Malam semakin larut, menyelimuti kuil tua di atas puncak Gunung Seribu Kabut dengan keheningan yang mencekam. Di dalam ruang pemujaan utama yang luas dan beraroma dupa kuno, nyala lampu minyak berkedip-kedip lemah, memantulkan bayangan-bayangan panjang di dinding batu yang basah oleh embun. Di tengah ruangan yang sunyi itu, ketegangan terasa begitu pekat hingga seolah-olah dapat diiris dengan pisau. Suara deru angin malam yang menderu dari celah-celah jendela batu berpadu dengan detak jantung yang berpacu dalam dada.
Di balik sebuah pilar batu besar yang dihiasi ukiran relief naga, dua pasang mata mengawasi setiap gerak-gerik di dalam ruangan dengan penuh kewaspadaan. Arya dan Kinar merapatkan tubuh mereka ke dinding dingin, berusaha menyamarkan napas agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun. Mereka tahu betul siapa musuh yang sedang berdiri di hadapan altar utama saat ini. Sosok itu adalah Iblis Emas, seorang tokoh silat aliran sesat yang keji dan ditakuti karena ilmu keparatannya yang telah merenggut banyak nyawa pendekar lurus.
"Lihat apa yang dilakukannya di dekat altar itu, Kinar," bisik Arya sangat pelan, hampir tak terdengar di antara desau angin. Suaranya bergetar bukan karena takut, melainkan karena amarah yang tertahan di dalam dada.
Kinar menyipitkan mata, mempertajam penglihatannya menembus temaram cahaya lampu minyak. Di hadapan altar pemujaan yang megah itu, Iblis Emas berdiri tegap dengan jubah emas yang berkilamat memantulkan cahaya redup. Namun, bukan sosok sang iblis yang membuat Kinar tertegun, melainkan apa yang terpampang jelas di balik altar tersebut.
Kitab asli Teratai Emas rupanya terpahat pada dinding emas murni di belakang altar. Pahatan itu memancarkan kilau keemasan yang lembut namun memikat, membentuk ribuan aksara kuno dan gambar diagram tenaga dalam yang sangat rumit. Setiap garis dan lekukan aksara tersebut memancarkan energi magis yang luar biasa, seolah-olah lembaran dinding emas itu hidup dan bernapas, menyimpan rahasia ilmu kesaktian tertinggi yang telah hilang selama ratusan tahun dari persilatan daratan.
"Kitab itu... ternyata bukan berbentuk naskah kertas atau lembaran lontar," gumam Kinar dengan suara tertahan, rasa takjub terpancar jelas di wajahnya yang jelita namun tegang. "Para leluhur memahatnya langsung pada lempengan dinding emas murni sebagai warisan abadi."
Arya mengangguk pelan, jemarinya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia sangat memahami taruhan dari situasi ini. Kitab Teratai Emas adalah kunci untuk mengembalikan keseimbangan dunia persilatan yang kini berada di ambang kehancuran akibat kelaliman aliran sesat. Jika ilmu dalam kitab itu jatuh ke tangan yang salah, dampaknya akan sangat mengerikan bagi keselamatan jutaan rakyat jelata.
Namun, sebelum mereka sempat memikirkan cara untuk merebut atau menyelamatkan pusaka tersebut, sebuah pemandangan mengerikan terjadi di hadapan altar. Iblis Emas, dengan senyum seringai keji di bibirnya yang tipis, mengangkat tangan kanannya yang diselimuti kobaran tenaga dalam berwarna kuning kemerahan.
"Kau melihatnya, Arya? Makhluk keparat itu tidak berniat hanya untuk mempelajari kitab itu," bisik Kinar dengan nada penuh kecemasan yang mendalam, mencengkeram lengan baju Arya erat-erat.
Arya menatap tajam ke depan, dan jantungnya serasa berhenti berdetak sesaat ketika menyadari niat busuk sang musuh. Iblis Emas bermaksud menghancurkan dinding pahatan tersebut setelah menghafalnya agar tidak ada orang lain di dunia ini yang dapat menguasai kesaktian tersebut.
❖ ❖ ❖
"Keparat itu serakah dan licik!" geram Arya tertahan, urat-urat di lehernya menegang melihat gelagat Iblis Emas yang mulai memusatkan seluruh tenaga dalamnya ke telapak tangan kanan.
Di seberang ruangan, Iblis Emas mendongakkan kepalanya, tertawa kecil dengan suara parau yang menggema di seluruh sudut kuil. Tawanya terdengar begitu merendahkan, seolah mengejek seluruh pendekar di dunia yang selama ini memburu kitab pusaka tersebut sia-sia.
"Kitab Teratai Emas yang legendaris," suara Iblis Emas memecah keheningan malam dengan nada penuh kemenangan. "Selama puluhan tahun para tetua rimba persilatan mencarinya ke ujung dunia, mengira benda ini tersimpan dalam bentuk gulungan kertas berharga. Ternyata, para leluhur bodoh menyembunyikannya di tempat terbuka, terpahat indah di balik altar pemujaan ini."
Iblis Emas mengelus permukaan dinding emas murni itu dengan sebelah tangannya yang bebas, sementara matanya menatap tajam setiap baris aksara kuno yang berkilau. Otaknya yang cerdas namun sesat bekerja cepat, merekam setiap detail goresan, titik akupunktur tenaga dalam, dan diagram pernapasan yang terukir di sana ke dalam ingatannya yang tajam. Bagi seorang master silat tingkat tinggi, menghafalkan pahatan seluas itu dalam waktu singkat bukanlah hal yang mustahil.
"Setelah seluruh rahasia ilmu ini tersimpan sempurna di dalam kepalaku," lanjut Iblis Emas dengan senyum iblis yang semakin lebar, "tidak ada gunanya lagi benda ini dibiarkan tetap ada. Jika aku tidak bisa memilikinya secara utuh untuk selamanya sebagai satu-satunya pemilik, maka tidak boleh ada satu pun manusia di muka bumi ini yang bisa membaca atau mempelajari Kitab Teratai Emas lagi!"
Bum!
Hantaman tenaga dalam pertama dilepaskan secara setengah hati ke sudut kiri dinding emas, menimbulkan suara dentuman tumpul yang menggetarkan lantai batu tempat Arya dan Kinar bersembunyi. Serpihan kecil logam emas berhamburan ke lantai, disertai retakan halus yang mulai merayap di sepanjang pinggiran pahatan aksara kuno.
"Kita tidak boleh membiarkannya menghancurkan warisan itu, Arya!" bisik Kinar mendesak, pedang di pinggangnya sudah bergeser setengah keluar dari sarungnya, siap mendesing kapan saja.
"Tunggu sebentar, Kinar," jawab Arya cepat, menahan tangan Kinar agar tidak bertindak gegabah. "Jika kita menyerang sekarang, dia akan menggunakan seluruh kekuatannya untuk menghancurkan sisa dinding itu sekaligus. Kita harus mencari saat yang tepat ketika perhatiannya benar-benar teralihkan."
"Tapi lihat itu! Retakannya semakin lebar!" seru Kinar, menunjuk ke arah dinding emas yang kini mulai memperlihatkan garis-garis patahan yang cukup dalam akibat hantaman lanjutan dari sang iblis.
Iblis Emas tampak semakin bernafsu. Ia mulai mengerahkan tenaga dalam tahap kedua, memancarkan hawa panas keemasan yang membuat udara di sekitar altar mendesis hebat. Keringat mulai bercucuran di pelipis Iblis Emas, tanda bahwa ia sedang mengerahkan kapasitas mental yang sangat besar untuk menyerap seluruh isi kitab sekaligus bersiap memberikan pukulan pamungkas penghancur dinding.
Kondisi semakin kritis. Setiap detik yang berlalu membawa dinding pahatan itu semakin dekat pada kepunahan total. Arya tahu, ia harus segera mengambil keputusan sebelum semuanya terlambat.
❖ ❖ ❖
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Arya memberi isyarat tangan rahasia kepada Kinar. Dalam dunia persilatan, mereka telah sering melatih kerja sama tim, sehingga hanya dengan sebuah kedipan mata, Kinar langsung memahami apa yang harus dilakukan oleh rekan setianya itu.
"Aku akan mengalihkan perhatiannya dari arah depan, kau cari celah untuk melompat ke dekat altar dan menahan tangan kanannya," bisik Arya singkat, lalu tanpa suara ia melesat keluar dari balik pilar batu perlindungan mereka.