluruh tubuh. Ia tahu kegagalan di sini bukan hanya berarti kematian bagi dirinya, tetapi juga akhir dari seluruh ekspedisi yang telah mereka pertaruhkan nyawa untuk mencapainya.

❖ ❖ ❖

Langkah demi langkah mereka lalui dengan penuh kehati-hatian. Su sepatu bot yang bergesekan dengan batu terdengar begitu nyaring di telinga, seolah memecah keheningan absolut yang menguasai lorong tersebut. Tiba-tiba, suara derit logam berkarat bergesekan dengan batu terdengar nyaring di sisi kiri mereka.

"Berhenti!" teriak Rafar spontan, mengangkat tangan kanannya memberi isyarat agar seluruh rombongan membeku di tempat.

Yafid menarik napas panjang, tubuhnya membungkuk rendah di atas sebuah ubin berbentuk lingkaran ganda. "Ada yang tidak beres. Pola di bawah kakiku... ini bukan rasi bintang Kala. Ini jebakan tiruan."

"Apa maksudmu tiruan?" tanya Arka, melangkah maju mendekati Yafid, namun segera ditahan oleh tangan Rafar.

"Jangan bergerak dari jalurmu, Arka!" seru Rafar memperingatkan. "Ubin itu telah dimodifikasi oleh mekanisme sekunder. Seseorang atau sesuatu telah mengubah susunan batu ini sejak terakhir kali naskah itu ditulis."

Dari kegelapan di ujung lorong, angin dingin tiba-tiba berhembus kencang membawa debu halus yang menyesakkan dada. Di saat bersamaan, suara klik mekanis yang tajam bergema bertubi-tubi dari dinding batu. Patung-patung pemanah di sisi kanan perlahan memutar leher mereka, mengarahkan ujung busur logam tepat ke arah tempat Yafid berjongkok.

"Yafid, mundur sekarang!" panggil Arka panik.

"Tidak sempat!" jawab Yafid. Kakinya terlanjur menekan sebuah pelat batu yang ambles sedalam satu sentimeter ke dalam lantai.

Clank! Whosh!

Puluhan anak panah meluncur bersamaan dalam kegelapan, membelah udara dengan kecepatan luar biasa. Rafar bergerak dengan refleks kilat, mendorong tubuh Yafid ke samping hingga mereka berdua jatuh berguling ke atas lantai yang aman. Sebagian besar anak panah menancap dalam-dalam ke dinding batu di belakang mereka, sementara beberapa lainnya melesat nyaris merobek mantel Siti.

"Astaga!" Siti berteriak tertahan, menutup mulutnya dengan tangan sementara jantungnya berdegup liar.

"Semua tiarap!" komando Rafar tegas, napasnya memburu. Ia bangkit setengah berlutut sambil mengacungkan obor untuk memantau situasi. "Jangan ada yang berdiri sebelum aku memastikan mekanisme pengulangan panah itu berhenti."

Keadaan kembali sunyi, namun ketegangan meningkat berlipat ganda. Di dinding lorong, anak-anak panah yang baru saja meluncur mengeluarkan bau sengat cairan kimia yang pekat. Racun.

"Kau tidak apa-apa, Yafid?" tanya Arka cemas, menghampiri pemuda itu dan membantunya berdiri.

Yafid mengangguk lemah, wajahnya pucat pasi. "Aku ceroboh. Aku terlalu fokus pada pola relief lama dan mengabaikan fakta bahwa lorong ini dirancang adaptif. Mekanismenya merespons tekanan yang tidak sesuai dengan berat standar penjaga candi."

"Ini baru permulaan," kata Rafar dingin, matanya menatap tajam ke sisa jalur lorong yang masih membentang sejauh puluhan meter di depan. "Labirin ini hidup, kawan. Dan dia tidak ingin kita keluar hidup-hidup."

❖ ❖ ❖

Mereka melanjutkan perjalanan dengan kewaspadaan yang jauh lebih tinggi. Setiap anggota rombongan kini berjalan dengan jarak renggang, memastikan tidak ada beban berlebih yang terkonsentrasi pada satu titik ubin. Namun, tantangan fisik bukanlah satu-satunya masalah yang harus mereka hadapi di tengah labirin tersebut.

Lihat selengkapnya