Di ruang utama altar candi, berdiri pimpinan musuh yang menggelari dirinya Iblis Emas. Ia adalah sosok jangkung bergaun kuning mas yang telah menguasai separuh lembaran Kitab Teratai Emas dan memiliki pendaran tenaga dalam berwarna kuning tembaga yang amat ganas.
Udara di dalam ruang utama altar candi terasa begitu padat, seolah-olah setiap molekul oksigen telah berubah menjadi timah panas yang membakar tenggorokan. Obor-obor di dinding memancarkan lidah api yang berliuk-liuk gelisah, seakan-akan turut merasakan teror yang ditebar oleh sosok jangkung bergaun kuning emas di tengah ruangan. Namanya belum sepenuhnya diketahui oleh para pendekar persilatan, namun gelar yang disandangnya—Iblis Emas—sudah cukup membuat darah siapa saja membeku seketika.
"Kalian pikir benteng batu ini mampu menyelamatkan sisa-sisa usia kalian?" suara Iblis Emas bergemerincing bagaikan benturan ribuan keping logam mulia, dingin, nyaring, namun mengandung daya hancur yang menggetarkan isi dada.
Arya, seorang pendekar muda dari Perguruan Naga Langit, mencengkeram hulu pedangnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Keringat dingin bercampur debu candi mengalir deras di pelipisnya. Di sekelilingnya, lima orang saudara seperguruan tergeletak tak bernyawa dengan luka bakar kuning tembaga di dada mereka. Pemandangan itu bukan sekadar kekalahan, melainkan sebuah pembantaian mutlak yang menunjukkan jurang pemisah kekuatan yang teramat jauh.
"Iblis keji! Kembalikan lembaran Kitab Teratai Emas itu sebelum nyawamu melayang di ujung pedangku!" bentak Arya, meski suaranya sedikit bergetar oleh kombinasi amarah dan rasa ngeri yang luar biasa.
Iblis Emas tertawa kecil. Suaranya menggema di balik topeng emas berukir seringai makhluk neraka yang menutupi separuh wajahnya. "Anak muda, ambisimu jauh lebih besar daripada kemampuan tulang belulangmu. Kau menuntut lembaran suci itu, padahal menyentuhnya pun tanganmu akan hancur menjadi abu."
Tanpa aba-aba, Iblis Emas mengibaskan lengan jubah kuningnya. Desau angin beracun tenaga dalam kuning tembaga melesat bagaikan badai gurun. Arya refleks melompat mundur, namun gelombang energi itu tetap menghantam dinding batu di belakangnya hingga runtuh berkeping-keping. Debu mengepul tebal, menutupi pandangan mata.
❖ ❖ ❖
Kepulan debu berangsur tipis, memperlihatkan situasi yang semakin menyudutkan pihak pendekar. Arya kini terpojok di sudut altar candi yang buntu. Di sebelah kirinya, Ki Ageng Surawangsa—seorang sesepuh persilatan berambut putih yang diandalkan sebagai tumpuan kekuatan—terduduk lemas sambil memuntahkan darah hitam pekat. Racun kuning tembaga telah merusak meridian tubuh sesepuh tersebut dalam waktu kurang dari separuh dupa dibakar.
"Anak... anak muda..." rintih Ki Ageng Surawangsa dengan napas tersenggal-senggal. "Jangan... jangan hadapi dia sendirian. Ilmu Vajra Kuning miliknya... tidak mempan terhadap... senjata biasa..."
"Kakek, bertahanlah!" seru Arya, mencoba mendekat.
Namun, bayangan kuning melintas secepat kilat. Iblis Emas sudah berdiri tepat di depan Ki Ageng Surawangsa. Tanpa belas kasihan, pemimpin musuh itu mencengkeram bahu sang sesepuh.
"Orang tua ini terlalu banyak bicara," desis Iblis Emas meremehkan. "Ilmu warisannya sudah lapuk dimakan zaman. Seharusnya dia mati sejak tiga puluh tahun lalu."
"Lepaskan dia, keparat!" Arya melompat menerjang dengan jurus pamungkas Perguruan Naga Langit: Pedang Naga Membelah Mega. Cahaya biru keperakan berpendar terang dari bilah pedangnya, menebas lurus ke arah leher Iblis Emas.
Iblis Emas bahkan tidak repot-repot mencabut senjatanya. Ia hanya melirik sekilas dengan mata menyala bagai bara api di balik topengnya. Tangan kirinya terangkat, membentuk cakar naga berlapis pendaran kuning tembaga yang pekat.
Clang!
Benturan keras itu menghasilkan percikan api yang menyilaukan mata. Arya merasakan getaran hebat menjalar dari pedang hingga ke seluruh tulang lengannya. Pedang pusaka warisan leluhurnya berderak patah menjadi tiga bagian. Tenaga dalam Iblis Emas menghantam dada Arya telak, membuatnya terpental jauh dan menghantam altar batu dengan suara benturan yang mengerikan.