SERI 5: PENDEKAR TERATAI EMAS

Amrullah Ibrahim
Chapter #15

Rahasia Hawa Murni Matahari

Udara di dalam Gua Singgasana Kuning terasa sangat padat, dipenuhi oleh sisa-sisa tenaga dalam tingkat tinggi yang mengendap selama ratusan tahun. Arka duduk bersila di atas lempengan batu giok putih yang berada tepat di tengah-tengah ruangan pertapaan kuno tersebut. Di hadapannya, gulungan kitab pusaka Teratai Emas terbentang terbuka, memancarkan pendar keemasan yang menyilaukan mata setiap kali embusan angin malam masuk melalui celah-celah dinding gua.

"Bagaimana kondisimu, Arka?" suara Kiai Mahendra terdengar dari balik tirai batu, bernada rendah namun sarat dengan kekhawatiran yang mendalam. "Kitab itu telah memakan banyak korban dari generasi pendahulu karena tidak seorang pun mampu menyelaraskan energi panasnya dengan benar."

Arka menarik napas perlahan, mengatur ritme pernafasannya agar tetap selaras dengan detak jantungnya yang bergemuruh. "Aku baik-baik saja, Guru. Hanya saja... aku merasa aliran chi di dalam tubuhku seperti bergolak setiap kali aku mencoba menyerap inti sari dari tulisan emas di dalam kitab ini."

"Itu wajar," jawab Kiai Mahendra sambil melangkah mendekat, berdiri di tepi lempengan giok putih dengan tatapan mata awas. "Ilmu Teratai Emas bukanlah jurus kekerasan atau pembantaian. Kitab itu diciptakan oleh para leluhur bukan untuk menghancurkan musuh dengan membabi buta, melainkan untuk menguji kemurnian batin orang yang mempelajarinya. Jika niatmu masih dipenuhi amarah atau ambisi duniawi, energi itu akan berbalik membakar nadimu sendiri."

Arka mengangguk pelan, meresapi setiap kata yang diucapkan gurunya. Ia tahu persis taruhan dari pertapaan kali ini. Di luar gua, para pendekar dari perguruan sesat sedang bersiap menyerbu, mencari keberadaan kitab pusaka tersebut untuk kepentingan mereka sendiri. Waktu yang dimiliki Arka tidak banyak. Ia harus segera memahami inti sari ilmu tersebut sebelum musuh menemukan tempat persembunyian mereka.

"Aku bisa merasakan hawa panasnya mulai merambat ke dada kiriku, Guru," ucap Arka, suaranya sedikit bergetar ketika ia kembali memusatkan perhatian pada lembaran-lembaran kitab kuno itu. "Tetapi rasanya berbeda dengan ilmu api biasa. Ini terasa... hidup, seperti ada denyut nadi yang ikut berdetak di dalam tulisan emas itu."

"Itulah sebabnya kau harus memanggil kembali seluruh konsentrasimu," ujar Kiai Mahendra dengan nada yang lebih tegas namun menenangkan. "Ingat kembali inti dari jurus pamungkas yang kau miliki sebelumnya—Matahari Teratai Agung. Kedua ilmu ini memiliki akar yang sama, Arka. Keduanya lahir dari sumber cahaya yang tidak pernah padam."

Arka memejamkan matanya rapat-rapat. Ia melepaskan segala ketegangan, kecemasan, dan bayang-bayang ancaman musuh di luar sana. Di dalam kegelapan kelopak matanya yang tertutup, ia mulai membayangkan terbitnya matahari pagi yang hangat, menyinari bumi tanpa rasa benci, memberikan kehidupan tanpa pamrih.

"Kuncinya bukan pada seberapa besar tenaga dalam yang kau keluarkan," bisik Kiai Mahendra pelan, seolah menyatu dengan angin gua. "Tetapi pada seberapa murni hatimu menerima kehangatan itu."

Arka membuka kembali matanya. Kali ini, binar di dalam maniknya tampak jauh lebih tenang, memantulkan cahaya keemasan kitab pusaka dengan stabil, siap menghadapi ujian pertama dari rahasia terdalam ilmu Teratai Emas.

❖ ❖ ❖

"Fokuskan pikiranmu pada titik Dantian di bawah pusar," instruksi Kiai Mahendra, tangannya terulur memberikan isyarat agar Arka tidak terburu-buru menyerap seluruh energi sekaligus. "Jangan tergiur oleh besarnya tenaga dalam yang ditawarkan kitab itu. Jika kau menyedotnya terlalu cepat, saluran meridianmu akan pecah."

Arka mengangguk tanpa membuka mata. Ia merasakan aliran hawa panas yang tadinya terasa liar kini mulai melambat, berputar lembut mengikuti arah peredaran darah di dalam tubuhnya. Namun, ujian sesungguhnya baru saja dimulai ketika simbol-simbol emas pada lembaran kitab mendadak terangkat ke udara, berputar membentuk lingkaran cahaya yang menyilaukan di sekeliling tubuhnya.

"Guru, simbol-simbol itu... mereka bergerak sendiri!" seru Arka, napasnya mulai sedikit memburu karena tekanan gravitasi tenaga dalam yang mendadak meningkat drastis di dalam ruangan tersebut.

"Itu adalah ujian mental!" sahut Kiai Mahendra dengan suara yang dinaikkan agar terdengar jelas di tengah dengungan energi yang semakin memekakkan telinga. "Kitab itu sedang membaca isi hatimu, Arka! Ia mencari keraguan, ketakutan, atau niat tersembunyi di dalam jiwamu. Jangan biarkan pikiranmu dikendalikan oleh bayangan masa lalu!"

Bayangan-bayangan masa kecil yang penuh perjuangan, kekalahan-kekalahan pahit dalam pertarungan sebelumnya, serta rasa bersalah karena belum mampu melindungi orang-orang terdekatnya tiba-tiba berkelebat di dalam benaknya. Emosi negatif itu mendadak memicu reaksi balik dari energi kitab. Hawa panas yang tadinya terasa hangat dan menenangkan kini berubah menjadi gelombang api yang membakar kulitnya dari dalam.

"Argh!" Arka mengerang tertahan, kedua tangannya mencengkeram erat lempengan batu giok di bawahnya hingga buku-buku jarinya memutih. Keringat deras bercucuran dari pelipisnya, menguap seketika sebelum sempat menetes ke lantai akibat suhu tinggi di sekitar tubuhnya.

"Tahan, Arka! Jangan biarkan amarah menguasaimu!" teriak Kiai Mahendra, tampak cemas namun tidak bisa membantu secara langsung karena intervensi fisik justru akan menghancurkan proses penyelarasan chi tersebut. "Ingat kembali tujuanmu mempelajari ilmu ini! Bukan untuk balas dendam, bukan pula untuk kekuasaan!"

Arka menggertakkan giginya, menahan rasa sakit luar biasa yang seolah merobek-robek serat otot di sekujur tubuhnya. Di tengah deru angin panas yang berputar kencang, ia mencoba membuang jauh-jauh segala bentuk kebencian dan rasa penasaran yang bernada serakah. Ia menyadari sepenuhnya bahwa semakin ia ingin menguasai kitab itu dengan paksa, semakin besar pula penolakan yang ia terima dari energi leluhur di dalamnya.

"Aku... aku tidak berniat menguasainya untuk menghancurkan siapa pun," bisik Arka di sela-sela napasnya yang tersengal-sengal. "Aku hanya ingin melindungi mereka yang tidak berdaya..."

Seketika itu juga, gelombang rasa panas yang tadinya terasa seperti lahar membara mulai melunak. Warna keemasan di sekelilingnya yang tadinya tampak kemerahan dan garang perlahan-lahan berubah menjadi warna kuning keemasan yang lembut, menyerupai pancaran sinar matahari pagi yang menembus embun pagi di pegunungan.

❖ ❖ ❖

Perubahan warna energi tersebut menandakan bahwa Arka berhasil melewati fase penolakan pertama, namun rintangan yang lebih berat kini menanti di tengah proses penyelarasan. Simbol-simbol emas yang tadinya berputar liar di udara kini turun perlahan, meresap langsung melalui pori-pori kulit di kedua telapak tangan Arka yang terbuka ke atas.

"Konsentrasikan energimu ke dada," perintah Kiai Mahendra, melihat cucuran keringat di wajah Arka yang mulai berubah menjadi uap tipis. "Pertemukan hawa murni dari kitab itu dengan inti tenaga dalam Matahari Teratai Agung yang sudah ada di dalam tubuhmu. Jangan biarkan keduanya saling bertarung."

Lihat selengkapnya