SERI 5: PENDEKAR TERATAI EMAS

Amrullah Ibrahim
Chapter #13

Keanggunan Selendang Teratai Putih

Udara di dalam ruang altar kuno itu terasa begitu pekat, seolah dipenuhi oleh kabut beracun yang sengaja ditebarkan untuk mencekik siapa saja yang bernapas di dalamnya. Dinding-dinding batu candi yang telah berusia ratusan tahun tampak basah oleh embun malam dan keringat dingin dari dua orang pendekar muda yang kini terpojok di sudut ruangan. Arka berdiri dengan napas tersengal, pedang di tangan kanannya bergetar hebat menahan sisa-sisa tenaga setelah melalui gelombang serangan sebelumnya. Di sampingnya, Tera berdiri anggun, meskipun wajah cantiknya sedikit pucat, sorot matanya menyiratkan keteguhan baja yang tidak mudah dipatahkan.

Di hadapan mereka berdua, berdirilah sosok Iblis Emas dengan jubah kebesarannya yang koyak di beberapa bagian. Jubah itu berkilauan memantulkan cahaya obor, namun memancarkan aura kegelapan yang sangat pekat. Senyum mengerikan terukir jelas di bibir pemimpin aliran hitam tersebut. Matanya menyala merah, dipenuhi oleh nafsu membunuh yang sudah di ambang batas. Kitab Teratai Emas yang berada di tangan kiri Iblis Emas memancarkan denyutan cahaya kuning kehitaman yang semakin lama semakin cepat, menandakan bahwa kekuatan penuh dari kitab pusaka itu hampir sepenuhnya berhasil diserap oleh tubuhnya.

"Kalian kira perlawanan kecil kalian ini mampu menghentikan takdirku?" suara Iblis Emas menggelegar, mengguncang debu-debu yang menempel di langit-langit altar. "Anak-anak bodoh dari perguruan murahan! Hari ini, di tempat suci ini, kubur kalian akan menjadi saksi kebangkitan ilmu tertinggi di muka bumi!"

Arka menggigit bibirnya hingga berdarah. Ia tahu betul bahwa jika mereka tidak segera mencari celah untuk menyerang, nyawa mereka berdua akan melayang dalam hitungan detik. "Tera, jangan biarkan dia fokus menyerap energi kitab itu lebih lama lagi. Kita harus menyerangnya secara bersamaan dari dua arah yang berbeda," bisik Arka dengan suara tertahan kepada gadis di sampingnya.

Tera mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari sosok musuh yang mengerikan di depan mereka. Kain selendang putih yang melingkar di bahunya mulai berkibar perlahan, ditiup oleh hawa tenaga dalam yang mulai ia alirkan ke seluruh tubuhnya. "Aku paham, Arka. Bersiaplah, aku akan membuka jalan untuk tusukan pedangmu," jawab Tera dengan suara tenang namun tegas.

Tanpa menunggu aba-aba lebih lama lagi, Iblis Emas tidak memberikan kesempatan bagi kedua pendekar muda itu untuk merencanakan strategi lebih matang. Dengan sebuah bentakan keras yang memecah keheningan malam, tubuhnya melesat bagaikan kilat menyambar ke depan. Kedua telapak tangannya diselimuti oleh kepulan asap hitam pekat yang berbau busuk, siap menghancurkan apa pun yang merintangi jalannya. Serangan itu ditujukan secara langsung untuk melumat Arka dan Tera sekaligus dalam satu jurus maut yang mematikan.

❖ ❖ ❖

Serangan kilat dari Iblis Emas datang begitu cepat, menciptakan desingan angin tajam yang menusuk kulit. Arka segera mengangkat pedangnya untuk menangkis, namun gelombang tenaga beracun yang mendahului hantaman tersebut sudah membuat dadanya terasa sesak dan pandangannya sedikit berkunang-kunang.

"Arka, miringkan tubuhmu ke kanan!" seru Tera dengan suara melengking tajam.

Mendengar teriakan itu, Arka secara insting menjatuhkan tubuhnya sambil menggulingkan diri ke samping. Tepat sepersekian detik kemudian, angin pukulan beracun milik Iblis Emas melesat lewat di atas kepalanya, menghantam dinding batu di belakang mereka hingga hancur berkeping-keping menjadi serpihan debu yang berhamburan.

Iblis Emas menyeringai lebar saat melihat serangannya meleset tipis. Sebelum Arka sempat bangkit sepenuhnya dari tanah, pemimpin Iblis Emas itu memutar tubuhnya di udara dan melayangkan tendangan maut yang mengarah langsung ke lambung Arka.

"Matilah kau, bocah!" geram Iblis Emas penuh kemenangan.

Namun, sebelum tendangan itu sempatmengenai sasaran, sebuah bayangan putih melesat anggun bagaikan kepakan sayap burung merpati putih di tengah badai. Tera bergerak melayang di udara dengan memanfaatkan kelenturan tubuhnya yang luar biasa. Ia memutar selendang putihnya dengan kecepatan tinggi, menciptakan lingkaran pelindung berbentuk kelopak bunga teratai suci yang memancarkan cahaya putih menyilaukan mata.

BARRR!

Benturan antara tendangan beracun Iblis Emas dan selendang teratai putih milik Tera menciptakan gelombang kejut yang sangat kuat. Ruangan altar bergetar hebat, membuat beberapa batu besar dari langit-langit runtuh berjatuhan di sekitar mereka. Tera terdorong mundur hingga tiga langkah ke belakang, sementara telapak tangannya terasa kebas akibat dahsyatnya tenaga dalam milik musuh.

"Keparat! Ilmu selendang murahan apa yang kau gunakan ini?" maki Iblis Emas dengan nada terkejut, karena serangannya yang terkenal mematikan itu berhasil ditahan oleh seorang gadis muda.

Tera mendarat dengan anggun di atas lantai batu, mengatur napasnya yang mulai sedikit memburu. Ia menatap tajam ke arah Iblis Emas tanpa menunjukkan rasa gentar sedikit pun di wajahnya. "Ini adalah Selendang Teratai Putih, ilmu warisan leluhur yang tidak akan pernah sudi tunduk pada kebejatan aliran hitam sepertimu!" jawab Tera dengan suara dingin yang memantul di seluruh sudut ruangan.

❖ ❖ ❖

Suasana di dalam ruang altar semakin menegang. Iblis Emas menarik napas dalam-dalam, mengalirkan seluruh sisa energi dari Kitab Teratai Emas ke dalam aliran darahnya. Pembuluh darah di leher dan wajahnya tampak menonjol ke permukaan, berubah warna menjadi kehitaman yang sangat mengerikan. Ia menyadari bahwa kedua anak muda di hadapannya memiliki potensi besar yang jika dibiarkan hidup akan menjadi duri dalam daging bagi rencana besar kekuasaannya di dunia persilatan.

Lihat selengkapnya