SERI 5: PENDEKAR TERATAI EMAS

Amrullah Ibrahim
Chapter #16

Pertumpahan Darah di Pelataran Candi

Pelataran Candi Agung diselimuti oleh kabut darah yang mengepul tebal dari celah-celah retakan tanah purba. Suasana malam itu terasa sangat mencekam, seolah langit sendiri ikut berduka atas apa yang akan terjadi di tempat sakral tersebut. Di hadapan gerbang altar utama, Galin berdiri dengan napas memburu dan otot-otot lengannya yang menegang luar biasa. Di sampingnya, Fathan memegang palu besar berat berukirkan lambang leluhur yang berpendar samar dalam kegelapan.

"Apakah kalian sudah siap?" tanya Galin dengan suara berat, matanya menatap tajam ke arah dinding batu raksasa yang menghalangi jalan menuju ruang altar terdalam.

"Jangan banyak bicara, Galin. Hantam sekarang sebelum para tetua iblis itu menyadari kehadiran kita di sini," jawab Fathan tegas, menyiapkan kuda-kuda yang kokoh untuk mengerahkan seluruh sisa tenaga dalamnya.

Tanpa menunggu aba-aba lebih lama, Galin dan Fathan menerjang maju secara serentak. Hantaman palu Fathan berpadu dengan pukulan tenaga dalam Galin yang menghantam dinding batu kuno tersebut dengan kekuatan penuh. Suara dentuman dahsyat menggema hingga menggetarkan seluruh kompleks candi, memecah kesunyian malam yang pekat.

Bum!

Dinding batu yang telah berdiri kokoh selama ribuan tahun itu akhirnya tidak mampu menahan tekanan luar biasa. Retakan besar menjalar seperti jaring laba-laba dalam hitungan detik, sebelum akhirnya runtuh berkeping-keping menjadi debu dan bebatuan besar. Jalur menuju ruang altar utama kini terbuka lebar, memancarkan cahaya keunguan yang misterius dan menyesakkan dada dari dalam ruangan.

Di belakang mereka, enam sahabat lainnya—Arka, Maya, Rian, Siska, Dimas, dan Laras—langsung merangsek maju dengan senjata terhunus. Begitu dinding batu berhasil dihancurkan, seluruh sahabat Arka melangkah masuk secara bersamaan ke dalam ruang altar yang luas. Ruangan itu dikelilingi oleh pilar-pilar batu hitam legam dengan ukiran makhluk mitologi yang tampak hidup di bawah temaram cahaya obor abadi.

Namun, langkah mereka langsung terhenti. Di ujung altar, berdiri sosok-sosok mengerikan yang memancarkan aura kegelapan pekat. Para tetua iblis yang tersisa—tujuh makhluk purba dengan mata menyala dan taring tajam—menunggu kedatangan mereka dengan senyum seringai yang mengerikan. Pertarungan kolosal antara delapan sahabat melawan para penguasa kegelapan itu kini tidak dapat dielakkan lagi.

❖ ❖ ❖

Udara di dalam ruang altar mendadak berubah menjadi dingin yang membekukan tulang. Para tetua iblis tidak langsung menyerang; mereka berdiri megah di atas singgasana batu, menatap delapan sahabat dengan pandangan merendahkan seolah-olah melihat serangga kecil yang tersesat di sarang singa.

"Kalian berani sekali menginjakkan kaki di tempat suci ini, manusia-manusia bodoh," suara berat dan bergemuruh keluar secara bersamaan dari para tetua iblis, menciptakan gema yang menusuk gendang telinga.

Arka melangkah maju ke garis depan, memegang pedang pusakanya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Kami datang untuk mengakhiri teror kalian, bukan untuk mendengarkan omong kosong! Kembalikan kedamaian tanah ini atau hancur di tangan kami!" teriak Arka penuh wibawa.

Tawa menggelegar meledak dari pemimpin para tetua iblis. "Akhiri kami? Kalian bahkan belum menginjakkan kaki di lantai darah altar ini!"

Tanpa aba-aba lebih lanjut, pertempuran pecah dalam sekejap mata. Para tetua iblis bergerak dengan kecepatan yang melampaui nalar manusia. Salah satu tetua berwujud bayangan hitam melesat lurus ke arah Maya dan Rian yang berdiri di sisi kiri ruangan. Cakar tajamnya terayun bebas, membelah udara dengan suara desingan yang nyaring.

Maya dengan sigap melompat mundur sambil menarik tangan Rian. "Hati-hati, Rian! Serangan mereka tidak memiliki pola yang jelas!" teriak Maya memperingatkan.

Rian mendengus, memutar tombak peraknya membentuk lingkaran pertahanan yang berputar cepat. "Biar kutahan serangannya, Maya! Cari celah kelemahan di bawah kakinya!" seru Rian, menahan hantaman cakar iblis tersebut dengan gagang tombaknya hingga percikan api berhamburan di lantai batu.

Di sisi lain ruangan, Siska dan Dimas harus menghadapi dua tetua iblis sekaligus yang menggunakan sihir kegelapan berbentuk cambuk api hitam. Setiap ayunan cambuk itu membakar lantai dan dinding batu, meninggalkan bekas hangus yang mengepulkan asap hitam pekat.

"Panas sekali! Sihir mereka luar biasa kuat!" seru Dimas sambil berguling menghindari cambuk api yang menyambar nyaris mengenai rambutnya.

"Jangan biarkan mereka memegang kendali area ini, Dimas! Gunakan perisai anginmu sekarang!" perintah Siska dengan napas tersengal-sengal, mengarahkan kipas baja bertuliskan mantra pertahanan ke arah musuh.

Pertempuran di dalam ruang altar semakin sengit. Benturan senjata, teriakan penuh semangat, dan deru sihir kegelapan berpadu menjadi satu, mengubah tempat sakral itu menjadi lautan kekacauan yang mengerikan.

❖ ❖ ❖

Pertarungan kolosal itu kian mendekati titik didihnya. Darah mulai menetes di atas lantai batu pelataran candi, berasal dari luka-luka goresan senjata iblis yang mengenai tubuh para sahabat Arka. Meskipun kelelahan mulai mendera fisik mereka, tidak ada satupun dari delapan sahabat itu yang menunjukkan tanda-tanda ingin menyerah.

Laras dan Fathan berdiri berdampingan di tengah ruangan, dikepung oleh tiga tetua iblis yang mencoba memotong jalur komunikasi dan pertahanan kelompok mereka. Laras merapal mantra penyembuhan singkat untuk memulihkan lengan Rian yang terluka tadi, sementara Fathan mengayunkan palu besarnya untuk menghalau serangan susulan dari musuh.

Lihat selengkapnya