Suara gemuruh mekanisme kuno menggema keras di dalam perut Candi Watu Ireng, menggetarkan lantai batu dan membuat debu-debu berjatuhan dari langit-langit ruangan. Di tengah kepulan asap sisa ledakan pintu gerbang, sosok Iblis Emas berdiri tegap di atas tumpukan reruntuhan. Jubah keemasannya berkibar diterpa angin malam yang berembus liar dari luar lorong, sementara senyum kemenangan terukir jelas di wajahnya yang kejam dan penuh ambisi.
Arka mengeratkan genggaman pada hulu pedangnya, berdiri melindungi Tera yang masih memegang tabung bambu berisi peta kain kuno. Di belakang mereka, Dimas dan Kirana bersiap siaga dengan kuda-kuda bertarung yang kokoh, menghadapi sisa-sisa pasukan bayaran yang mulai merangsek masuk ke dalam area pelataran altar utama.
"Kalian tidak akan pernah bisa membawa keluar Kitab Teratai Emas dari tempat ini, Arka!" seru Iblis Emas dengan suara menggelegar, memantul di dinding-dinding batu candi yang lembap. "Kitab itu milik mereka yang memiliki kekuatan sejati, bukan untuk pendekar-pendekar lemah seperti kalian!"
Arka menatap tajam ke arah pemimpin musuh itu tanpa sedikit pun rasa gentar di matanya. "Kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa banyak nyawa yang kau renggut atau seberapa besar ambisi kekuasaan yang kau miliki, Iblis Emas. Kitab itu adalah warisan leluhur untuk menjaga keseimbangan, bukan alat untuk menghancurkan dunia."
"Cih, ceramah moral yang membosankan!" balas Iblis Emas menyeringai sinis. Sebelum Arka sempat melangkah maju, tangan Iblis Emas dengan cepat menghujam ke arah dinding batu di sampingnya. Di sana, tertanam sebuah tuas raksasa berbentuk kepala naga berlapis emas murni.
Dengan sekali sentakan kuat disertai aliran tenaga dalam tingkat tinggi, Iblis Emas menarik tuas rahasia tersebut. Seketika itu juga, mekanisme tersembunyi di dalam candi bereaksi dengan suara berderit nyaring yang memekakkan telinga. Dinding-dinding batu candi yang tebal dan kokoh mulai bergeser dan berputar secara mekanis, memisahkan Arka dan Tera dari rombongan sahabatnya dalam hitungan detik.
"Arka! Tera!" teriak Dimas panik saat sebuah dinding batu besar tiba-tiba meluncur turun di antara mereka, memutus jalur penghubung secara total.
Kirana berusaha menerobos maju untuk menahan dinding yang bergerak, namun gerakannya terlalu lambat. Batu raksasa itu menutup rapat dengan bunyi dentuman berat yang memisahkan kedua kelompok pendekar tersebut ke dalam dua ruangan terisolasi yang berbeda.
Di ruang altar utama yang kini tertutup rapat dari dunia luar, Arka dan Tera mendapati diri mereka terkunci sendirian. Ruangan altar pun terisolasi penuh, hanya diterangi oleh pendar cahaya keemasan redup yang berasal langsung dari altar batu tempat Kitab Teratai Emas bersemayam. Suasana mendadak menjadi sangat senyap, menyisakan deru napas mereka berdua yang berkejaran di udara yang semakin menipis.
Tera segera berlari mendekati dinding batu pemisah, memukul-mukul permukaan batu yang dingin dengan telapak tangannya. "Dimas! Kirana! Kalian dengar suaraku?!" panggilnya dengan nada cemas, namun tidak ada jawaban selain gema suaranya sendiri yang terpental kembali.
Arka berjalan mendekati Tera, merangkul pundak wanita itu untuk menenangkannya. "Tenanglah, Tera. Memukul dinding itu tidak akan membuka jalannya. Kita harus mencari cara lain dari dalam ruangan ini."
Tera menoleh, menatap Arka dengan mata yang memancarkan kekhawatiran mendalam. "Kita terjebak, Arka. Iblis Emas sengaja memisahkan kita agar kita tidak bisa mendapatkan bantuan dari Dimas dan Kirana. Ruangan ini benar-benar tertutup rapat."
❖ ❖ ❖
Arka mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan altar yang sempit namun tinggi itu. Dinding-dindingnya dipenuhi oleh relief ukiran dewa-dewi kuno yang tampak hidup dalam temaram cahaya keemasan. Di hadapan mereka, altar batu putih masih berdiri kokoh dengan Kitab Teratai Emas yang terbaring tenang di atas permukaannya, seolah tidak peduli dengan kekacauan yang tengah terjadi di sekitarnya.
"Iblis Emas tahu persis apa yang dilakukannya," ucap Arka pelan, suaranya terdengar berat dan penuh pertimbangan. "Dia sengaja mengisolasi kita di sini agar kita kehabisan oksigen atau terjebak dalam jebakan lain yang telah disiapkan di ruangan ini."
Tera menarik napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan detak jantungnya yang berdegup kencang. Ia mengeluarkan sehelai kain dari sakunya untuk menyeka keringat di dahinya. "Kalau begitu, kita harus bergerak cepat, Arka. Udara di dalam ruangan tertutup ini rasanya semakin lama semakin terasa berat."
Arka mengangguk setuju. Ia melangkah mendekati altar batu, mengamati setiap celah dan ornamen di sekitar meja batu tersebut. Jari-jarinya meraba permukaan batu yang dingin, mencari apakah ada tombol atau mekanisme tersembunyi yang bisa digunakan untuk membatalkan jebakan putar yang baru saja diaktifkan oleh Iblis Emas.
"Apakah ada petunjuk di peta kain kita?" tanya Arka tanpa menoleh, konsentrasinya sepenuhnya tercurah pada pahatan relief di sisi altar.
Tera membuka kembali tabung bambu dan membentangkan peta kain tua di atas permukaan batu di sebelah altar. Dengan bantuan cahaya keemasan dari kitab, ia mengamati kembali setiap guratan aksara Jawa Kuno yang tertera di sana. "Sebentar... Peta ini tidak hanya menunjukkan jalan masuk candi, Arka. Di bagian sudut bawah, ada gambar denah ruang altar dengan tanda lingkaran bersusun."
"Artinya?" desak Arka, melirik sekilas ke arah Tera.
"Artinya, ruangan ini dirancang memiliki mekanisme ganda," jawab Tera dengan mata berbinar penuh pemahaman. "Untuk membuka kembali dinding batu pemisah, kita harus memutar piringan batu di lantai sesuai dengan urutan elemen alam yang tertera di peta: tanah, air, api, dan angin."
Arka berjongkok di samping Tera, mengamati lantai batu di hadapan altar. Benar saja, terdapat empat buah lingkaran batu dengan ukiran simbol elemen yang berbeda-beda, tersembunyi di bawah debu tebal yang baru saja tersapu oleh pergerakan dinding tadi.
"Tapi kita harus melakukannya secara bersamaan dan tepat," ujar Arka dengan nada serius. "Jika urutannya salah, mekanisme pertahanan candi bisa memicu perangkap panah beracun atau menjatuhkan langit-langit ruangan ini."
Tera mengangguk mantap, meletakkan tangannya di atas simbol air pada piringan batu sebelah kiri. "Aku siap, Arka. Katakan aba-aba darimu."
"Baiklah," kata Arka, meletakkan telapak tangannya di atas simbol tanah pada piringan batu sebelah kanan. "Tarik napas... kita mulai pada hitungan ketiga."
Suasana di dalam ruangan altar terasa begitu mencekam. Di luar dinding batu, samar-samar terdengar suara derap langkah kaki Iblis Emas yang tertawa mengejek, seolah menikmati keputusasaan yang tengah melanda para pendekar di dalam perangkap tersebut.
❖ ❖ ❖
"Satu... dua... tiga!" seru Arka memberikan aba-aba.
Secara serentak, Arka dan Tera memutar piringan batu di bawah kaki mereka dengan mengerahkan tenaga dalam yang terukur. Piringan batu itu bergeser perlahan dengan suara decitan berat yang memecah keheningan ruangan. Simbol tanah dan air berpendar memancarkan cahaya kebiruan dan kecokelatan, merespons aliran tenaga dalam yang disalurkan oleh kedua pendekar tersebut.
Namun, di tengah proses perputaran piringan batu, lantai di bawah mereka mendadak bergetar hebat. Dari dinding-dinding candi di sekitar mereka, terdengar suara klik mekanis yang tajam, disusul oleh munculnya puluhan lubang kecil yang mengarah tepat ke posisi mereka berdiri.